Minggu, 29 Juni 2014

FESTIVAL BUKU INDONESIA: MARI NGRASANI BUKU


Festival Buku Indonesia
(Gambar: Pinjam dari Sini)
Bila Jerman punya The Frankfurt Book Fair (FBF) atau Frankfurter Buchmesse dalam Bahasa Jerman-nya, maka Yogyakarta yang berkilometer jauhnya tak mau kalah. Bila negaranya Ratu Elizabeth saja bisa mengadakan The London Book Fair, Yogyakarta ya isa nganakake. Tak sekadar omong kosong, festival buku yang diadakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY dan IKAPI DIY adalah buktinya. Terhitung sejak tanggal 25 Juni 2014 hingga 3 Juli 2014 nanti, Festival Buku Indonesia digelar di Balai Shinta, Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Jalan Laksda Adisucipto 88 Sleman, Yogyakarta mulai jam 09.00-21.00. HTM-nya? Gratis!

Jumat, 25 April 2014

Jikalau Pelangi Tak Indah Lagi

Nak, jikalau pelangi tak indah lagi; berganti hitam, putih, bahkan kelabu, 
apa yang akan terjadi padamu? 
Pun, apa yang akan kaulakukan?

Nak, bila muram adalah diam, dan diam berarti sunyi. 
Akankah wajahmu tak lagi warna dan warni?

Nak, melihat tawamu, polah lincah tingkahmu, pikiran tak berbeban, 
aku kembali teringat akan diriku yang dulu.

Nikmati masa kecilmu. Bermainlah, tertawalah riang, berbahagialah. Semua tak ‘kan terulang sekalipun kau memiliki kehidupan serbabahagia. Seperti diriku kini, kadang aku ingin menghadirkan masa kecilku dalam dewasaku. Aku ingin bermain, tertawa terbahak-bahak, berkelahi kemudian berbaikan kembali. Tak memikirkan betapa rumitnya hidup ini. 

Nak, kau masih punya waktu. Tak banyak, memang, karena waktu tak suka mengajakmu berjalan pelan. Manfaatkan sebaik mungkin hingga kau terlepas menjadi sosok remaja dan dewasa. Sekali kau kehilangan masa kecilmu, itu tak kan terulang lagi. 

Jangan sampai di masa dewasamu, masa tuamu, engkau seperti diriku. Menyesal tidak akan membuat waktu berbaik hati mengembalikan yang terlewat. Yang bisa kulakukan kini adalah melakukan yang terbaik sebisaku, dengan sisa-sisa kesempatan yang dimiliki agar tiada pernah berucap kata menyesal hingga nanti menutup mata untuk selama-lamanya.

Selesai ditulis di Yogyakarta, Jumat Agung, 18 April 2014


Rabu, 16 April 2014

THE BAY: CINTA YANG KEMBALI


Oleh: Ratri Puspita
Senja merayap gelap ketika kakiku melangkah di jembatan kayu pembelah kolam renang. Disadari atau tidak, tiap kali berdiri di atas jembatan–di manapun, dengan pandangan bebas luas seperti ini, menjadi saat paling pas melepas segala rupa yang buatku lelah. Dari atas jembatan, tampak pantai sejauh mata memandang. Sebaran pepohonan hijau berbatang ramping ditambah udara segar yang bebas dihirup jadikanku tak ingin beranjak dan memilih menikmati hamparan wajah surga yang tak segan memamerkan kemolekannya. Menyambut siapa pun yang datang dan ingin berkelana di tengah alam tropis Bali. 
Bagian bawah bajuku bergoyang-goyang seirama semilir angin. Napasku menyesak sendu. Tersengal. Memoriku bergulung ke masa silam, mengembalikan ingatan bahwa dahulu aku pernah menikmati masa-masa indah bersama seseorang yang berhasil mencuri hatiku. Sekadar intermezzo, indah, tetapi meninggalkan sengit yang pahit.

Senin, 03 Maret 2014

Lagi Liburan

“Apakah sepatu hitam itu masih dipakai?”

Tersentak aku mendengar seluncur lisan dari bibir tuamu. Jantungku terperenyak.

Sontak, batin koyak.

Tentu saja! 

Biarpun berselimut debu dan dihuni laba-laba beserta jejaringnya, sepatu itu hanya sementara berada tempatnya biasa berada. Ia tengah liburan panjang sebelum kuajak menempuh suatu perjalanan. Bagiku.


Tercenung memikirkan ucapanmu. Takpernah kukira kau akan berkata demikian terhadapku. Kauanggap aku telah mengakhiri perjuangan ini?

 

“Belum,” kukatakan padamu.
Aku masih ingin melanjutkan langkah, sekalipun di gelaran jalanan maha luas aku berkali terseok. Sekalipun lututku beradu dengan tanah bahkan terjebak lumpur pekat. Sekalipun menitik air mataku hingga menguap tiada berbekas dalam hening.

Aku tak peduli! Nyawaku masih ada. Nadiku teraba. Dan ragaku hangat dijumpa. Itu artinya aku masih berjuang untuk meraih segala yang kuimpikan!

Semua yang telah terjadi tetap tidak akan menyurutkan tekadku untuk meraih mimpi.
Usia sekadar angka belaka. Aku ingin bersinergi dengan alam agar capaianku sempurna dan diamini. Sekalipun bersebarangan dengan segala yang terpatri di dalam benakmu, aku ‘kan terus melangkahkan kedua kakiku.

Kuyakini jalanku. Kutamatkan hingga perhentian akhir. Bukan di persimpangan.


Yogyakarta, Maret 2014
Ratri

Sabtu, 01 Maret 2014

Untukmu, Lelaki yang Kuhormati

Kamu, lelaki yang kuhormati,
awal tahun yang indah untuk memulai rangkaian aksara ini, meski mendung dan hujan tengah berselera mewarnai hari. Apa kabarmu di sana? Semoga dikau tetap berada dalam lindungan sang pencipta sehingga kesehatan, kesuksesan, dan kelancaran dalam menempuh studi dapat kaumiliki seutuhnya.

Liburan Natal kemarin kamu pulang kampung ya? Tak sekadar tebak-tebak buah manggis, mudah saja bagiku untuk mengetahuinya. Eit, jangan pernah berpikir aku memiliki kekuatan klenik ya. Bukan. Adalah gelombang cinta yang menyampaikan kabar itu kepadaku.

Kau pasti bahagia telah bertemu dan berkumpul dengan keluargamu. Ayah, ibu, kakak, dan anggota keluarga lainnya. Merayakan Natal dan Tahun Baru bersama dalam suasana yang serbagembira. Di sini, di tempatku berada, aku bisa merasakan bahagiamu setelah lama tiada sua lantaran terpisah jarak yang teramat jauh. Ya, biarpun aku belum pernah menjadi manusia rantau, tetapi aku bisa mengambil sekelumit bagian dari sang perantau, yakni tak bisa bertemu muka saban hari dengan orang-orang terkasih, yang hanya ditemui ketika berada di rumah.

Semoga, kebersamaan kemarin mampu menjadi penyemangat bagimu untuk memberi kebaikan kepada seluruh keluargamu, terutama ayah dan ibu. Tanpa mereka bercerita kepadaku, aku tahu, sangat tahu, jika mereka bangga terhadapmu. Putra bungsu yang bermasadepan gemilang.

Masa depanmu telah kentara. Kesuksesan di depan mata. Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Aku bangga kepadamu, sama seperti kedua orang tuamu. Kelak, ketika kita bertemu (aku tak tahu kapan), kita akan berdiri bersisian dengan senyum terkembang karena kita telah menjadi manusia yang tak sekadar gemar berceloteh tentang mimpi.

Hari ini kita menabur mimpi, esok hari kita menuai hasilnya. Mari kita amini.

Salam hormatku,
Ratri



Surat Sahabat

Sahabat,
  
kita sama-sama tahu bila persahabatan ini tak terjalin mulus adanya. Ketika satu demi satu dari kita menjauh perlahan, bukan lantaran pertikaian, melainkan demi asa yang kuat tergenggam di angan. Maklum pun menjadi jawabnya.

Jangan ditanya kesedihanku...


Aku tak bisa meminta kalian berhenti demi terus menemaniku di sini, bersama di tempat biasa kita bersua. Yang bisa kulakukan hanyalah… tetap berdiri tegak, memandang wajah-wajah muda itu berganti punggung. Hingga sampailah waktu menenggelamkan kalian dari hadapku.

 
Kukirim semangat, kubentangkan keyakinan, kukibarkan harapan bahwa esok hari kita masih bisa bertemu kembali. Bersama: tertawa riang, bercanda ceria, saling melempar gurau, pamer cita yang tlah berganti nyata dengan penuh rasa bangga menyeruak di antara.
 

Sahabatku sayang, sebentuk cinta kuterbangkan ke mana pun kalian berada. Kuharap, dalam ketidaksempurnaan diriku, kalian masih menyimpan sosokku di dasar laut hatimu, mengingat namaku di kedalaman pikirmu.
 
Tetaplah menjadi diri kalian masing-masing seutuhnya. Jangan pernah berpikir menjadi yang lain demi obsesi semu. Lantangkan mimpimu hingga langit lapis ke tujuh! Rengkuh erat! Nyatakan! Jangan pernah langkahmu terhenti barang sesaat.
 

Suatu hari nanti, kalian pasti akan kembali... 
Rentangan kedua tanganku dan pijar senyumku ‘kan menyambut kalian ‘pabila pulang…

Xoxo,
Ratri



 That's What Friends are for by Dionne Warwick
Video: Pinjam dari Sini

Sabtu, 22 Februari 2014

Terima Kasih Telah Hadir di Mimpiku

Doaku sebelum menutup mata
adalah:
                Tuhan, izinkan aku bertemu dengannya
                Sekali pun bukan fisik nyata yang ‘kan kutemui
                Aku mau
                Karna ‘ku menginginkannya
Dan aku pun terlelap
Setelah doa malam sempurna terucap

Di awang-awang, aku menanti doaku terjawab
Aku ingin mimpi indah
Lelah bergumul dengan malam-malam bermimpi seram
Sekali saja, begitu pintaku

Perjalananku di belantara mimpi dimulai
Bagaikan adegan di alam film
Nyata kulihat itu dirimu
Yang hanya mampu kubenamkan dalam benak

Ya! Itu kamu!
Yang kutunggu
Begitu dekat dirimu
Begitu lekat dengan cumbu

Sosokmu begitu nyata
Kau, raga yang kukenal, jiwa yang kukenang
Terima kasih telah hadir di mimpiku
Terima kasih tlah kabulkan inginku
Ku tahu kau baik untukku

Agustus 9, 2013
Lebaran 1434 H

Juang, Berjalanlah Bersamaku

Juang, ‘ku mengenalmu
Juang, kau sobat karibku
Bersamamu, aku tiada kehilangan soal rasa
Ditangkup sepuluh jemarimu, hangat teraba
Meluak luka, menangkis tangis

Juang, lihat aku! Lihat ke dalamnya diriku!
Di sini… meruntih perih!
‘Ku dilibas nasib!
Mereka melututkanku atas nama takluk!


Juang, janganlah katakan kita bergantung pada ketakpastian
               kumohon…
Teruslah berjalan… maju!
Hidup masih setengah langkah
‘Kan berhenti bila kita mati

Yogyakarta, September 2013

Kepada Bapaku

Aku memang bukan anakMu yang patuh. Taat beriman lagi percaya utuh
Aku hanya bisa meminta, merajuk manja, memaksa jika inginku tak segera dipenuhi
Komat-kamit siang dan malam merapal doa sementara angan liar mengembara

Aku, anakMu yang hilang. Bermain jauh, terkena pengaruh
Tapi, aku masih ingat kok padaMu. NamaMu masih ada di dalam hatiku
Mulutku masih pintar mengeja namaMu

Saat jatuh, baru ‘ku teringat akan Dikau. Hanya sesaat, kemudian lupa sangat
Ketika ‘ku butuh, kuhanyutkan diriku dalam lantun doa semi khusyuk
Melisankan larik demi larik, bait demi bait, dengan penuh kehati-hatian disertai derai air mata mengiba

Kala satu inginku yang penting sekali belum dikabulkan, kembali kubertanya?
Adakah yang salah dengan pintaku? Adakah yang salah dengan komposisi doa itu?
Atau, adakah persyaratan yang belum sepenuhnya kupenuhi? Apa lagi? Katakan…

Tunggulah waktuKu…

Kapan? Waktu yang mana? Waktu yang lekas berjalan maju?
Oh, aku takmampu menghentikannya barang sedetik pun
Untuk sekadar menitip doa berbalas mujizat

Berdoalah…
(Ucapkan permohonanmu)


Ratri
Agustus 2013

Rabu, 19 Februari 2014

Hatiku Menyenandungkan Sebuah Nama

Geletar hati bangkitkan senyawa dua rasa: perih dan rindu
Kembang yang tertidur pulas terjaga perlahan

Tatkala sang pujaan menyapa dalam senyap malam nan gulita
Hadir tiada berbilang kata

Nada-nada cinta tersenandung dari gumam hati yang kelu
Meski semu kupanggil namamu
Kurayu sang waktu agar buat kita bersatu
Sekuat keyakinanku sedalam lautan doaku

Mencintaimu… bersinonim dengan menunggumu
Datang dan berlalu, luluh, direnggut pilu
Namun ‘ku masih di sini setia menunggu
Karna ‘ku tahu kau baik untukku

Ratri Puspita
Yogyakarta, Februari 2014


Rabu, 08 Mei 2013

Dove Sisterhood Yogyakarta: Ulik Definisi Cantik

Hari Minggu biasanya diisi dengan kegiatan apa, sih? Malas-malasan di rumah? Bersih-bersih rumah? Jalan-jalan ke mall bareng keluarga, teman or pacar? Atau nonton film kesukaan di bioskop? Tahu nggak, kalau Minggu, 5 Mei 2013 kemarin ada acara seru? Namanya Sisterhood. Beruntung banget, loh, Yogyakarta menjadi salah satu kota yang dikunjungi oleh tim Dove dan Cosmopolitan sehingga perempuan Yogyakarta bisa menimba ilmu dari para nara sumber yang inspiratif sekaligus seru-seruan bareng.

Sisterhood Dove-Cosmopolitan mengajak para peserta mengikuti talk show inspiratif dan hair show bersama hair expert. Tidak hanya 2 acara itu saja, peserta yang kebanyakan perempuan smart and gaul dari berbagai tingkatan usia dan latar belakang ini juga diberi kesempatan untuk cek rambut gratis… tis…tis… terus photo booth sepuas-puasnya… senarsis-narsisnya… seheboh-hebohnya untuk kemudian diupload ke socmed dan diikutkan photo booth contest. Tersedia hadiah bagi yang beruntung.

Selasa, 30 April 2013

STREET FOOD: KISAH KULINER JALANAN



Interaksi yang terjalin 

Siapa, sih, yang nggak suka jajan di pinggir jalan? Menikmati makanan murah meriah sambil duduk-duduk santai, ngobrol ngalor-ngidul dengan penampilan yang jauh dari kata jaim alias jaga image: celana pendek, T-shirt, plus sandal jepit. Ya, street food tidak pernah menuntut penampilan necis tiap individu tatkala berinteraksi dengannya. Mau tampil rapi, ayo. Mau acak-acakan, mangga. Yang penting, chemistry terbangun lewat suapan makanan.

Budaya makanan pinggir jalan tersebar di berbagai negara di dunia. Masing-masing negara mengusung makanan yang berciri khas setempat. Tengoklah jajanan kaki lima di Korea Selatan, Jepang, China, Turki, Maroko, Prancis, Thailand, maupun Singapura. Mereka membangun kerajaan kuliner yang menjanjikan kenyam-nyaman bagi siapa pun.



Aneka Pilihan Street Food
Sumber: http://www.femina.co.id/support/image.others/01/1252/imageBlog

Nggak usah jauh-jauh ke negeri seberang, kita dapat menemukan street food di Yogyakarta. “Kota Gudeg” ini mengoleksi makanan pinggir jalan yang bervariasi. Mulai makanan klasik, peranakan hingga kreasi baru yang dibuat guna meramaikan jagad kuliner jalanan. Merangsek memengaruhi lidah masa kini dan bersanding dengan jajanan lawas yang telah memiliki penikmat setia. 


Minggu, 28 April 2013

Mengayun Langkah Bersamamu

Dilahirkan sebagai seorang perempuan membuat saya merasa amat sangat beruntung karena bisa merasakan pengalaman mengeksplorasi aneka woman footwear. Jenis yang bervariasi mulai dari kitten heels, moccasin, peep toe, platform, pump, sling back, stiletto, wedges, oxford, mary jane, ballerina, sneaker, hingga boot ditambah model yang terus berkembang turut membuka kesempatan sekaligus memancing kreativitas si pemakai.


“I Love being a Woman. I Like Dressing up; I Love Buying Shoes.”
Carly Fiorina
Pengalaman hunting footwear seringkali meninggalkan kesan sensasional dan menantang. Untuk menemukan sepasang sepatu yang enak dipakai misalnya, perlu extra time untuk ngubek-ubek toko sepatu, dari yang berlokasi di pinggir jalan sampai gerai di mall. Untuk ritual yang satu ini, saya memilih untuk hunting sendiri tanpa mengajak siapa pun. Alasannya? Biar nggak diganggu orang-orang yang justru bikin mood saya turun ke level paling dasar.

Minggu, 31 Maret 2013

Love Letter to You, Called: Boyfriend?

Belum juga bertanya, aku telah menemukan jawab atas pertanyaan tersebut. Gimana sih rasanya kangen sama seseorang yang jauhhhh di luar sana, yang nggak jelas statusnya, CINTA MATI #catet itu! BUT yang dikangenin nggak ngerasa sama sekali, hanya menganggap kita kawannya yang baik banget, punya pundak gratis yang siap dibagi kapan pun (24/7 kalee), dan siap jadi tong sampah tempat memuntahkan segala rupa uneg-uneg yang mungkin kita pun eneg dengernya lantaran re-play mulu #misuh-misuh. Risiko, dah!

Kali ini, yang namanya kangen yang membuncah, terjadi padaku. Aku yang biasanya bisa menguasai perasaan hatiku lama-lama dibikin nyesek juga. Pengin teriak tapi takut disangka orang gila. Pengen ngaku, ngaku sama siapa? Pengin bilang cinta? Kok sasaran tembaknya masih abu-abu gitu. Well, jadilah saya seorang yang galau memendam rindu. Oh, nikmatnya dunia!

Aku pun merasakan apa yang dirasakan sama tetangga, yang berdasar status Facebooknya, dia galau, kangen berat sama yayangnya (oops, ketahuan keponya) sampai sakit (nggak tahu juga sih sebenernya, sakitnya karena memendam rindu atau karena faktor lain hehehe). Tapi, paling nggak, aku bisa menyimpulkan: “Oh, begini, ya, rasanya ngampet kangen.” Yaa, begitulah, pada akhirnya, manusia yang satu ini mencapai batas kekuatannya menahan rindu. Untunglah, side effectnya nggak sampai segitunya. Karena aku bertemankan logika!


Kamis, 14 Maret 2013

12-5

"What Keeps Me Going is Goals"
Muhammad Ali
Takkusangka peristiwa hari ini menyeruak begitu saja, menyesak lintasan kehidupan yang dibangun nyaris 3 dasawarsa. Kaget. Mengapa aku bisa melakukannya. Kejadian yang dulu, saat ‘ku kecil, beranjak remaja, bahkan mula pertama bersalin sebagai seorang dewasa tak pernah terpikir sedikit pun. Dan, hari ini, pena sejarah menggores keras pada kertas hidupku. Dengan mangsi hitam nan pekat. Menyurat kisah yang bagi orang lain mungkin biasa tapi bagiku luar biasa. Hidup yang sebelumnya berjalan mulus, perlahan berubah seiring berputarnya roda kehidupan. Membuatku yang tiada berbekal berpikir sekreatif mungkin guna bisa bertahan. Demi cita-cita ‘kan menjelma. Hasilnya adalah: 12-5

Semalam. Bukan malam yang menyenangkan. Bukan pula hal yang bersifat tiba-tiba jika aku berencana di tengah kekalutan yang mendera. Ya, UANG, membuat seorang aku berpikir sampai ke titik ini. Merombengkan lembar-demi-lembar pakaian yang telah menutupi tubuhku demi sebuah kehormatan dan pemenuhan asas kemanusiaan. Pakaian yang telah melengkapi penampilanku hingga layak berkelana di dunia luar.