Rabu, 06 Januari 2021

Natal dan Tahun Baru: Sebuah Catatan

  


Hari-hari sekitar Natal, cukup banyak di antara kita atau teman-teman Katolik yang sibuk berbalas ucapan selamat Natal. Bentuk dan isi ucapan “Selamat Natal” direka beraneka ragam: ada yang mengirimkan dengan foto keluarga yang disertai ucapan, ada yang cukup mengirim stiker gambar-gambar bernuansa Natal, ada pula yang mengirim video, ada yang cuma mengucapkan “Selamat Natal”, ada yang mengucap selamat Natal diimbuhi aneka kalimat harapan, ada pula yang komplet merangkai ucapan “Selamat Natal” dengan “Selamat Tahun Baru”.

Natal dan tahun baru hampir tidak dapat dipisahkan, karena jaraknya yang berdekatan. Banyak orang yang merangkaikan keduanya. Terasa menggelitik, karena Natal dan tahun baru bukan sepaket perayaan. Namun, karena hanya berjarak satu minggu dan berada di ujung tahun, ucapan “Selamat Natal” digabung dengan “Selamat Tahun Baru”.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda memaknai Natal dan tahun baru serta menimba inspirasi dari kedua perayaan yang kadung dipasangkan tersebut. Kita dapat melihat bahwa walaupun berbeda, Natal dan tahun baru sama-sama menekankan dua kata kunci: ‘baru’ dan ‘harapan’.

Natal tahun 2020 menyisakan kesan hangat di hati. Saya menerima ucapan “Selamat Natal” dari teman-teman yang berbeda keyakinan. Jujur, ucapan “Selamat Natal” dari mereka amat spesial. Ditambah lagi, pada malam Natal, Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas, mengunjungi Gereja GPIB Immanuel di Kota Lama Semarang. Kunjungan beliau dikata mirip peristiwa Epifani atau penampakan Tuhan, yaitu ketika tiga orang majus (Baltasar, Kaspar, dan Melkior) menjenguk Bayi Yesus di kandang domba.

Natal yang dinanti-nantikan umat Kristiani adalah perayaan kelahiran Yesus, Tuhan yang turun ke dunia dan menjadi manusia untuk menebus dosa-dosa umat-Nya. Ada hal yang baru di sini: Tuhan yang selama ini dipandang jauh karena terus bertakhta di surga kali ini mau repot-repot turun ke dunia.

Ada pula harapan, yaitu penebusan dosa manusia akan semakin dekat dan tepat sasaran, karena Sang Penebus kini merasakan dan mengalami sendiri hidup sebagai manusia dengan segala kegembiraan dan kesulitannya. Tuhan kini berkarya bukan dari jauh melainkan dari tengah-tengah umat manusia.

Tahun 2020 medan karya Tuhan beraneka ragam. Daftarnya cukup panjang. Tuhan menebar kebaikan di tengah pandemi Covid-19, erupsi gunung berapi, banjir bandang, sekolah-sekolah. Tuhan juga berkarya di tengah dinamika politik Indonesia. Pun, karya Tuhan hadir melalui pemerintah yang berusaha memelihara rakyat.

Tuhan memperhatikan pergulatan hidup umat beragama Indonesia, yang selama pandemi menjalankan ibadat dalam jaringan (daring) atau ibadat luar jaringan (luring) terbatas. Ia pun ada ketika umat beragama Indonesia bergumul dengan toleransi dan intoleransi saat berhadapan dengan pemeluk agama lain, termasuk saat terjadinya teror di Sigi.

Peristiwa-peristiwa yang luput dari perhatian umum, karena sudah menjadi bagian hidup sehari-hari pun Tuhan hadir di dalamnya: kelahiran dan kehilangan anggota keluarga, bertambahnya usia, prestasi, pencapaian-pencapaian, menang giveaway, dan kesempatan ikut webinar tanpa batas.

Sejalan dengan ajakan Presiden Joko Widodo, yang disampaikan secara virtual di dalam Perayaan Natal Nasional 2020, hendaknya kita tidak kehilangan harapan di tengah beragam tantangan. Pandemi belum tampak ujung akhirnya, sekolah masih belum pasti kapan akan dibuka kembali, kesempatan memperoleh pekerjaan tetap yang diharap belum juga tampil di permukaan, beban hidup masih harus ditanggung menimbulkan rasa putus asa, tetapi percayalah bahwa ada penyertaan Tuhan dan kasihNya yang senantiasa menyertai kita.

Selamat merayakan kebaruan hidup!


Senin, 04 Januari 2021

Kapan Masuk Sekolah Lagi?


Kakak akhirnya berangkat ke sekolah diantar Bunda, setelah sekian lama terkurung di dalam rumah. Memakai seragam putih merah, dasi upacara, sepatu hitam, kaus kaki putih berlogo sekolah, ransel serta tak lupa masker, Kakak menyusuri setiap sudut tempatnya belajar. Lapangan bermain ia singgahi. Ruang kelas dimasuki. Kantin Bu Sri didatangi. Kakak senang bisa kembali ke sekolah. Namun, Kakak sendiri. Sekolah pun lengang.
 
 
Demikianlah sepenggal adegan film pendek berjudul “Kangen Sekolah” besutan sutradara Yopi Kurniawan. Berdurasi 12:17 menit, “Kangen Sekolah” yang pembuatannya didukung oleh Dinas Kebudayaan DIY, menjadi gambaran akan kerinduan seorang pelajar sekolah dasar pada sekolahnya, pada aktivitas yang biasa dilakukan di sekolah. Rindu Kakak bertumpuk saking lamanya belajar dari rumah. 

Perubahan Model Pembelajaran  

Nyaris setahun terakhir ini pandemi Covid-19 memaksa lembaga pendidikan di Indonesia menjalankan kegiatan belajar-mengajar dari rumah. Jika 13 Maret mendatang masih sekolah dari rumah maka pembelajaran jarak jauh akan berulangtahun yang pertama.
 
Belajar dari rumah bukan konsep belajar yang ideal bagi kelompok anak yang terbiasa dengan kehidupan sosial. Mereka telah terbiasa berangkat ke sekolah, belajar tatap muka dalam satu rombongan belajar, mengikuti ekstrakurikuler, pinjam buku di perpustakaan sekolah, bermain di lapangan sekolah maupun jajan di kantin ramai-ramai. Ada figur guru yang ditemui secara nyata dan ada anak sebaya yang disebut teman. 
 
Secara dominan, pandemi mengharuskan para murid tinggal di ruang privat mereka: kamar, rumah, gawai, maupun jaringan Internet masing-masing. Perjumpaan langsung dibatasi sedangkan tatap muka virtual meningkat. Pandemi Covid-19 tidak hanya mengubah model pembelajaran, tapi juga membatasi para murid dan guru dalam bersosialisasi. Padahal, bertatap muka langsung sesungguhnya adalah bagian dari pendidikan juga.
 
Ketika terjadi pandemi dan berujung pada ditutupnya sekolah, anak-anak tidak siap. Perubahan yang terjadi secara cepat dan mendadak menimbulkan kesulitan untuk beradaptasi. Tak ayal, anak-anak mulai dihinggapi rasa bosan, jenuh karena berbagai aktivitas yang melulu berlangsung di rumah. Dampaknya bisa dilihat pada kualitas belajar dan pencapaian anak.

Hantu Kesehatan Mental 

Belum ada kepastian bahwa aktivitas di sekolah akan kembali berjalan normal hingga akhir tahun pelajaran 2020/2021. Bahkan, bisa jadi justru tahun pelajaran berikutnya masih secara daring. Risiko menghantui: Covid-19 dan mutasinya menghadang di luar rumah, stress dan depresi menghantui di dalam rumah.
 
Adegan antara tokoh Bunda dan Kakak di dalam film pendek “Kangen Sekolah” memperlihatkan bahwa anak mengalami tekanan akibat pembelajaran jarak jauh. Tokoh Bunda membombardir Kakak dengan ocehan, perintah, dan informasi pembelajaran jarak jauh yang dikirim lewat group chat sedangkan Kakak merespon dengan ekspresi uring-uringan layaknya seorang anak yang tertekan dengan situasi yang monoton dan membosankan.
 
Kompas terbitan 31 Desember 2020 menampilkan penelitian kualitatif yang mencatat penurunan persentase frekuensi emosi positif dan peningkatan frekuensi emosi negatif di kalangan remaja. Sebelum pandemi, 80% responden merasa bahagia, 71% penuh harapan, dan 66% bergairah dan bersemangat. 
 
Setelah pandemi, terjadi perubahan: 40% responden yang masih merasa bahagia, 45% penuh harapan, dan, mirisnya, hanya 24% yang masih memiliki gairah/semangat. Kesehatan mental, khususnya para murid, mulai di ambang bahaya! Sejalan dengan data tersebut, kasus demi kasus di dalam rumah tangga turut bermunculan. Orang tua yang frustrasi mendampingi anak-anak mereka mulai melakukan kekerasan. 
 
Sebagai contoh, pada 26 Agustus 2020, seperti direkam oleh Kompas (31/12), siswa kelas 1 SD di Banten tewas karena dianiaya ibunya yang tertekan akibat kesulitan anak memahami pelajaran daring. Kasus-kasus bunuh diri di tengah pelajar mulai bermunculan akibat stress dan depresi, yang merupakan efek dari banyaknya tugas dan kurang memadainya fasilitas pendukung. 
 
Berbagai keprihatinan yang muncul di dalam masa pembelajaran daring, mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai kembali pembelajaran tatap muka di sekolah. Pada 20 November 2020, Nadiem Makarim mengumumkan izin pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021, yang diberikan sejauh situasi dan orang tua mendukung. 
 
Faktanya, meningkatnya angka pasien positif Covid-19 di Indonesia menjadikan kebijakan tersebut kembali mentah. Alasan tersebut pun mendorong cukup banyak orang tua untuk menolak mengizinkan anaknya pergi ke sekolah. 
 
Pembelajaran tatap muka ditunda. Para siswa dan guru kembali melakukan kegiatan belajar-mengajar secara daring. Kembali tidak ada kepastian tanggal pembelajaran tatap muka di sekolah; baik murid, guru, dan orang tua kembali bertanya “kapan masuk sekolah lagi?” 
 

Mau Sampai Kapan?

Menghadapi ketidakpastian yang berkepanjangan, lembaga-lembaga pendidikan diharapkan dapat terus melanjutkan pendampingan. Bahkan, pendampingan harus diperluas, bukan hanya di level akademis, melainkan juga dalam hal kesehatan mental.
 
Mengusahakan layanan kesehatan mental menjadi tugas yang harus sekolah-sekolah jalankan, bukan hanya bagi para murid, melainkan juga bagi para guru dan orang tua. Kerja sama dengan tenaga-tenaga ahli, baik psikolog maupun psikiater, harus digiatkan. Guru-guru bimbingan konseling dapat ikut serta dengan giat menyapa para murid bersama keluarga.
 
Sementara itu, para murid jangan terus-menerus dibebani tugas-tugas. Para guru hendaknya juga tidak dituntut untuk menyelesaikan seluruh materi pembelajaran yang kiranya tidak memungkinkan diselesaikan di luar masa normal.

Sebagai gantinya, pembelajaran yang bersifat kreatif dan rekreatif perlu diselipkan di tengah padatnya kurikulum akademis. Bahkan, orang tua murid juga dapat dilibatkan di dalamnya. Sebagai contoh, dinamika kelompok secara virtual dengan permainan-permainan dapat disertakan sebagai bagian dari kurikulum pada masa pandemi. 
 
Dengan adanya pembelajaran yang kreatif dan rekreatif, diharapkan emosi mereka yang terlibat di dalam pembelajaran pun tersalurkan dengan baik, energi positif kembali terbangun di dalam diri mereka. 
 
Kita sadar bahwa situasi yang kita hadapi tidaklah mudah. Kerinduan tatap muka, depresi, serta harap dan cemas bercampur aduk menjadi satu. Oleh karena itu, hendaknya solusi demi solusi kita upayakan dan bagikan demi kebaikan bersama, sambil berharap, pertanyaan “kapan masuk sekolah lagi?” akan segera menemukan jawabannya. []
 
Image: Canva 

Minggu, 20 Desember 2020

Penerimaan sebagai Kunci Toleransi

 

Dokumentasi Ratri Puspita 


Saya heran dengan nama salah seorang teman sekolah yang mirip nama baptis bagi umat Katolik: Katarina. Saya pikir, Katarina seorang Katolik. Nyatanya, Katarina mengikuti pelajaran agama Islam. Pun, dalam perjalanan sebagai penggiat blog, saya berjumpa seorang Anastasia dan dia mengenakan jilbab! Di luar sosok Katarina dan Anastasia, ada lagi yang bernama Maria dan Agustina. Barangkali supaya tidak disangka orang Kristen, diberilah tambahan “h” di belakang nama keduanya. Jadilah Maryah dan Agustinah. Berbeda kutub, saya mengenal seorang biarawati bernama Suster Siti. Pernah pula memiliki tetangga yang bernama Siti Aniyah. Meskipun punya unsur nama “Siti”, orang yang saya kenal itu beragama Katolik.

Kira-kira, apa yang memotivasi orang tua masing-masing memberi nama anaknya dengan nama-nama berbau Kristen atau Katolik ya? Bisa jadi alasannya adalah orang tua mereka menganggap nama-nama itu keren, terlihat “cantik” atau memang memiliki makna tersendiri. Saya sadari, Katarina, Agustinah, Maryah, Siti adalah nama-nama lintas iman. Entah di kemudian hari anaknya bakal bertanya, kenapa diberi nama mirip nama baptis orang Katolik? Beruntungnya saya, empat suku kata nama pemberian orang tua, terangkai nama lengkap yang netral. Namun, meski sudah bernama senetral mungkin, tetap saja ada pertanyaan agama saya apa?


Dapat dikatakan bahwa dari lahir saja orang-orang di sekitar kita sudah dikenalkan dengan kehidupan lintas iman melalui nama-nama yang mereka sandang. Lebih elok lagi bila ternyata para pemilik atau pemberi nama tidak menyadari bahwa latar belakang nama mereka sesungguhnya berasal dari keyakinan religius lain. Hal itu berarti penerimaan dan penyerapan seseorang atas unsur yang berasal dari luar agamanya berlangsung mulus dan lancar tanpa harus khawatir akan berpindah keyakinan hanya karena nama. Toleransi, dalam hal ini, seolah-olah sudah terjadi tanpa disadari.


Secara kultural, penerimaan atas unsur budaya atau agama lain memang dimungkinkan. Bukan cuma nama, ada beberapa produk budaya lain yang diterima dan diserap, tanpa kita takut berubah identitas. Sebagai contoh, kaastengels, lidah kucing, nastar menghiasi meja makan bersamaan bedug Idulfitri berkumandang. Di toko-toko, kue-kue itu justru menjadi primadona dan laris diserbu pembeli jelang Hari Raya Idulfitri. Padahal, kita tahu bahwa makanan-makanan tersebut bukanlah asli dari Indonesia, melainkan dibawa dari Belanda. Akan tetapi, Idulfitri seolah kurang afdal tanpa sajian kaastengels, lidah kucing, dan nastar bagi para tamu yang bersilaturahmi. Dan, kita menikmatinya bersandingan dengan ketupat, opor ayam kampung, sate, sambal goreng ati ampela krecek  lengkap dengan petai dan taburan bawang gorengnya, yang tentunya memiliki identitas multikultur pula.


Maya Yulita, di dalam artikel berjudul “Holan di Piring”, yang dimuat di Basis Nomor 11-12, Tahun Ke-69, 2020, menulis tentang perayaan ulang tahun ke-50 orang Belanda, yang secara tradisi dirayakan dengan Abraham en Sara koek. Maksud dari perayaan itu, tulis Maya, adalah “agar yang berulang tahun memiliki kebijaksanaan seperti Abraham (jika laki-laki) dan Sara (jika perempuan)”. Bagi saya, yang menarik bukanlah perayaan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa Abraham en Sara koek berasal dari tradisi dan kisah Kitab Suci Kristiani. Padahal, kita tahu bahwa sekarang Belanda merupakan negara Eropa yang sangat sekuler. Oleh sebab itu, bertahannya tradisi berlatar belakang Kristiani di suatu negara sekuler merupakan buah toleransi masyarakat. Sepaham dengan Maya, tanpa toleransi, tradisi Abraham en Sara koek bakal punah.


Apakah berarti toleransi di dalam masyarakat kita itu juga berasal dari budaya Belanda seperti kaastengels dan teman-temannya? Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan demikian. Saya meyakini toleransi sudah dihayati oleh masyarakat Indonesia sejak masa berdirinya kerajaan di masa silam, jauh sebelum orang Belanda datang ke Nusantara. Yang ingin saya tekankan adalah bertahannya suatu produk budaya tidak dapat dilepaskan dari sikap toleran masyarakat yang menerimanya. Dan, toleransi tidak akan dapat dipisahkan dari penerimaan tanpa menganggap budaya atau tradisi lain sebagai ancaman. Dari situ lahirlah Katarina, Agustinah, dan Maryah yang rajin sholat lima waktu atau Siti yang setia mendaraskan Salam Maria bahkan memilih jalan hidup menjadi seorang biarawati. Demikian pula, masyarakat umum bisa demikian leluasa bermain Tik Tok dengan iringan lagu “Dominic” koplo tanpa khawatir terjadi kristenisasi, meski, asal tahu saja, lagu “Dominic” sesungguhnya bercerita tentang Santo Dominikus, seorang suci Katolik yang mendirikan kelompok religius bernama Ordo Pewarta (OP).


Hidup harian kita tidak dapat lepas dari nama-nama orang Indonesia yang lintas iman, makanan lintas budaya, tradisi religius yang dapat terserap secara alami di dalam kultur suatu bangsa hingga luasnya penggunaan lagu yang berlatar belakang religius. Bertolak dari pengamatan atas adanya hal-hal itu, saya berpendapat dan meyakini bahwa penerimaan itu memang kunci hidup bersama. Penerimaan merupakan gerak batin diri untuk menerima suatu bagian dari hidup kita beririsan dengan bagian hidup orang lain.


Kita perlu mengingat bahwa di dalam sejarah bangsa Indonesia, toleransi mewujud di dalam monumen yang dapat kita lihat sampai saat ini. Perwujudan toleransi yang saya maksud adalah Masjid Istiqlal. Sejarah mencatat bahwa salah satu masjid terbesar di Indonesia ini dirancang oleh seorang Nasrani bernama Friedrich Silaban. Bahkan, dikisahkan bahwa sejak awal pembangunan Masjid Istiqlal Silaban tidak pernah absen mengawalnya.

Bagi Silaban, menjadi arsitek dari masjid akbar seperti Istiqlal merupakan kebanggaan tersendiri. Sedangkan, bagi umat Islam, berdirinya Istiqlal merupakan berkah tersendiri. Upaya saling menerima terjadi ketika kebanggaan Silaban beririsan dengan kebesaran hati umat Islam menerima masjid hasil rancangan seorang Kristiani itu. Seperti Istiqlal yang kokoh sampai sekarang, kita pun boleh berharap upaya saling menerima yang mengarah pada toleransi di dalam masyarakat tetap terwujud konkret hingga saat ini.

Toleransi mewujud ketika kita mengizinkan unsur yang terkait dengan kepemilikan budaya, agama, dan kebiasaan hidup harian bersinggungan dengan hidup kita tanpa kita harus merasa bertentangan bahkan terancam. Hmmm…
Jangan-jangan sesungguhnya sudah ada bekal sikap toleransi yang ikut ditiupkan dalam roh ketika kita masih berdiam di dalam rahim ibu? Bekal sikap toleransi itu sudah kita serap melalui hal-hal yang sifatnya sepele dan sehari-hari, seperti nama, makanan bahkan kesenangan. Dalam penerimaan, sekat penghalang menjadi kabur. Kalau kita sudah menyukai suatu makanan, menyenangi nama atau memainkan hiburan, masihkah berpikir soal asal muasal? []


Minggu, 06 Desember 2020

[Majalah Utusan] Guguran Bunga di Patung Pieta

"Guguran Bunga di Patung Pieta" adalah tulisan saya yang dimuat di Majalah Utusan Nomor 10 Tahun ke-70, Oktober 2020. Judul asli sesuai naskah yang dikirim melalui e-mail ke redaksi Majalah Utusan adalah Iman yang Sederhana. Mungkin, redaksi memiliki pertimbangan tertentu untuk mengubah judul.

Perjumpaan dipilih sebagai dasar penulisan artikel yang mengisi rubrik Keranjang tersebut. Seperti ditulis Laura Klarfeld, “People are guests in our story, the same way we are guests in theirs. But we all meet each other for a reason because every person is a personal lesson waiting to be told”, maka Pak Yusuf dan Bu Lusia adalah guest (tamu) di dalam perjalanan hidup saya.

Jika perjumpaan kami adalah bagian dari takdir, tentunya di balik takdir, terdapat alasan (reason) untuk mempertemukan. Ketika terjadi perjumpaan itulah, cerita saya melebur jadi cerita kami (our story). Cerita milik kami bertiga (personal lesson) hendak dibagikan (told) kepada orang-orang.

Apakah tokoh Bu Lusia dan Mbah Yusuf benar-benar nyata?

Bu Lusia dan Mbah Yusuf  adalah tokoh nyata. Saat cerita itu terjadi, keduanya hidu dan ada di lingkungan hidup masing-masing. Namun, namanya bukan Bu Lusia dan Mbah Yusuf. Saya memberinya nama "Bu Lusia" dan "Mbah Yusuf", karena tidak tahu nama asli keduanya. Kalaupun saya tahu, saya tetap bersikukuh memakai nama fiktif. Meskipun fiktif, saya pilihkan nama terbaik untuk kedua tokoh; sesuai dengan kepribadian yang mampu saya tangkap lalu diubah ke dalam sebuah nama.

Berikut adalah teks dan judul asli diikuti teks dan judul setelah melewati meja redaksi. Selamat berkenalan dengan Bu Lusia dan Mbah Yusuf!

***


IMAN YANG SEDERHANA

Beragam cara manusia mengungkapkan iman kepada Allah. Sebut saja mengikuti misa harian setiap hari, rajin mendoakan berbagai macam devosi, dan menjalani latihan rohani. Mulai dari kerap beramal, ziarah ke gua Maria, retret, hingga aktif sebagai anggota Dewan Paroki maupun tim pelayanan Gereja. Tidak ada yang salah dengan semuanya itu. Namanya saja ungkapan iman kepada Allah. Ibarat orang jatuh cinta, selalu ada energi pendorong untuk melakukan segala sesuatu, mulai dari hal yang paling sederhana hingga mencapai hal-hal besar. Allah pun tidak akan menolak ungkapan iman yang paling sederhana sekalipun.

Agustus 2019. Kala itu, saya tengah mengunjungi sebuah gereja di kawasan Jakarta Pusat. Kaki saya melangkah menuju gua Maria yang berada di dalam kompleks gereja. Gua Maria yang wajib dikunjungi setiap kali ke Jakarta, entah itu disisipkan di antara agenda atau mampir sembari menunggu kereta yang akan membawa pulang ke Yogyakarta. Suasana hening dan damai yang dihadirkan di gua Maria tersebut seakan menjadi penyeimbang ingar bingar kota metropolitan. Betah rasanya berlama-lama berdoa dan mencurahkan segala isi hati di tempat ini.

Usai berdoa dan mencurahkan segala isi hati, saya tidak langsung meninggalkan kompleks gereja. Saya menunggu datangnya seorang sahabat, karena kami sudah janjian. Sembari menanti, perhatian saya tertuju pada seorang perempuan lanjut usia. Badannya tidak terlalu tinggi. Penampilan beliau sungguh sederhana. Kita sebut saja beliau “Bu Lusia”.

Bukannya menyalakan lilin, meletakkan rangkaian bunga lalu berdoa di depan Patung Bunda Maria seperti yang dilakukan pengunjung, Bu Lusia malah sibuk membersihkan tempat lilin yang letaknya berseberangan dengan patung Bunda Maria. Lelehan-lelehan lilin yang melekat dikerok lalu disemprot dengan air mengalir dari selang. Alhasil, tempat lilin jadi bersih. Tuntas memerhatikan Bu Lusia, saya kembali pada tujuan saya: menunggu kedatangan sahabat.

Ketika tengah menunggu datangnya sahabat saya, Bu Lusia menghampiri dari balik punggung. Ada apa gerangan, pikir saya. Jangan-jangan, saya diminta mengembalikan empat buah lilin yang saya ambil. Padahal, saya, kan, sudah memasukkan sumbangan lilin. Ternyata, saya diminta untuk mengatur posisi duduk supaya tidak membelakangi patung Bunda Maria. Dan selama saya berada di sekitar gua Maria, tampak beberapa pengunjung menerima teguran serupa: tidak boleh duduk membelakangi Bunda Maria.

Sosok dan aksi Bu Lusia mengingatkan saya pada seorang laki-laki tua di salah satu gereja di Kota Yogyakarta. Panggil saja dengan nama “Mbah Yusuf”. Ubannya putih sempurna, pendengarannya sudah berkurang, jalannya pun tertatih-tatih. Mbah Yusuf berusaha menyapa dan menyalami orang yang beliau kenal di gereja.

Kebiasaan khas Mbah Yusuf tiap kali mengikuti perayaan Ekaristi harian sore adalah beliau tidak pernah pindah tempat duduk, kecuali tempat duduknya telah diduduki orang. Yang paling mengesankan, Mbah Yusuf selalu datang ke gereja sangat-sangat awal. Saya pernah melihat Mbah Yusuf jalan kaki memasuki gerbang gereja sekitar pukul 16.00, padahal perayaan Ekaristi harian sore hari baru dimulai pukul 17.30!

Seperti halnya Bu Lusia, Mbah Yusuf peduli akan kebersihan dan ketersediaan sarana doa di gerejanya itu. Biasanya, begitu sampai di dalam gereja, Mbah Yusuf akan “patroli” untuk memeriksa stok lilin doa dan korek api yang berada di tempat umat biasa berdoa. Memang, tidak seperti ketika bertemu Bu Lusia, saya tidak pernah ditegur Mbah Yusuf. Akan tetapi, benak saya tidak akan lupa bahwa Mbah Yusuf pernah mengambili remah-remah bunga, yang jatuh dari rangkaian yang menghiasi meja patung Pieta supaya area patung Pieta terjaga kebersihannya.

Perjumpaan dengan Bu Lusia dan Mbah Yusuf membuat saya berpikir soal iman yang dipraktikkan melalui hal-hal sederhana, tetapi konkret: membersihkan lelehan lilin, menegur orang yang duduk membelakangi Bunda Maria, mengisi ulang lilin sarana doa, mengisi ulang korek api untuk menyalakan lilin doa atau memunguti bagian bunga yang berguguran di sekitar patung Pieta. Akan tetapi, iman itu ditunjukkan secara nyata sebagai wujud cinta kepada Allah. Raga yang menua tidak menghalangi seseorang untuk mengimplementasikan imannya.

Tentu sah-sah saja bila ada orang yang berusaha menunjukkan imannya dengan gagah berani, melalui perbuatan-perbuatan besar. Bahkan, tidak sedikit pula yang menjadi martir demi mempertahankan iman dan memperlihatkan cintanya kepada Allah. Tidak sedikit para kudus di dalam Gereja kita yang mewujudkan iman melalui berbagai tindakan luar biasa, yang kerapkali sulit dicari padanannya saat ini.

Akan tetapi, amatlah disayangkan andaikata segala tindakan kepahlawanan dan luar biasa itu pada akhirnya hanya sebagai asesoris pemanis, tetapi kosong di dalam. Seseorang bisa saja berkoar-koar soal iman, menampilkan diri seolah-olah sebagai sosok yang dapat diteladani di dalam Gereja, melakukan banyak hal yang tampaknya terpuji. Bahkan, mungkin banyak orang yang mengelu-elukan sebagai orang beriman atau orang suci. Sayang sekali bila, di balik itu semua, ternyata ia tidak sungguh-sungguh mencintai-Nya dan justru berkutat mencari pujian belaka. Ia sesungguhnya kosong di dalam, karena tanggapannya akan cinta Allah hanyalah pura-pura.

Bu Lusia dan Mbah Yusuf mengajarkan kepada saya bahwa iman tidak perlu dibicarakan dan dipraktikkan secara muluk-muluk. Iman yang sederhana itu diwujudkan tanpa ditingkahi banyak laku yang heroik. Biarpun tidak muluk-muluk dan tanpa perbuatan besar, gerak iman itu tetap menjadi gerak hati yang didasari oleh cinta kepada Allah. Jika tidak mewujudkan iman secara konkret, hati terasa gelisah. Gerak hati yang gelisah itulah yang membangunkan diri untuk beraksi.

Tindakan nyata Bu Lusia dan Mbah Yusuf mengantar saya pada kutipan apik dari Pater Pedro Arrupe, S.J. Mantan pemimpin umum Serikat Yesus periode 1965-1983 ini pernah mengungkapkan kata-kata yang menyentuh kedalaman hati saya: fall in love, stay in love, and it will decide everything (jatuh cintalah, tinggallah di dalam cinta, dan semua itu akan menentukan segalanya). Pesan tersebut disampaikan oleh Pater Arrupe di dalam salah satu renungannya di hadapan para biarawati.

Pater Arrupe sendiri tidak hanya mampu berkata-kata indah seperti itu. Beliau secara konsekuen mempraktikkannya pula di dalam hidup sehari-hari. Di dalam artikelnya di American Magazine terbitan 12 November 2007, Kevin Burke, S.J. mengungkapkan bahwa Arrupe memang menunjukkan diri sebagai seseorang yang mampu “menemukan Allah di dalam dunia yang retak ini”. Bahkan, disebutkan juga bahwa beliau “belajar untuk mempercayai cinta”.

Saya bersyukur boleh berjumpa dengan Bu Lusia dan Mbah Yusuf serta Pater Pedro Arrupe, S.J. melalui kutipannya. Dengan cara masing-masing, mereka telah mengajari saya mengenai cinta kepada Allah (fall in love, stay in love) dan soal iman yang diungkapkan secara sederhana (decide everything). Perwujudan yang sederhana itu bukan lantaran tidak mampu melakukan hal-hal yang lebih besar. Justru Allah menghendaki suatu tindakan praktis yang langsung dapat dilakukan dan menyuarakan cinta kita pada-Nya secara konkret. “Apa yang kamu miliki dan mampu lakukan, persembahkanlah sebagai tanda cintamu kepada-Ku,” mungkin Allah berkata demikian kepada Bu Lusia, Mbah Yusuf, dan Pater Arrupe. Saya yakin, itu pula panggilan-Nya untuk saya, Anda, kita semua. ***

Ratri Puspita


 
Dokumentasi: Ratri Puspita


 
Dokumentasi: Ratri Puspita