Selasa, 01 Juni 2021

Rumah Semesta Persaudaraan

Home sweet home tak lagi asing bagi kita. Istilah yang menjadi motto bagi orang-orang yang merasa betah dengan rumahnya. Rumah itu bak permen yang membuat diri ceria. Ibarat semut, orang-orang enggan beranjak dari rumah yang manis itu. Home sweet home bikin kita mager, lebih senang berada di dalam rumah ketimbang menghabiskan waktu dengan nongkrong di cafe atau sebangsanya.

Rumah-rumah itu tersebar di berbagai tempat di seantero penjuru bumi, menetap pada pribadi seseorang, menjelma pada suatu komunitas berisi orang-orang yang memiliki latar belakang berlainan. Kita diajak menyadari akan istilah ‘rumah’ yang tidak harus disematkan bagi suatu bangunan tempat tinggal berunsurkan lantai, tembok, atap, jendela, pintu, dan pelengkapnya.

Windy Ariestanty, penulis buku Life Traveler, menemukan rumah justru di tempat yang ia singgahi: Ha Noi. Jauh, ya? Windy membagikan cerita “menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri” ketika ia bertandang ke ibu kota Viet Nam tersebut. Home away from home, demikian Windy merangkumnya dalam satu kalimat lantaran ia diperlakukan sangat baik, hangat oleh orang yang ditemuinya meski sadar bahwa mereka berbeda identitas. Sapaan, perhatian-perhatian kecil menjadi pondasi terbangunnya sebuah “rumah”.

Saya nggak mau kalah sama Windy dalam hal kepemilikan home sweet home. Saya pun memiliki home sweet home setelah menafsirkan lewat perjalanan, perasaan, dan peristiwa yang dialami. Bagi saya, “rumah” ialah suatu tempat yang mampu menghadirkan ketenangan, kedamaian, kenyamanan sekaligus kejujuran di dalamnya. Dan, yang tidak kalah penting adalah suasana tempat yang membuat tubuh saya merasa diterima bahkan sejak tapak pertama melangkah memasuki tempat tersebut.

Beda dengan Windy yang “rumah”nya nun jauh di mancanegara, setidaknya sudah ada tempat yang saya kenali sebagai “rumah”, yakni sebuah biara di kaki gunung Merbabu. Biara bernama Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono ini membuat saya rindu tiap kali memikirkannya, membuat saya betah berlama-lama di dalamnya, dan membuat saya enggan beranjak padahal kegiatan saya selama di tempat itu lebih banyak berdiam di dalam ruang doa. Semilir angin bercampur hawa dingin menerobos lewat jendela mungil lalu menyentuh kulit, membuat hanyut ke dalam kedamaian yang belum tentu ditemui kala berada di rumah saya sesungguhnya.

Scott Hahn punya cerita berbeda. Bagi seorang pencari iman dan kebenaran seperti dirinya, Gereja Katolik akhirnya menjadi tempatnya berhenti dan tinggal. Di sana ia merasa nyaman dan menemukan pencariannya serta tidak ingin beranjak lagi. Karena itulah Hahn menyebut Gereja Katolik (Roma) sebagai rumahnya. Jika “Roma” dapat disebut “rumah” seperti dikatakan oleh Hahn, tentunya kita dapat memaknai istilah itu secara baru pula.

Rumah dapat dimaknai lebih dari sekadar bangunan fisik yang terdiri atas elemen-elemen berupa atap, tembok, lantai, halaman, pagar, genteng. Wujud rumah tidak berhenti pada suatu bangunan, sarang, kandang yang secara fisik dapat digambarkan memiliki dinding, atap dan lantai. Lalu, bagaimana kita hendak meredefinisi kata “rumah”? Untuk saya, sahabat atau komunitas juga bisa disebut “rumah”. Bersama mereka, saya dapat bercanda dan bercerita dengan nyaman.

Setiap dari kami boleh menjadi diri sendiri yang otentik, dengan pendapat, cara berpikir, selera, keyakinan, iman, atau latar belakang kami masing-masing. Tidak ada rasa takut untuk saling mendekat dan berbagi walaupun ada banyak perbedaan di antara kami. Yang ada justru rasa betah dan gembira, mengalir bersama kreativitas yang seakan-akan tiada henti. Semuanya itu hanya dapat terjadi ketika saya benar-benar mengalami sahabat atau komunitas sebagai “rumah”.

Kita pun bisa menjadi rumah bagi orang lain. Bagi teman-teman, bagi orang yang baru pertama kali kita temui. Lebih bagus lagi jika kita mampu menjadi rumah bagi saudara kita yang berbeda iman. Memang, kita tidak bisa serta merta menawarkan “rumah” kepada mereka, karena merekalah yang sejatinya “membaptis” kita sehingga layak menjadi rumah baginya.

Kuncinya adalah membuka diri pada semesta persaudaraan. Dengan begitu, orang lain bahkan yang berbeda iman sekalipun merasa diterima, dihargai, direngkuh dalam kehangatan yang mungkin belum tentu ditemukan di tempat lain. Tentu, untuk menjadi “rumah” bagi sesama, jangan sampai identitas personal kita hilang.

Semangat para tokoh berikut dapat menjadi inspirasi bagi kita terkait dengan “rumah”. Pada 4 Februari 2019 lalu, Paus Fransiskus dan Ahmad el-Tayeb bertemu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pemimpin tertinggi Gereja Katolik dan Imam Agung Al-Azhar ini menandatangani “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama”. Dengan menandatangani dokumen tersebut, mereka berdua ingin mempromosikan suatu dunia yang di dalamnya orang “memandang dalam diri sesamanya seorang saudara lelaki atau perempuan untuk didukung dan dikasihi”.

Bukankah hidup saling mendukung dan mengasihi sebagai saudara itu suasana yang sudah selayaknya terjadi di dalam suatu “rumah”? Maukah kita tumbuh menjadi rumah yang nyaman untuk berbagi cerita, singgah, tanpa orang lain mereka merasa takut bertatap muka, terintimidasi atau enggan bersapa hanya karena berbeda pendapat atau lain iman? []


Kamis, 27 Mei 2021

Seni Berkicau di Koran

Saya pengin berbagi cerita buat teman-teman pembaca setia blog saya. Cerita lama sih, tapi nggak ada salahnya tetap dibagikan. Siapa tahu, di antara teman-teman pembaca ada yang punya pengalaman serupa ya, kan? Jadi kita bisa lempar-lemparan cerita. Teman-teman bisa share di kolom komentar. Kalau Youtuber mengatakan bahwa subscribe itu gratis, maka komen di blog saya pun sama gratisnya! Berikut ceritanya.

Puji Tuhan, tahun 2014 saya dapat kesempatan (lagi) masuk Kompas bagian Klasika hahaha. Eits, jangan buru-buru menyepelekan. Klasika juga bagian dari Kompas lho! Iya, kan? Kalau nggak ada Klasika, iklan Kompas dimuat di mana? Mau baca koran tapi di tengah-tengahnya ada iklan segede gaban?


Tepatnya, karya saya dimuat di bagian "kicauan" pada beberapa edisi, secara berurutan maupun lompat nomor, dalam rangka menyambut Natal 2014 dan Tahun baru 2015. Senang, dong, pastinya. Siapa tahu, munculnya "kicauan" saya di lembar Klasika jadi awal yang baik. Kelak, tulisan saya bisa dimuat di Kompas atau profil saya yang muncul di Soca Kompas Minggu. (Tolong, dong, bantu diamini).

"Kicauan" 2014 merupakan "kicauan" tahun kedua yang dimuat oleh Klasika. Akhir tahun 2013, Klasika pernah memuat beberapa "kicauan" saya di beberapa edisi. Sebagai bentuk apresiasi, saya berhak mendapat buku karya Renee Suhardono (career coach ituhhh)

FYI, buku berjudul #UltimateU2 ini secara kebetulan masuk ke wishlist, karena isinya (menurut saya) keren dan inspiratif. Harganya yang mahal untuk ukuran saya (Cek di sini) menuntut saya harus ngumpulin receh lebih dulu. Tak disangka, nggak perlu nunggu lama, buku yang pernah saya elus covernya waktu di toko buku itu bisa dimiliki. Tanpa keluar uang sepeser pun! Betapa ajaib hidup ini!

"Kicauan" saya sederhana saja: berdasarkan kejadian sehari-hari dan yang menjadi harapan di masa yang akan datang. Kebetulan momennya pas: Natal dan Tahun Baru, ditambah Klasika memberi ruang  ekspresi bagi para pembacanya. Ya, seakan sudah diatur oleh semesta, semua terjadi dengan sendirinya dan begitu mudah.

Bagaimana caranya bisa dimuat?

Sependek pengetahuan saya, sih, ber"kicau"nya nggak asal, tapi nunggu difeed sama Klasika lebih dulu kemudian saya reply (singkat tapi menjawab) disertai hashtag (tagar alias tanda pagar) untuk memudahkan admin menyortir. 

Tahun 2014, hashtagnya #KicauSN. Catatan bagi Anda yang ingin "kicauan"nya dimuat, ikuti aturan mainnya  dan bila ada tanda-tanda mau dimuat, pihak Klasika kasih sign kicauan saya dimasukkan ke fav (barangkali biar mudah memilahnya, tidak perlu ngaduk-aduk timeline)

Begitu dapat notification tweet saya masuk fav, berarti ada harapan "kicauan" saya bakal dimuat. Namun, sebelum ada buktinya, senangnya ditahan dulu, ya, daripada telanjur senang ternyata nggak dimuat kan bikin kuciwa.  

Keesokan pagi, cek Klasika. Kebetulan, saya rutin membeli Koran Kompas. Adakah "kicauan" saya di sana? Kalau dimuat, senanglah hati. Mau diekspresikan dengan cara apa? Jingkrak-jingkrak? Atau mau difoto kemudian dipost ke Twitter? Bisaaaa! Jangan lupa, mention Klasika. Siapa tahu bakal diretweet.[]


Selasa, 25 Mei 2021

Mei: Yang Takterceritakan

Catatan Pengantar:
Saya menemukan tulisan yang dibuat jelang hari ulang tahun saya. Membaca ulang tulisan yang dibuat enam tahun silam itu membentuk residu kesan: waktu berlalu begitu cepat, kenangan akan saat-saat masih berumur awal kepala tiga, dan siapa-siapa saja yang masih bersama saya. Saya pun diingatkan akan cerita yang sempat terlupakan lantaran begitu banyak peristiwa merebut ruang ingatan dan perhatian saya akhir-akhir ini. Beruntungnya tulisan ini ditemukan. Maka, tak ingin tersimpan makin lama, ada baiknya segera diunggah. Yogyakarta, Mei 2021

***
 

Selalu ada kisah menarik tentang kelahiran makhluk hidup. Selalu dan selalu terceritakan lagi, berulang, dan kembali dalam pertemuan yang melibatkan keluarga atau orang-orang yang diharapkan mengetahui kisah masa lalu itu. Salah satu dari sekian banyak cerita kelahiran yang akan diceritakan ulang berkaitan dengan kelahiran saya. Berkaitan lho ya, bukan cerita detik demi detik hadirnya saya ke dunia ini. 

Bulan Mei, saya akan genap berusia tiga puluh tahun. Bila orang lain memilih untuk keep silent, menyembunyikan umurnya, atau memilih berbohong akan fakta usia, saya lebih memilih untuk ngomong apa adanya saja. Toh, memang benar, usianya tiga puluh, kok. Lagipula, dengan memilih berkata jujur, bisa diartikan sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan terhadap saya. Jika Tuhan berkehendak lain, belum tentu saya bisa menikmati ulang tahun ketigapuluh. Lho?! 


 

Iya, jika nasib saya tertukar, bisa jadi bukan saya yang hidup sampai detik ini, menikmati kesempatan tumbuh, menjalani masa kecil di kampung yang tak jauh dari ikon Kota Yogyakarta, mendapat jatah pendidikan hingga tingkat universitas, bahkan berkesempatan menikmati rupa-rupa kehidupan termasuk ngeblog.

Tidak banyak yang tahu bila kelahiran saya, suka cita orang tua saya, dan kebahagiaan keluarga besar saya menyambut penerus keluarga sempat diwarnai peristiwa yang kurang mengenakkan. Bukan menimpa orang tua atau keluarga besar saya, sih, melainkan orang lain. Sayangnya, orang lain itu berelasi dengan orang tua saya. Mereka saling mengenal.

Tiga puluh tahun silam, pada waktu yang nyaris berbarengan, dua orang ibu hendak melahirkan di sebuah rumah sakit. Secara teritori, rumah sakit itu masuk Kabupaten Sleman. Bayi yang dikandung ibu saya lahir selamat tepat pukul satu dini hari dan berjenis kelamin perempuan. Dia kemudian diberi nama Ratri sesuai waktu kelahirannya. Sementara... Bayi ibu yang satunya meninggal. 

Saya tidak tahu kejadian persisnya waktu itu seperti apa: bagaimana kejadiannya, kenapa bisa terjadi. Meskipun mungkin ibu saya bisa menjelaskan tetapi saya belum ada ketertarikan untuk mengulik lebih dalam. Mungkin, yang saya rasakan adalah untuk apa mengungkit luka batin orang lain dan hal itu -bagi saya pribadi- tidak baik untuk diingat. Oleh sebab itu, saya hanya menerima yang disampaikan oleh ibu saya meski hanya bagian kecil cerita saja. Sudah cukup.

Yang namanya kehilangan anak, membuat kenangan itu susah pupus bahkan hingga bertahun berlalu. Manusia dibekali ingatan yang panjang bila menyangkut peristiwa penting dalam hidupnya terlebih peristiwa buruk. Kenangan akan peristiwa itu membekas sampai kapanpun. Dan benar, teman ibu saya ternyata masih mengingat saat dia kehilangan anaknya walaupun waktu telah berjalan melebihi angka sepuluh tahun, dua puluh tahun. 

Saking terkenang, teman ibu saya berkisah, kalau melihat saya, seperti melihat anaknya yang hanya sekejap melihat dunia. Anaknya yang tidak sempat tumbuh besar. Tiap kali melihat saya jalan kaki berangkat sekolah, beliau akan bercerita kepada ibu saya bahwa beliau melihat saya jalan kaki menuju sekolah.

Begitu pun ketika bertatap muka dengan saya. Beliau selalu mengatakan pada teman-temannya, yang saat pertemuan itu berada di ruang yang sama, bahwa jika anaknya hidup, pasti sudah segede saya saat itu. Mendengarnya, perasaan saya dibuat nggak karuan. Merasa nggak enak, karena penampakan saya bikin orang lain mengingat pengalaman kurang mengenakkan. Jadinya saya cuma tersenyum simpul dan speechless.

Sempat saya berpikir, ya Tuhan, apakah saya merampas hak hidup orang lain? Untuk apa bayi itu lahir jika kemudian dia kembali lagi kepada penciptanya? Penasaran, kira-kira siapa yang lahir lebih dulu? Saya atau dia? Apakah saat itu ada undian nyawa? Suit? Apakah sebelum dilahirkan saya "batu-kertas-gunting" dulu?

Ada yang bisa bantu jawab?

Seandainya saja bayi itu hidup, pasti saat ini kami sepantaran dan di tanggal yang sama kami akan merayakan ulang tahun kami yang ketigapuluh. Saya akan berbahagia meski nasib melukiskan perbedaan. Mungkin, saat ini, bayi itu telah bekerja, menikah lalu punya anak. Atau barangkali dia masih lajang tapi telah keliling dunia?

Tuhan memilih saya pasti ada alasannya. Satu, dua atau banyak alasan kenapa saya yang dipilih untuk bernapas sampai detik ini, esok, lusa, dan seterusnya. Bukan dia melainkan saya. Tuhan pilih saya. Tuhan ingin saya melakukan sesuatu. Misi yang Dia titipkan untuk dijalankan. 

Mendekati hari lahirku, 26 Mei, saya diingatkan agar senantiasa mengucap syukur dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah memberiku kesempatan hidup.

Happy birthday to me...

Happy birthday to me...

Happy birthday... Happy birthday... Happy birthday to me...

Terima kasih Tuhan. Mohon penyertaanMu di setiap langkahku, langkah besar maupun kecil, agar 'ku takberjalan sendiri dan kehilangan arah. []


Senin, 24 Mei 2021

Perempuan dan Paspornya

“Buat apa bikin paspor?

Paspornya saja belum jadi, baru rencana, tapi sudah pada bertanya untuk apa bikin paspor.

“Mau ke mana?

Duh, memangnya bikin paspor harus pergi ke mana gitu dalam waktu dekat? Nggak, kan?

Abai dengan segala rupa pertanyaan, saya pun kukuh hati bikin paspor. Bermodal Rp400.000,00, hal pertama yang saya lakukan adalah berburu antrean paspor baru menggunakan aplikasi imigrasi yang sebelumnya diunduh ke handphone.

Sembari menunggu keluarnya antrean paspor, langkah berikutnya adalah mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan (Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk serta fotokopinya plus materai 6000).

Saat saya mengajukan permohonan bikin paspor baru, dunia persilatan masih aman sentosa. Bepergian ke luar negeri untuk berbagai urusan gampang-gampang aja asal nggak kena “red notice”. Kita semua masih bebas bertemu orang tanpa diwajibkan jaga jarak, pakai masker dengan spesifikasi tertentu maupun faceshield sebagai pelindung tambahan badan.

Ketika berada di tempat umum, belum dijumpai stiker “tanda silang” untuk menandai tempat yang tidak boleh diduduki atau gambar tapak kaki penanda kita harus berdiri berjarak dengan orang lain. Pun, kita masih bebas lompat sana lompat sini tanpa ada syarat tes rapid, PCR atau Swab Antigen.

Setelah paspor warna hijau dengan gambar lambang negara tersebut jadi, saya tak jua ke mana-mana. Sampai sekarang, paspor yang memiliki masa berlaku lima tahun itu tersimpan rapi di dalam wadah penyimpan dokumen di rumah. Stempel yang ada di dalam paspor baru stempel imigrasi.

“Rugi, dong,  buang duit untuk paspor hijau 48 halaman?“

Bagi saya, tidak ada kerugian sedikitpun atas keputusan bikin paspor. Bodo amat juga kalau ada yang mengatai saya. Penggunaan paspor hanyalah soal waktu. Saya percaya, usaha manusia akan bertemu dengan takdir Tuhan sehingga jadilah chemistry yang apik. Dengan menggenggam paspor WNI, sama halnya saya selangkah lebih maju menjemput cita-cita.

Paspor inilah yang kelak akan membawa saya menjadi seorang mahasiswi dan mengenal dunia lebih luas dibanding ukuran kamar saya bahkan luasnya Kota Yogyakarta yang hanya 46 meter persegi. Kalau Malcolm X berujar, “Education is the passport to the future” maka langkah pertama meraih “education” itu adalah kepemilikan paspor warga negara lebih dulu.

Gimana mau sampai Ostrali, Kanada, Inggris, Amerika, Korea Selatan kalau nggak punya paspor. Lha wong mau ke Singapura dan Malaysia yang tetangga mepet halaman rumah saja tetap butuh paspor, ya nggak?

Kekuatan Paspor

Pernah saya membaca buku berjudul 30 Paspor di Kelas Sang Profesor #1. Buku yang ditulis oleh J.S. Khairen tersebut menceritakan cara mengajar ala Profesor Rhenald Kasali, Ph.D yang unik. Kita semua sudah tahulah siapa Profesor Rhenald Kasali, Ph.D atau Rhenald Kasali.

Sebagai dosen mata kuliah Pemasaran Internasional, beliau menugaskan mahasiswanya pergi ke luar negeri sendirian. Tujuannya demi membentuk karakter para mahasiswanya supaya mampu mendrive dirinya sendiri, bukannya menjadi passengers yang pasif, yang hanya mengikuti arahan orang lain.

Praktiknya, Profesor Rhenald meminta tiga puluh orang mahasiswanya membuat paspor dan menyusun rencana kegiatan di suatu negara. Satu negara HANYA boleh dikunjungi oleh satu orang mahasiswa. Kalaupun terjadi satu negara menjadi tujuan dua orang mahasiswa, tetap saja keduanya tidak boleh berada di daerah yang sama.

Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Timor Leste tidak masuk ke dalam daftar negara yang bisa dikunjungi, karena ada kemiripan bahasa. “Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau,” demikian pesannya.

Jadilah anak-anak muda yang sehari-hari berkutat dengan kegiatan kampus, terbang ke berbagai negara. Laos, Jerman, Korea Selatan, Islandia, Jepang, Taiwan, Birma menjadi kampus kehidupan tempat mereka belajar banyak hal, lebih dari sekadar memenuhi tugas kuliah maupun jalan-jalan. Mereka akan mengalami hal yang bahkan tak terpikirkan sebelumnya.

Paspor, yang kita kenal selama ini sebagai dokumen pass to the port (melintasi batas wilayah), nyatanya memiliki kekuatan lebih dari sekadar dokumen resmi negara. Paspor bisa jadi sarana meraih impian: sekolah ke luar negeri! Paspor bisa berfungsi untuk mendatangkan uang. Pun, paspor juga punya peran menggembleng karakter kita.

Karena Perempuan Punya Inner Power

Indonesia pernah kebobolan agen rahasia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Kala itu, seorang perempuan berhasil menembus istana. Mengaku ingin belajar kebudayaan Indonesia, Pat Price, demikian nama utusan CIA itu berkeliaran dengan bebas di sekitar sang presiden dan anak-anaknya.

Terlepas dari kemampuan personal dan kelihaian dalam menyamar, kita diajak melihat sekaligus menyadari bahwa di dalam diri seorang perempuan tersimpan inner power. Perempuan memiliki potensi untuk melakukan tugas yang setara dengan laki-laki: kompleks, menuntut kehati-hatian, dan membutuhkan strategi.

Deret ingatan akan inner power perempuan bertambah manakala 20 Januari 2021 Amerika Serikat resmi mengangkat Kamala Harris sebagai wakil presiden. Di dalam sejarah Amerika, perempuan yang mewarisi darah India dari sang ibu dan Jamaika dari sang ayah, tercatat sebagai wakil presiden perempuan keturunan Asia-Amerika dan sebagai wakil presiden kulit hitam pertama!

Seorang Kamala Harris tentunya memiliki inner power sehingga profil sebagai perempuan cerdas melekat kuat padanya. Setelan ungu yang dikenakan saat inagurasi, yang membawa makna seorang yang tidak berpihak, mempersatukan, dan memiliki rasa solidaritas, memperkuat citra perempuan yang mampu masuk ke ranah universal.

Saya memperkirakan, selain kemampuan teknis, Mbak Pat Price memiliki kemampuan public speaking yang mumpuni sehingga aksinya berjalan mulus. Identitasnya justru terkuak lantaran informasi yang diberikan Presiden Pakistan Ayub Khan.

Kamala Harris memiliki inner power. Ia seorang pemberani dan memiliki kemampuan berargumen secara cerdas dan tajam. Yang juga tidak kalah penting adalah Kamala dapat menerima latar belakangnya sebagai seorang kulit berwarna dan tetap mengaku diri sebagai orang Amerika.

Sebagai seorang politikus perempuan kulit hitam, ia memiliki ambisi untuk meraih posisi tertinggi di dunia politik Amerika yang masih didominasi laki-laki dan kulit putih. Hal itu didukung oleh asal-usulnya sehingga memampukannya hidup dan berelasi dengan orang-orang berbagai ras di Amerika.

Lalu, siapa lagi perempuan yang memiliki inner power?

Jawabannya adalah: Kita!

Kita semua memiliki inner power di dalam diri masing-masing. Kita memiliki kecerdasan di berbagai bidang, keterampilan, kemampuan bertahan saat menghadapi masalah, dan inner power lainnya di dalam raga perempuan. Kita pun memiliki impian yang bisa digapai. Impian dan harapan sebagai perempuan ini adalah inner power tersendiri.

Sebelum menutup tulisan ini, saya mau membagi nukilan lirik yang diambil dari lagu soundtrack film The Sound of Music yang berjudul Climb Every Mountain.

Climb every mountain

Ford every stream

Follow every rainbow

'Till you find your dream

Climb Every Mountain menjadi momen penting saat pelaku sentral cerita yakni Kapten Von Trapp sekeluarga mengungsi dari kejaran tentara Nazi. Dan selama saya melihat adegan keluarga tersebut naik ke pegunungan disertai lagu tersebut, saya merasakan adanya harapan, kekuatan, semangat supaya terwujud asa dan cita.

Pengen seperti Kamala Harris atau Pat Price yang ahli di bidangnya? Kembali saya mengutip kalimat yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali, Ph.D di dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor #1, “orang-orang besar itu adalah the climbers, bukan the campers, apalagi the quitters”. Bikin paspor, genggam erat paspormu sembari daraskan doa, hidupi inner power di dalam diri.

Mari wujudkan!


Rabu, 06 Januari 2021

Natal dan Tahun Baru: Sebuah Catatan

  


Hari-hari sekitar Natal, cukup banyak di antara kita atau teman-teman Katolik yang sibuk berbalas ucapan selamat Natal. Bentuk dan isi ucapan “Selamat Natal” direka beraneka ragam: ada yang mengirimkan dengan foto keluarga yang disertai ucapan, ada yang cukup mengirim stiker gambar-gambar bernuansa Natal, ada pula yang mengirim video, ada yang cuma mengucapkan “Selamat Natal”, ada yang mengucap selamat Natal diimbuhi aneka kalimat harapan, ada pula yang komplet merangkai ucapan “Selamat Natal” dengan “Selamat Tahun Baru”.

Natal dan tahun baru hampir tidak dapat dipisahkan, karena jaraknya yang berdekatan. Banyak orang yang merangkaikan keduanya. Terasa menggelitik, karena Natal dan tahun baru bukan sepaket perayaan. Namun, karena hanya berjarak satu minggu dan berada di ujung tahun, ucapan “Selamat Natal” digabung dengan “Selamat Tahun Baru”.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda memaknai Natal dan tahun baru serta menimba inspirasi dari kedua perayaan yang kadung dipasangkan tersebut. Kita dapat melihat bahwa walaupun berbeda, Natal dan tahun baru sama-sama menekankan dua kata kunci: ‘baru’ dan ‘harapan’.

Natal tahun 2020 menyisakan kesan hangat di hati. Saya menerima ucapan “Selamat Natal” dari teman-teman yang berbeda keyakinan. Jujur, ucapan “Selamat Natal” dari mereka amat spesial. Ditambah lagi, pada malam Natal, Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas, mengunjungi Gereja GPIB Immanuel di Kota Lama Semarang. Kunjungan beliau dikata mirip peristiwa Epifani atau penampakan Tuhan, yaitu ketika tiga orang majus (Baltasar, Kaspar, dan Melkior) menjenguk Bayi Yesus di kandang domba.

Natal yang dinanti-nantikan umat Kristiani adalah perayaan kelahiran Yesus, Tuhan yang turun ke dunia dan menjadi manusia untuk menebus dosa-dosa umat-Nya. Ada hal yang baru di sini: Tuhan yang selama ini dipandang jauh karena terus bertakhta di surga kali ini mau repot-repot turun ke dunia.

Ada pula harapan, yaitu penebusan dosa manusia akan semakin dekat dan tepat sasaran, karena Sang Penebus kini merasakan dan mengalami sendiri hidup sebagai manusia dengan segala kegembiraan dan kesulitannya. Tuhan kini berkarya bukan dari jauh melainkan dari tengah-tengah umat manusia.

Tahun 2020 medan karya Tuhan beraneka ragam. Daftarnya cukup panjang. Tuhan menebar kebaikan di tengah pandemi Covid-19, erupsi gunung berapi, banjir bandang, sekolah-sekolah. Tuhan juga berkarya di tengah dinamika politik Indonesia. Pun, karya Tuhan hadir melalui pemerintah yang berusaha memelihara rakyat.

Tuhan memperhatikan pergulatan hidup umat beragama Indonesia, yang selama pandemi menjalankan ibadat dalam jaringan (daring) atau ibadat luar jaringan (luring) terbatas. Ia pun ada ketika umat beragama Indonesia bergumul dengan toleransi dan intoleransi saat berhadapan dengan pemeluk agama lain, termasuk saat terjadinya teror di Sigi.

Peristiwa-peristiwa yang luput dari perhatian umum, karena sudah menjadi bagian hidup sehari-hari pun Tuhan hadir di dalamnya: kelahiran dan kehilangan anggota keluarga, bertambahnya usia, prestasi, pencapaian-pencapaian, menang giveaway, dan kesempatan ikut webinar tanpa batas.

Sejalan dengan ajakan Presiden Joko Widodo, yang disampaikan secara virtual di dalam Perayaan Natal Nasional 2020, hendaknya kita tidak kehilangan harapan di tengah beragam tantangan. Pandemi belum tampak ujung akhirnya, sekolah masih belum pasti kapan akan dibuka kembali, kesempatan memperoleh pekerjaan tetap yang diharap belum juga tampil di permukaan, beban hidup masih harus ditanggung menimbulkan rasa putus asa, tetapi percayalah bahwa ada penyertaan Tuhan dan kasihNya yang senantiasa menyertai kita.

Selamat merayakan kebaruan hidup!


Senin, 04 Januari 2021

Kapan Masuk Sekolah Lagi?


Kakak akhirnya berangkat ke sekolah diantar Bunda, setelah sekian lama terkurung di dalam rumah. Memakai seragam putih merah, dasi upacara, sepatu hitam, kaus kaki putih berlogo sekolah, ransel serta tak lupa masker, Kakak menyusuri setiap sudut tempatnya belajar. Lapangan bermain ia singgahi. Ruang kelas dimasuki. Kantin Bu Sri didatangi. Kakak senang bisa kembali ke sekolah. Namun, Kakak sendiri. Sekolah pun lengang.
 
 
Demikianlah sepenggal adegan film pendek berjudul “Kangen Sekolah” besutan sutradara Yopi Kurniawan. Berdurasi 12:17 menit, “Kangen Sekolah” yang pembuatannya didukung oleh Dinas Kebudayaan DIY, menjadi gambaran akan kerinduan seorang pelajar sekolah dasar pada sekolahnya, pada aktivitas yang biasa dilakukan di sekolah. Rindu Kakak bertumpuk saking lamanya belajar dari rumah. 

Perubahan Model Pembelajaran  

Nyaris setahun terakhir ini pandemi Covid-19 memaksa lembaga pendidikan di Indonesia menjalankan kegiatan belajar-mengajar dari rumah. Jika 13 Maret mendatang masih sekolah dari rumah maka pembelajaran jarak jauh akan berulangtahun yang pertama.
 
Belajar dari rumah bukan konsep belajar yang ideal bagi kelompok anak yang terbiasa dengan kehidupan sosial. Mereka telah terbiasa berangkat ke sekolah, belajar tatap muka dalam satu rombongan belajar, mengikuti ekstrakurikuler, pinjam buku di perpustakaan sekolah, bermain di lapangan sekolah maupun jajan di kantin ramai-ramai. Ada figur guru yang ditemui secara nyata dan ada anak sebaya yang disebut teman. 
 
Secara dominan, pandemi mengharuskan para murid tinggal di ruang privat mereka: kamar, rumah, gawai, maupun jaringan Internet masing-masing. Perjumpaan langsung dibatasi sedangkan tatap muka virtual meningkat. Pandemi Covid-19 tidak hanya mengubah model pembelajaran, tapi juga membatasi para murid dan guru dalam bersosialisasi. Padahal, bertatap muka langsung sesungguhnya adalah bagian dari pendidikan juga.
 
Ketika terjadi pandemi dan berujung pada ditutupnya sekolah, anak-anak tidak siap. Perubahan yang terjadi secara cepat dan mendadak menimbulkan kesulitan untuk beradaptasi. Tak ayal, anak-anak mulai dihinggapi rasa bosan, jenuh karena berbagai aktivitas yang melulu berlangsung di rumah. Dampaknya bisa dilihat pada kualitas belajar dan pencapaian anak.

Hantu Kesehatan Mental 

Belum ada kepastian bahwa aktivitas di sekolah akan kembali berjalan normal hingga akhir tahun pelajaran 2020/2021. Bahkan, bisa jadi justru tahun pelajaran berikutnya masih secara daring. Risiko menghantui: Covid-19 dan mutasinya menghadang di luar rumah, stress dan depresi menghantui di dalam rumah.
 
Adegan antara tokoh Bunda dan Kakak di dalam film pendek “Kangen Sekolah” memperlihatkan bahwa anak mengalami tekanan akibat pembelajaran jarak jauh. Tokoh Bunda membombardir Kakak dengan ocehan, perintah, dan informasi pembelajaran jarak jauh yang dikirim lewat group chat sedangkan Kakak merespon dengan ekspresi uring-uringan layaknya seorang anak yang tertekan dengan situasi yang monoton dan membosankan.
 
Kompas terbitan 31 Desember 2020 menampilkan penelitian kualitatif yang mencatat penurunan persentase frekuensi emosi positif dan peningkatan frekuensi emosi negatif di kalangan remaja. Sebelum pandemi, 80% responden merasa bahagia, 71% penuh harapan, dan 66% bergairah dan bersemangat. 
 
Setelah pandemi, terjadi perubahan: 40% responden yang masih merasa bahagia, 45% penuh harapan, dan, mirisnya, hanya 24% yang masih memiliki gairah/semangat. Kesehatan mental, khususnya para murid, mulai di ambang bahaya! Sejalan dengan data tersebut, kasus demi kasus di dalam rumah tangga turut bermunculan. Orang tua yang frustrasi mendampingi anak-anak mereka mulai melakukan kekerasan. 
 
Sebagai contoh, pada 26 Agustus 2020, seperti direkam oleh Kompas (31/12), siswa kelas 1 SD di Banten tewas karena dianiaya ibunya yang tertekan akibat kesulitan anak memahami pelajaran daring. Kasus-kasus bunuh diri di tengah pelajar mulai bermunculan akibat stress dan depresi, yang merupakan efek dari banyaknya tugas dan kurang memadainya fasilitas pendukung. 
 
Berbagai keprihatinan yang muncul di dalam masa pembelajaran daring, mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai kembali pembelajaran tatap muka di sekolah. Pada 20 November 2020, Nadiem Makarim mengumumkan izin pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021, yang diberikan sejauh situasi dan orang tua mendukung. 
 
Faktanya, meningkatnya angka pasien positif Covid-19 di Indonesia menjadikan kebijakan tersebut kembali mentah. Alasan tersebut pun mendorong cukup banyak orang tua untuk menolak mengizinkan anaknya pergi ke sekolah. 
 
Pembelajaran tatap muka ditunda. Para siswa dan guru kembali melakukan kegiatan belajar-mengajar secara daring. Kembali tidak ada kepastian tanggal pembelajaran tatap muka di sekolah; baik murid, guru, dan orang tua kembali bertanya “kapan masuk sekolah lagi?” 
 

Mau Sampai Kapan?

Menghadapi ketidakpastian yang berkepanjangan, lembaga-lembaga pendidikan diharapkan dapat terus melanjutkan pendampingan. Bahkan, pendampingan harus diperluas, bukan hanya di level akademis, melainkan juga dalam hal kesehatan mental.
 
Mengusahakan layanan kesehatan mental menjadi tugas yang harus sekolah-sekolah jalankan, bukan hanya bagi para murid, melainkan juga bagi para guru dan orang tua. Kerja sama dengan tenaga-tenaga ahli, baik psikolog maupun psikiater, harus digiatkan. Guru-guru bimbingan konseling dapat ikut serta dengan giat menyapa para murid bersama keluarga.
 
Sementara itu, para murid jangan terus-menerus dibebani tugas-tugas. Para guru hendaknya juga tidak dituntut untuk menyelesaikan seluruh materi pembelajaran yang kiranya tidak memungkinkan diselesaikan di luar masa normal.

Sebagai gantinya, pembelajaran yang bersifat kreatif dan rekreatif perlu diselipkan di tengah padatnya kurikulum akademis. Bahkan, orang tua murid juga dapat dilibatkan di dalamnya. Sebagai contoh, dinamika kelompok secara virtual dengan permainan-permainan dapat disertakan sebagai bagian dari kurikulum pada masa pandemi. 
 
Dengan adanya pembelajaran yang kreatif dan rekreatif, diharapkan emosi mereka yang terlibat di dalam pembelajaran pun tersalurkan dengan baik, energi positif kembali terbangun di dalam diri mereka. 
 
Kita sadar bahwa situasi yang kita hadapi tidaklah mudah. Kerinduan tatap muka, depresi, serta harap dan cemas bercampur aduk menjadi satu. Oleh karena itu, hendaknya solusi demi solusi kita upayakan dan bagikan demi kebaikan bersama, sambil berharap, pertanyaan “kapan masuk sekolah lagi?” akan segera menemukan jawabannya. []
 
Image: Canva