Kamis,
21 Mei 2026, sebelum acara awarding night The Asian Festival of Children’s Content (AFCC), aku "mengejar" misa harian di Gereja St. Joseph, Singapore. Misa mulai jam 6.30 pm waktu lokal. Mungkin,
jam 6.30 pm adalah waktu yang ideal untuk Misa harian sore, menyesuaikan dengan jam pulang kerja karyawan. Pendapatku ditandai dengan adanya umat yang ikut Misa masih pakai outfit kerja.
Singapore memilliki dua Gereja dengan nama St. Joseph. St. Joseph yang aku datangi berada di Victoria Street, nama jalan di Singapura yang ramai dan sibuk; tak jauh dari kawasan turis Bugis Street. Gereja St. Joseph Victoria Street diasuh oleh Opus Dei sedangkan Gereja St. Joseph satunya lagi berada di Bukit Timah.
Baru kali pertama aku ikut Misa di Gereja St. Joseph, Victoria Street. Imam yang memimpin Misa mengingatkan pada aktor telenovela asal Amerika Latin. Aku mengalami Misa yang unik. Unik macam apa? Akan aku ceritakan secara terpisah biar nggak kepanjangan he-he-he.
![]() |
Gereja St. Joseph, Victoria, Singapore Tampak Depan. Seberangnya Persis adalah Gedung Perpustakaan Nasional Singapore atau Nama ResminyaThe National Library and Archives Board (NLB) |
Aku duduk di baris kedua sebelah kanan dari sisi Panti Umat; berharap bisa menerima komuni dari tangan Imam. Tebak-tebak buah manggis saja, sebab aku belum kenal kebiasaan Gereja ini. Di baris kedua, aku duduk sendirian. Karena aku duduk paling pinggir kiri, maka sebelahku kosong hingga ujung bangku sebelah kanan. Baris pertama hanya diisi seorang perempuan lansia yang didampingi oleh perawatnya.
Saat mendebarkan ketika Komuni. Lansia di depanku menerima Komuni dari Prodiakon. Usai Prodiakon memberikan Komuni ke lansia tersebut, Prodiakon bergeser; berdiri di sisi kiri (dari posisi Panti Umat), bersiap membagi Komuni. Prodiakon lain mengambil Sibori dari atas meja altar. Aku makin deg-degan. Terlebih melihat imamnya santai, seperti tidak ikut membagikan Komuni.
Semakin dekat giliran menerima Komuni, semakin aku dipeluk erat bimbang dan ragu. Dari tempat duduk, dengan jatah waktu yang tinggal sedikit, aku nego dengan diri sendiri, antara mau berdiri menyambut Komuni atau tetap duduk. Memilih tetap duduk sama halnya aku menolak Komuni, padahal aku sudah datang jauh-jauh dari Indonesia dan menantikan kesempatan ini tiba.
Entah memperoleh dorongan dari mana atau dari siapa, aku berdiri ketika datang giliranku. Aku maju dan menempatkan diri di sisi kanan (posisi dari Panti Umat). Aku berada paling depan. Masih ada ragu. Masih terdapat penolakan. Namun, aku pasrah. Kalau memang belum rezekinya terima Komuni dari tangan Imam, semoga akan datang kesempatan berikutnya.
Segala rasa yang ada pada diriku membuatku berani mengode Bapak Tatib yang berdiri di depan, serong kanan, seberangku. Aku menunjuk Imam yang saat itu masih menyelesaikan urusannya di meja altar. Kodeku sebentuk pertanyaan, "Apakah Imam akan membagikan Komuni?" Kode yang kukirim berhasil ditangkap dan dimengerti Bapak Tatib. Dia menganggukkan kepala!
Seketika lenyaplah deg-degan, penolakan, keraguan, bimbang apapun itu, berganti keyakinan dan sukacita! Benar! Tak lama, Imam turun dari Panti Imam dengan membawa Sibori. Imam mengambil tempat persis di hadapanku; iya, dia berdiri di depanku! Dia bersiap membagikan Komuni dan diriku sebagai penerima pertamanya.
Mantap, kubungkukkan badan memberi hormat kepada tubuh Kristus lalu kuterima Komuni diliputi rasa syukur, bahagia juga lega hati. Saat itulah aku merasa "penuh". Tiada kalimat mampu menggantikan semua yang aku rasakan. Mau diceritakan, ya, hanya aku yang mampu merasakannya.
Jangan bimbang.
Jangan ragu.
Terima kasih, Tuhan, atas pengalaman indah bersamaMu...
Sebelum meninggalkan Gereja, aku minta air suci lebih dahulu. Wadah air sucinya aku bawa sendiri. Aku bertemu orang-orang baik yang membantuku mendapatkan air suci dari Gereja St. Joseph, Victoria Street, Singapore.[]



























