Selasa, 30 Juni 2026

Ternyata Lagi Sakit



Tumben Myrn tidak berkutat di dapur padahal dia libur kerja. Sejak Jumat dia WFH (work from home), tapi sebagai manusia yang WFH dan nggak kemana-mana, tak nampak aktivitasnya masak di dapur. Begini alurnya jika Myrn bersiap memasak: belanja ke pasar atau supermarket, food prep, mengolah hasil buruan. 
 
Lalu dimulailah segala rupa kehebohan itu. Sepanjang Myrn berkarya di dapur kost-an, tercium aroma bumbu masak yang menusuk hidung. Saking kuatnya aroma bumbu masak, aku tak kuat menahan bersin. Tak hanya aroma, terdengar berbagai suara yang sesekali mengangetkan. Akhir dari segala kehebohan: dapur berantakan. 
 
Itulah tanda-tanda kehidupan seorang Myrn.
 
Sesuatu yang berbeda terjadi. Myrn tidak begitu aktif di dapur. Keluar kamar juga jarang. Penasaran, tiap kali keluar kamar, kutengok meteran listriknya. Meteran listrik di kamar Myrn kujadikan penanda keberadaannya di kost-an. Jika meteran berkedip merah, berarti Myrn ada di kamar. Kedip merah meteran tak selalu jadi patokan mutlak, karena Myrn bisa saja lupa mematikan meteran saking buru-buru pergi. 
 
Aku pikir, Myrn sedang hectic. Pernah kudengar di malam hari, di hari kerja, dia tengah melakukan video call atau telponan, dengan isi pembicaraan menyangkut pekerjaan. Maka kusimpulkan, Myrn lagi banyak kerjaan yang bikin dia nggak sempat belanja dan masak sendiri~jujur, kalau dapur sepi, aku kangen sama kehebohan Myrn di dapur. Biang segala keramaian di kostan, kan, Myrn...
 
Akhir pekan berganti hari kerja; tepatnya Senin. Tumben, Myrn belum berangkat ngantor. Tak terdengar pula suara-suara yang menandakan eksistensinya di pagi hari layaknya orang bersiap berangkat kerja 😀. Kupikir dia berangkat siang. Kalau nggak berangkat pagi, Myrn berangkat sekitar jam 8.30 WIB. Mendekati 8.30 WIB, belum terdengar suara gedubrak gedubruk Myrn mau berangkat kerja. 

Lantas aku berpikir, oh, mungkin Myrn mau ke luar kota. Karena mau ke luar kota, dia nggak mampir kantor dulu. Pengalaman bertetangga bertahun-tahun dengannya, kalau mau dinas luar kota, Myrn bakal "jalan" sekitar jam 12.00-an. Suara roda koper berputar menandakan Myrn memulai langkahnya menuju luar kota.
 
Dugaanku salah! Hingga lepas siang hari, Myrn belum juga keluar kamar. Tiada pula suara roda koper berputar. Wah, ada apa ini? Ketika Myrn keluar kamar, tujuannya menghampiri kulkas di lantai bawah atau ke kamar mandi. Dapur sepi dari pernak-pernik memasak kepunyaan Myrn. 
 
Tiba-tiba pikiranku menyimpulkan: Myrn sakit.
 
Beberapa hari kemudian, aku bertemu  Myrn di depan kamar masing-masing. Aku tengah mengisi token listrik sedangkan Myrn hendak ke kamar mandi. Tanpa kutanya, dia cerita sendiri kalau dia habis sakit, karena alergi debu. Myrn menuding proyek rumah tetanggalah penyebab alerginya kambuh. 
 
Setelah beberapa kali terka menerka, kali ini tebakanku benar.
 

Sabtu, 13 Juni 2026

Telat Jemput



Tiga puluhan tahun silam, seorang murid di Taman Kanak-Kanak menjadi korban telat jemput orang tuanya. Seharusnya dia pulang sekolah jam 10.00, tapi baru dijemput sejam kemudian; pernah juga mendekati jam 12.00. Telat jemputnya tidak hanya sekali. Bikin repot guru, karena guru baru bisa pulang setelah murid itu dijemput orang tua atau anggota keluarganya. 
 
Murid Taman Kanak-Kanak itu adalah aku yang... saat ini berubah jadi pelaku telat jemput. Bedanya, aku tidak telat jemput seorang anak. Aku telat jemput koran! Meski bukan anak, tetap saja aksi telat jemput berdampak pada orang lain. Kalau dulu dampaknya ke guru, sekarang dampaknya ke staf toko.
 
Salah satu kegiatanku di akhir pekan dan begitu kunanti adalah beli Kompas edisi akhir pekan, khususnya Kompas edisi hari Minggu. Aku menyukai gaya menulis jurnalis Kompas, lebih-lebih tulisan urban issues-nya seputar kehidupan kaum urban. Gaya hidup kaum urban masa kini disajikan menarik dengan sudut pandang dan gaya penulisan khas Kompas. 


Sebelum beralih, Kompas akhir pekan masih terbit hari Sabtu dan Minggu. Kemudian edisi Sabtu dan Minggu digabung, jadilah Kompas Urbana. Transformasi Kompas akhir pekan menjadi Kompas Urbana malah menguntungkan aku. Keuntungannya ialah bisa mengonsumsi dua edisi sekaligus! Aku bisa balik membaca Experd-nya Eileen Rahman (pernah, Experd berbagi ruang dengan Your Job is Not Your Career-nya Rene Suhardono. Keduanya kerap aku dahulukan sebelum membaca rubrik berita). 
  
Aku telat jemput Kompas Urbana yang aku beli sejak hari Sabtu pagi. Ada saja alasan menunda jemput Kompas. Aku merasa tidak tergesa, karena sudah kebagian Kompas. Mau diambil hari Sabtu, Minggu atau malah Senin sekalipun, toh, Kompas itu sudah jadi milikku. 
 
Kalau sudah pasti telat jemput Kompas Urbana, aku kirim pesan ke toko tempat aku beli Kompas. Aku sampaikan kalau aku belum bisa ambil (Kompas sampai) hari Minggu; aku akan mengambilnya hari Senin usai jam kerja. Biar kewajiban status pembayaran nggak "menggantung", Kompas-nya aku bayar lebih dulu. Cukup telat jemput, tapi tidak telat bayar.[]