Senin, 06 Juli 2026

Yaaa, Kok Pulang...



Minggu pagi, Gereja Agnus Dei lebih ramai ketimbang biasanya. Penyebabnya ialah datangnya Kelompok dari Brayut, Yogyakarta (selanjutnya disebut Kelompok Brayut). Dengan mencarter bus wisata ukuran sedang, Kelompok Brayut hendak cari dana untuk pembangunan gereja mereka. Lazim bagi "Gereja maju" menjadi tujuan "Gereja berkembang" mencari dana.
 
Kelompok Brayut membawa bermacam dagangan, seperti bakpia khas Yogyakarta, madu dalam kemasan botol, keripik jamur, keripik manggleng, salak serta lukisan lengkap dengan piguranya. Sebelum ikut misa jam 10.00, aku mendatangi meja jualan mereka yang berada di muka kantin Gereja Agnus Dei. Niat hati mau beli salak dan keripik jamur. Ternyata, salak sudah sold out! Aku tidak kebagian. 
 
Pilihan yang menarik tinggal keripik jamur dan manggleng. Masing-masing dikemas dengan plastik model standing pouch. Manggleng jauh lebih menarik! Jarang kutemukan manggleng di supermarket yang biasa aku datangi. Jadilah aku pilih manggleng yang dijual di harga 30.000. Bagiku, harga 30.000 beda tipis dengan camilan yang dijual di sentra oleh-oleh atau supermarket. 
 
Ada hal lain yang buatku senang selain mendapatkan satu pouch manggleng: aku bisa ngobrol sama ibu penjual pakai bahasa Jawa; krama pula! Bertahun-tahun merantau ke Jakarta, aku kangen ngomong pakai bahasa jawa krama. Bicara pakai bahasa jawa krama di Jakarta adalah hal yang langka. Belum tentu dilakukan seminggu sekali.
 
Namun, aku harus tahu diri. Si ibu sibuk melayani pembeli yang membludak. Saking membludak, penjualnya sampai tidak terlihat. Tak hanya soal kesibukan, aku harus menyadari bahwa orang lain belum tentu bersedia bersedia meladeniku. Aku punya banyak energi buat ngomong bahasa Jawa krama karena kerinduan akan bicara dengan bahasa jawa krama, tapi bagaimana dengan orang itu?
 
Rampung bertransaksi, berat rasanya harus undur diri. Aku merasakan suatu kehilangan; kehilangan orang-orang yang membuat aku hidup sebagai wong Jawa. Beralas kepentingan yang berbeda, mereka cari dana sedangkan aku ibadah hari Minggu, kami bertemu sebagai penduduk Yogyakarta yang sedang berada di tanah Jakarta.
 
Balik ke kamar kost, aku masih kepikiran sembari menikmati manggleng. Klethas... klethus... klethas... klethus manggleng yang enak! Menyesal aku cuma beli sebungkus. Kesenangan yang kudapat di Gereja masih ada hingga kubawa pulang ke kamar kost. Pikiranku mulai bercabang. 

Satu kepala memikirkan banyak hal: keinginan pulang kampung, kangen sama masakan rumahan, rindu dengan suasana kampung, rindu dengan segenap aktivitas yang biasa kulakukan di dalam rumah (makan sambil ngobrol dengan anggota keluarga, menikmati film komedi yang dibintangi Warkop atau Ratmi B29 di televisi swasta, mencuci pakaian, bersih-bersih rumah) serta... rindu dengan rumah yang masih banyak penghuninya.[]