Selesai makan di salah satu tempat makan di daerah Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, aku berencana balik ke hotel. Hari masih sore, tapi karena ada satu urusan, harus balik hotel segera. Temanku order taksi lewat aplikasi milik taksi tersebut; taksi yang sudah punya nama besar dan tersebar di berbagai kota, terutama kota besar.
Tak perlu menunggu lama, orderan kami sudah diterima driver. Kami menunggu di pinggir jalan (tempat makan itu nggak punya halaman atau area khusus untuk naik dan turun taksi) sambil ngobrol random. Dari kejauhan, terlihat taksi pesanan kami. Perlahan taksi mendekat. Temanku melambaikan tangan agar driver melihat kami, calon penumpangnya.
Kami pun masuk. Di sinilah kehebohan dimulai! Driver taksi konfirmasi alamat tujuan. Disebutkan sebuah hotel legendaris di daerah Pandanaran. Sontak, kami terkejut, karena, meskipun sama-sama tujuannya ke hotel, tapi bukan hotel yang namanya disebut oleh driver taksi. Aku minta temanku yang order taksi cek ulang aplikasi; siapa tahu dia salah memasukkan alamat.
Sambil temanku cek aplikasi, driver menyebutkan nama customer yang order taksi. Namanya beda! Pas temanku cek nomor taksinya juga berbeda. Astagaa, kami salah masuk taksi! Untung taksi belum berjalan jauh. Aku lihat ke belakang (lewat kaca belakang), tidak terlihat taksi dengan warna yang sama. Meskipun demikian, kami tetap buru-buru turun dari taksi dan minta maaf.
Temanku yang order taksi lalu sibuk dengan HP-nya, cek aplikasi taksi, dan kontak-kontakan dengan driver yang sesungguhnya. Taksi yang salah sudah pergi, putar balik menjemput penumpangnya yang asli, di tempat kami naik. Ngakak sih... Gara-gara nggak memperhatikan nomor lambung dan asal masuk; mentang-mentang merk dan warna taksinya sama.[]


0 comments:
Posting Komentar