Buat anak kost, ada waktu di mana kita menyambut tetangga kost yang baru datang dan melepas tetangga kost yang pindahan. Bagian yang menyesakkan dari nge-kost ketika tetangga kost, yang sudah hidup bersama sekian waktu, meringkasi barang-barangnya. Pindah. Kamar yang biasanya bersuara, terang bercahaya berubah gelap dan kosong.
Ketika mendapati tetangga kost pindah, tetap ada bagian kecil yang menyenangkan. Terasa menyenangkan karena kita menjadi saksi perjalanan hidup seseorang; pindah kerja, diterima kerja di tempat yang baru atau berencana menikah. Satu peristiwa melahirkan beragam rasa; ada sedihnya, ada kehilangannya, ada senangnya juga. Lewat fase baru, manusia diperbarui kualitas hidupnya, rejekinya.
Penghuni lama kost-an tinggal aku dan Myrn setelah Minul pindah. Feeling-ku sesungguhnya sudah kurasakan beberapa waktu belakangan, melihat dia sibuk dari kostan pergi ke suatu tempat, kemudian balik kostan dan pergi lagi. Kemudian, dia bebersih kamar dan buang sampah lumayan banyak. Langka melihat Minul bebersih kamar; lha wong abis pergi atau pulang kerja saja dia masuk kamar dan nggak bebersih diri apalagi sekadar membersihkan kamar.
Keanehan berikut, kulihat dia seperti memindah-mindahkan barang. Puncaknya Minggu pagi, 19 Juli 2026, Minul membereskan wadah jemurannya. Di dalam kamar, terdengar dia mretelin wadah jemuran itu. Barangkali, Minul memilih mretelin di dalam kamar biar bisa sambil melantai. Kalau dipretelinnya di lorong kostan tentunya akan menghalangi jalan.
Sore, aku lupa jamnya, Minul mengeluarkan barang-barangnya dari dalam kamar ke luar kostan. Dia membawanya sendirian menuruni anak tangga. Terhitung beberapa kali Minul bolak balik. Hingga akhirnya the last part adalah dirinya sendiri dan ransel di punggung. Semua aku lihat dari balik jendela kamarku.
Dan perasaanku berkecamuk.
Keluar kamar, aku mendapati lampu kamar Minul masih menyala. Aku pikir, dia sengaja membiarkan lampu tetap menyala untuk buang token listrik. Kulihat tokennya masih ada sekitar 5000-an. Namun, kunci kamar dibawa Minul. Selang beberapa waktu, aku pergi untuk satu urusan.
Mengejutkan ketika sekitar jam 22.30 Minul kembali ke kost-an. Pintu samping garasi yang telah kututup rapat dibuka Minul. Aku malas turun. Kupikir Minul tidak akan kembali. Aku jadi berpikir, jika pintu kututup rapat kembali, tapi Minul pergi lagi kan sangat merepotkan. Sudahlah pasrah saja, semoga malam ini tidak ada kucing masuk kost-an dan buang kotoran di area kost-an.
Minul bermalam di kamarnya. Dia seperti menghindari interaksi dengan orang-orang yang pernah hidup se-kost-an dengannya. Semalaman aku dibuat overthinking sama si Minul. Ngapain dia balik kostan? Kalau ada barang ketinggalan, kan, bisa diambil hari berikutnya, kan? Asalkan ngomong sama Ibu Kost, pasti Ibu Kost mengizinkan dan kamarnya tidak dibersihkan sama asisten rumah tangga Ibu Kost.
Pagi, sekitar jam 5.22 (aku sempat lihat jam di handphone), Minul keluar kamar. Kupikir dia mau ke kamar mandi. Ternyata dia meninggalkan kostan. Tanpa mandi. Ceklek... Ceklek... Pintu kamar dikunci dua kali; kebiasaan Minul tiap kali berangkat kerja, pergi seharian, dinas luar, mudik atau apapun yang menandakan dia tidak berada di dalam kamar dalam waktu yang lama dan jarak yang jauh.
Dia turun dengan ransel di punggung dan tentengan tas kecil. Aku melihatnya dari balik jendela kamarku. Kudengar kemudian suara alarm motor diikuti pagar yang kembali dislot.
Keluar kamar, kulihat lampu kamar Minul telah dimatikan. Hmmm, aku pikir dia balik ke kostan semalam itu demi bisa mengembalikan kunci kamar yang masih dia bawa. Atau nggak sengaja kebawa? Pagi masih hening, tapi tidak dengan isi kepala juga perasaanku.[]


0 comments:
Posting Komentar