Baruuu aja geser pintu pagar kost-an, seorang ibu mendekat. Aku pikir si ibu mau memberitahu tahu kalau Abang GoFood-ku berhenti di rumah dia. Belakangan, titik lokasi kost-anku nggak valid bikin kacau pengantaran makanan. Abang Gofood suka kebablasan sampai masuk-masuk gang kecil padahal rumahnya pinggir jalan utama.
Aku sudah berusaha mengoreksi "titik", tapi tetap saja tidak sesuai. Ah, entahlah... Jadilah aku bersiap di depan rumah sekitar tiga menitan nungguin Abang GoFood. Ketika Abang GoFood kian dekat, aku bisa mencegat dia agar tidak kebablasan atau salah jalan.
Ternyata si ibu mencari paket; paketnya atas nama Rayhan (atau Reihan atau Raihan-itu lah pokoknya).
Bertanyalah aku, "Ibu rumahnya mana?"
Dijawabnya, "Ujung, dekat bengkel."
Hmmm, memang, di ujung dekat gang yang mengarah ke Jalan Terawang memang ada bengkel kecil; mirip bengkel sepeda. Tak jauh dari bengkel itu, ada deretan rumah. Ada pula gang-gang kecil yang berisi banyak rumah. Tipikal kampung padat penduduk di Jakarta.
Kalau dipikir-pikir, rasanya janggal kalau paketnya nyasar sejauh ini. Selang banyak rumah soalnya.
Insting tidak gampang percayaku langsung aktif. Apalagi sebelum buka pintu pagar menanti Abang GoFood, aku sempat mengintip isi kotak paket.
[Ibu Kost menyediakan satu kotak karton ukuran medium untuk wadah paket. Semua paket yang dialamatkan ke rumah tersebut, ditujukan kepada pemilik rumah atau anak kost, paketnya masuk kotak. Dilempar sama kurir pun, kalo ada yang mungut paketnya, ujung-ujungnya akan masuk ke dalam kotak paket].
Tidak ada paket untuk seorang bernama Rayhan atau Reihan atau Rehan. Di hari si ibu datang ke kostan, hanya ada paket buat Myrn dan Naya.
Kusarankan si ibu balik keesokan hari. Siapa tahu paket si ibu memang nyasar ke rumah, nyariin paketnya lebih enak, karena pas pemilik rumah beraktivitas. Malam itu, pemilik rumah tampaknya sudah pada masuk kamar. Aku sendiri nggak enak kalau ngetok rumah. Si ibu balik badan dan pergi. Langkahnya gontai.
Sebetulnya, yang kulakukan malam itu cuma mengamankan sekitar rumah.
Pertama, tentu mengamankan paket yang masuk ke rumah. Jangan sampai memberi kesempatan si ibu mengenali siapa saja penerima paket di rumah yang dia datangi. Hari ini dia cari paket buat Rehan, lain hari bisa saja dia mengklaim paket orang adalah miliknya.
Kedua, tidak jelas relasi antara si ibu dengan Rehan. Apakah Rehan adalah anaknya, keponakannya, suaminya atau cucunya. Tiba-tiba, dia mau cari paket buat Rehan.
Ketiga, aku tidak mau memberi peluang orang asing masuk halaman rumah untuk screening area rumah. Jaman lagi serba sulit, ada saja cara orang untuk berbuat jahat. Jangan sampai gara-gara kita terlalu permisif sama orang asing berujung pada kerugian.
Semoga kita senantiasa dijauhkan dari orang-orang yang berkehendak jahat.[]


0 comments:
Posting Komentar