Pulang kerja, Myrn langsung berkutat di dapur kost-an. Tumben dia masak di hari kerja. Aroma masakannya menyelinap ke dalam kamarku yang persis bersebelahan dengan dapur. Aku, yang lagi baca buku di kamar sampai mencium aroma masakan Myrn. Aromanya khas, karena bukan pertama kali Myrn bikin masakan yang sama.
Terdengar Myrn masuk kamar. Aku pikir, dia makan di dalam kamar, karena tak lagi terdengar aktivitas Myrn di dapur. Kost pun kembali sepi. Tetangga kamar yang sederet dengan kamarku pun lebih memilih di dalam kamar, karena hari sudah malam dan besok masih ngantor.
Muncul keinginanku untuk pipis. Aku beranjak dari kursi, meraih botol sabun, kemudian keluar kamar. Dari depan pintu kamar, aku melihat ada wajan antilengket dengan pegangan panjangnya nangkring di atas kompor.
Wajannya terbuka.
Saking penasaran dengan masakan Myrn, sebelum ke kamar mandi, aku mengintip isi wajan.
Hiiiii.... lelenya gede banget!
Lele-lele tak terhitung jumlahnya ngruntel di dalam wajan.
Geli melihatnya. Sebelum ketahuan Myrn, aku balik badan dan berjalan cepat ke arah kamar mandi.
Myrn bikin mangut lele-kelihatannya. Mangut lele ditinggal lama ruang terbuka tanpa wajannya ditutup. Sanksi jadinya dengan higienitas masakan.
Apakah Myrn mau potluck-an di kantor? Keesokan pagi, mangut lele se-wajan itu sudah pindah ke dalam kotak makan yang terbuat dari plastik.
Kalau benar untuk potluck, entah itu buat sarapan atau santap siang bersama... Hmmm... Apa jadinya kalau teman sekantornya, yang ikutan menikmati lele itu tahu proses memasaknya? Apa temennya nggak geli liat si lele dumbo?
Nggak perlu tahu kali ya? He-he-he...[]

0 comments:
Posting Komentar