Tak lengkap rasanya kalau ziarah Gereja, apalagi Gereja yang berada di luar Indonesia, hanya lihat-lihat bangunannya, doa, ambil foto lalu pulang. Berkesempatan ke Singapore untuk mengikuti The Asian Festival of Children’s Content (AFCC), aku meniatkan diri ikut Misa dan minta air suci dari Gereja yang mudah dijangkau selama perjalanan singkat di Singapore.
Adalah Gereja St. Joseph yang letaknya berseberangan dengan venue AFCC. Tak mengapa kalau rezekinya baru ikut Misa harian, karena aku berada di Singapore hanya tanggal 21 dan 22 Mei 2026. Doaku, pada kesempatan berikutnya, aku boleh ikut Misa hari Minggu atau Hari Raya.
Cerita seorang kawan, Gereja St. Joseph di Victoria Street adalah satu dari tiga Gereja Devosi di Singapore. Dua Gereja Devosi lainnya, yakni Gereja Katedral Singapore dengan nama resminya The Cathedral of the Good Shepherd dan Gereja The Church of St. Alphonsus atau lebih dikenal dengan nama Gereja Novena; keduanya sudah saya kunjungi di akhir Desember 2025.
Meskipun letak Gereja St. Joseph sebrangan doang dengan National Library Building, tetap saja aku nggak bisa asal menyeberang. Aku harus berjalan kaki sedikit untuk mencari zebra cross. Seru juga, ya, menyeberang jalan di zebra cross bareng warga lokal Singapore dan orang-orang dari beragam negara. Si A pemegang paspor warna apa, Si B pemegang paspor negara mana... Penduduk bumi bertemu di zebra cross Victoria Street lalu menyeberang bareng.
Karena sudah niat mau minta air suci, aku bawa botol kosong untuk wadah air suci. Botol kosong terbuat dari material plastik berukuran 50ml aku beli di gerai Miniso cabang Grand Indonesia. Saat packing, botol kecil itu sengaja aku masukkan ke make up pouch khusus di dalam tas ransel biar nggak lupa.
Aku datang ke Gereja St. Joseph ketika Gereja masih sepi; hanya ada turis entah dari negara mana dan diriku. Aku salah melihat jam. Aku pikir, Misa-nya jam 5 pm waktu setempat. Ternyata, Misa-nya jam 6.30. Aku sempat galau, ikut Misa nggak, ya? Karena jam 7 pm mulai Awarding Night AFCC. Kalau ikut Misa, bisa-bisa aku telat datang ke acara. Aku putuskan tetap ikut Misa.
Baca juga
Selesai Misa, aku menghampiri seorang laki-laki petugas tatib misa. Aku katakan kalau aku membutuhkan air suci. Aku tunjukkan wadahnya. Bapak tatib, yang tak kuketahui namanya itu, memintaku menunggu sebentar. Tak lama muncul seorang ibu-ibu dari dalam ruangan samping mimbar Lektor. Kemungkinan ruang Sakristi Gereja. Lagi, aku sampaikan kalau aku memerlukan air suci. Kuserahkan botol kepada perempuan itu. Dia memintaku menunggu sebentar.
Kuperhatikan dia jalan ke arah pintu keluar. Kayaknya dia mau ambil air suci yang ada di pintu masuk Gereja. Hatiku menolak.
"Jangan itu, dong! Ya kaliii bekas celupan tangan orang banyak."
Bak sebuah keajaiban!
Ibu-ibu itu berjalan menuju Panti Imam, lalu membuka bejana yang ada di Panti Imam. Pikirku, itu Bejana Baptis; wadah air suci yang akan dipakai untuk membaptis atau kebutuhan sakramental lainnya. Ibu-ibu itu urung mengambil air suci dari pintu Gereja!
Hatiku bersorak. Mantap rasanya kalau air sucinya ambil dari Bejana Baptis. Apalagi, sebelum air itu diciduk ke dalam botol, ada Misa. Sungguh sangat terberkati air suciku ini. Semoga bisa jadi sarana doa dan menguatkan iman.
Ibu-ibu itu menghampiriku dan menyerahkan botol yang terisi penuh air suci. Aku menerimanya dengan penuh haru. Lamat-lamat terdengar suara musik dari seberang. Awarding Night mau dimulai, nih! Harus segera kembali ke venue. Kuucapkan terima kasih banyak kepada para penolongku. Sebelum keluar Gereja, aku berjanji akan kembali suatu saat nanti.
Langit Singapore merayap gelap. Petang digantikan malam. Jalanan ramai. Masih terdapat sisa-sisa bubaran Misa. Tebersit secuil asa bekerja di Singapore, tapi nggak ah! Hariku berlimpah rasa syukur. Tuhan telah memberiku kesempatan ikut Misa. Tuhan memudahkan aku untuk mendapatkan air suci; sesuai keinginanku, persis seperti rencanaku.[]





0 comments:
Posting Komentar