Selasa, 25 November 2025

Kiriman Kue Ulang Tahun


Terlihat seorang laki-laki berada di balik pagar; di atas sepeda motor. Aku pikir, dia pengantar makanan pesananku. Ketika pagar kubuka, laki-laki itu, kita sebut saja Abang Kurir, langsung menyodorkan bungkusan di dalam kantong plastik. Kantong plastiknya bening sehingga aku bisa melihat isinya: kardus berbentuk persegi.
 
"Pesan kue ulang tahun, ya?"

Karuan saja aku menggeleng. Aku nggak pesan kue ulang tahun. Pesananku adalah satu porsi mie ayam pangsit bakso, lengkap dengan ekstra kuah. 

Abang Kurir menyebut nama. Nama si penerima. Nama yang disebut terdengar asing bagiku. Bukan nama tetangga kost-an, bukan nama-nama anggota keluarga Ibu Kost (setauku), bukan pula nama asisten rumah tangga Ibu Kost.
 
Aku tanya balik ke Abang Kurir, "Pengirimnya siapa?"
 
Abang Kurir menyebut sebuah nama. Nama seorang perempuan.
 
Lagi, aku bilang kalau nama yang dia sebut tidak ada di area rumah yang aku tempati.
 
Abang Kurir bersikukuh kalau alamat kirim sudah benar. Alamat tempat tinggalku disebutnya, detail hingga ke nomor RT dan RW. Untuk meyakinkanku, Abang Kurir tak segan menunjukkan bukti chat-nya dengan si pengirim kue. Dan si pengirim kue membenarkan alamat kirim termasuk mengiyakan bahwa foto pagar rumah yang kutinggali itu merupakan rumah si penerima kue ulang tahun.
 
Kok aneh? 
 
Aku menoleh ke belakang, kali aja ada tetangga kost keluar dan ternyata dialah orang yang dimaksud Abang Kurir. 

Nihil. 
 
Tidak ada seorang pun melewati pintu dan mendatangi Abang Kurir.  
 
Tak lama kemudian, Abang Kurir bilang kalau si penerima kue ulang tahun belum balas chat dari si pengirim kue.  
 
Ndilalah makanan pesananku sudah datang. Abang Kurir masih bertahan di depan pagar. Katanya, nggak apa-apa nungguin kabar dari pengirim dan penerima kue. Aku pun masuk rumah.
 
Pintu pagar kukunci. 
 
Dari balik jendela, aku lihat Abang Kurir masih stay di tempatnya. Tidak ada tanda-tanda pergerakan. Penasaran, siapakah penerima kue ulang tahun itu? Apakah si penerima masih keluarga Ibu Kost? Atau orang lain yang sengaja pakai alamat kostan untuk titik antar; sekadar titik antar biar kurir nggak nyasar?
 
Aku tidak tahu kelanjutannya. Keburu lapar he-he-he...
 
Aku teringat makanan misterius yang tergantung di pagar kostan. Paket makanannya masih hangat, isinya kayak nasi padang, dibungkus plastik kresek warna putih, lengkap dengan nota. Yang mengherankan adalah kenapa makanan itu cuma dicantol di pagar? Apakah kurirnya harus segera mengantar ke tempat lain sehingga buru-buru banget? Apakah kurir sudah panggil berkali-kali, tapi nggak ada respons? Aku nggak bisa cek siapa yang order lantaran nota ada di dalam plastik kresek. Akan jadi kesalahanku kalau aku membuka kresek makanan tersebut. Jadi, selama 2025, aku telah mengalami kasus makanan misterius sebanyak dua kali.
 
Aku pikir, ada untungnya kue itu tidak kuterima. Ada untungnya aku gak terlalu helpful. Berisiko kalau menerima kue dari orang yang nggak jelas penerima dan pengirimnya. Takutnya malah mencelakakan diri sendiri dan orang-orang di sekitarku. 

Mudah-mudahan kue itu benar dikirim untuk penerima yang ulang tahun, biar yang ulang tahun merasa happy, bukan malah terancam keselamatan dan terganggu kesehatannya.[]

Kamis, 20 November 2025

14 November, 4 Tahun Silam



Putar balik peristiwa 4 tahun silam...
 
14 November 2021
 
Sekarang hari Minggu. Usai semalaman berada di dalam kereta api, duduk di kursi yang dapat sebutan "kursi jomblo", menikmati suara kereta yang seksi di telinga, aku tiba di Jakarta.
 
Adalah Stasiun Gambir yang kutapaki pertama kali sebagai perantau.
 
Perasaanku masih sama. Campur aduk. Tapi, hidup harus berubah. Aku sungguh-sungguh ingin mengubah nasib. Aku pengin punya penghasilan sendiri. Aku ingin mewujudkan cita-cita-citaku. Cita-cita yang bisa terwujud kalau aku punya duit. Tidak mungkin aku mengandalkan pemberian dari saudara.
 
Cintaku kepada Yogyakarta tidak akan pernah luntur. Aku sangat berterima kasih kepada Yogyakarta yang telah melahirkanku, merawatku, memberiku ruang tumbuh yang sederhana-alami-apa adanya sejak masa kanak-kanak hingga dewasa sekaligus menempaku lewat badai yang satu demi satu menerjang hidupku. 
 
Pemandangan yang kutemui di pagi, masih muka bantal sisa tidur-tidur ayam, adalah orang-orang bersepeda. Ada yang bersepeda sendirian, ada yang berkelompok. Tidak banyak ternyata yang mampu kurekam. Aku masih tidak percaya dengan perubahan hidupku mulai hari ini hingga hari-hari berikutnya.
 
Sahabat karib yang menjemputku mengajak mampir sarapan. Bubur ayam Cikini jadi tujuan kami. Bisa dikata aku bukan manusia yang wajib sarapan. Namun, sebagai sebentuk penyambutan, aku mengiyakan ajakan sahabatku. Mari kita ikuti tradisi sarapan orang Jakarta: bubur ayam.
 
Bubur Ayam Cikini sudah ramai. Suara manusia dengan beragam topik pembicaraan nyampur di udara. Kedengaran seperti dengung yang sulit ditangkap isinya. Di lantai 1, orang-orang berhari Minggu dengan olah raga dan sarapan bubur ayam (atau dibalik). Kami memilih makan di lantai 2. 

Ada tempat duduk di ujung ruang, sebelah jendela kaca. Cukup untuk berdua. Jendela kaca itu mengantar segenap pandangku ke arah beton layang sebagai jalur kereta api jarak jauh yang masuk ke atau keluar dari Stasiun Gambir maupun KRL Jabodetabek yang melintas jalur Stasiun Cikini dan Stasiun Gondangdia. 
 
Baru bertama kali mencicipi bubur ayam Cikini ditambah masih jet lag ditambah nggak terbiasa sarapan di jam sepagi itu, bikin aku kurang semangat melihat-lihat menu. Cari praktis, aku ikut pesanan sahabatku saja. Kami pun pesan bubur ayam varian dan porsi yang sama. 

Sebagai pelengkap, sahabatku menawari pesan martabak. Lagi-lagi aku ngikut aja, kali ini disertai syarat, martabaknya buat berdua, biar nggak kebanyakan. Aku nikmati sarapan perdana sebagai perantau hingga tandas meskipun aneka rasa menggayut di diriku.
 
Ibu kost menyambutku di halaman rumahnya. Dia bersama seorang gadis mungil (mungkin umurnya  sekitar 3 tahun) yang kukenali kemudian sebagai anak pertamanya. Ibu kost yang masih muda itu mempersilakan temanku mengantar sampai ke kamar yang berada di lantai 2. Kost-an terlihat baru, kamar tampak baru dan bersih, kost-an satu halaman dengan rumah pemilik kost-an, jumlah kamar hanya ada 4.
 
Barang bawaanku sudah masuk kamar semuanya. Bagasi belakang mobil sahabatku sudah kosong. Giliran sahabatku pamit. Sekejap, tinggal aku seorang diri di kamar. Bingung mau ngapain. Suasana kost-an sepi. Entah lagi ngapain tetanggaku. Aku merasa canggung. 
 
Nihil pengalaman nge-kost bikin aku tidak punya persiapan apapun. Masuk kost-an pun aku nggak bawa makanan dan minuman untuk nyetok di kamar. Betul-betul cuma bawa barang dari rumah. Beruntung, fasilitas kost-an tidak perlu membuatku tidur di lantai beralas ubin. 
 
Dengan harga sewa per bulan di atas sejuta, aku sudah dapat fasilitas yang menuruku lebih dari cukup untuk mengawali hidup baru di tanah rantau: tempat tidur single, kasur springbed lengkap dengan satu bantal, satu set sepreisarung bantal sebiji, selimut bedcover dengan motif senada, meja belajar, kursi, lemari pakaian single, AC, cermin seukuran badan serta Wifi. 
 
Di luar kamar, ada keset yang menurutku bagus kualitasnya. Terdapat pula gantungan pakaian yang terbuat dari besi dengan kualitas yang bagus. Kamar yang mungil, kamar mandi di luar, dapur bersama tetap menjadikan kost-an ini baik adanya di mataku. 
 
Ibu Kost menawariku menjemur pakaian di area rumahnya. Tawaran itu terpaksa tidak kugunakan. Aku nggak enak menjemur pakaian di rumah orang. Tidak terbiasa... 
 
Besok Senin, 15 November 2021, akan jadi hari pertamaku bekerja, nih! Apa yang akan terjadi? Oh iya, kamu, yang baca blog ini, cerita dong hari pertamamu bekerja. Dan, apakah sampai hari ini kamu masih bekerja di tempat pertama kali bekerja atau sudah pindah?[]
 

15 November, 4 Tahun Rupanya...



Senin, 15 November 2021 datang juga...
 
Secara khusus aku tidak menunggu datangnya 15 November, tapi hari pertama bekerja itulah yang jadi penantianku sekian lama. 
 
Pengalamanku mengatakan bahwa mencari pekerjaan tidaklah semudah yang orang lain alami. Usaha juga doa tak putus dilakukan. Berkali jatuh, berkali pula berusaha bangkit, terus menyemangati diri, tak henti menanamkan keyakinan pada diri sendiri bahwa suatu saat akan datang jatahku. Jalan hidup baru mengantarkanku usai lamanya waktu menguji kesabaran dan keikhlasanku.

Selamat Pagi, Dunia (Kerja)! 

Jam kerjaku dimulai jam 7.00. Tidak masalah buat aku yang sudah terbiasa bangun pagi. Yang jadi masalah adalah kenapa aku malah deg-degan? Aku takut melakukan kesalahan di hari pertama bekerja. Aku takut nggak bisa kerja. Aku dihinggapi khawatir tidak mampu menyesuaikan diri. Bayangan tentang karakteristik pekerja di Jakarta menakutiku. Seperti apakah rekan kerjaku nanti? Apakah mereka orang-orang baik? Apakah mereka akan menerima aku sebagai partner kerja?
 
Bersyukur aku dapat kost-an yang dekat dengan tempat kerja. Cukup jalan kaki sekitar 7 menit. Sepeda motor tetap berada di kampung halaman. Biar motor dipakai orang rumah untuk segala keperluan mereka. Aku? Seperti kebiasaanku, aku tidak terbiasa motoran. Tidak masalah kalau di Jakarta pun aku tidak bermotor lebih dulu. 
 
Menyambut hari baru, aku berjalan melintasi setapak permukiman penduduk ibukota. Di kanan dan kiriku berimpitan bangunan rumah. Kebanyakan adalah bangunan bertingkat mengingat keterbatasan lahan dan mahalnya harga tanah di Jakarta. Identitas Jakarta terpampang nyata: jalanan ber"ranjau", air got tampak tidak mengalir, kucing berseliweran, dan minimnya standar higienitas rumah tangga. 

Teman berjalanku adalah orang-orang yang harus bekerja atau berangkat kerja di pagi hari. Tampaknya anak-anak sekolah masih sekolah online, karena saat itu risiko penularan Covid di Jakarta terhitung tinggi. Lainnya adalah mereka yang beraktivitas pagi seperti beli sarapan atau jalan ke warung.

Langsung Nyasar... 

Aku berhadapan dengan risiko menerjang badai Covid-19 dari kampung halaman menuju rantau. Namun, menunggu Covid-19 hengkang dari bumi sama halnya membiarkan ketidakpastian. Bagaimana aku bisa berkembang? Bagaimana dengan rencanaku?
 
Di depanku ada pertigaan. Aku harus belok kanan atau terus lurus? Jalan lurus terlihat menyempit sedangkan kalau belok kanan, kelihatan ada jalan yang lebih lebar. Gerak hati membawaku belok ke kanan. 
 
Justru aku memilih jalan yang salah! Sebetulnya nggak salah-salah amat. Tetap bisa sampai tujuan, tapi lewat jalan raya. Dan aku tidak tahu rute tercepat ke tempat kerjaku kalau lewat jalan raya. Sementara aku kebingungan dan khawatir terlambat, jam terus bergerak maju. Waktu sangat tidak bermurah hati kepadaku. 
 
Aku menyeberang jalan dan berhenti di depan minimarket. Celingak-celinguk. Ini tempat apa? Aku berusaha cek di map, tapi aku belum paham daerah tersebut. Di depan minimarket, aku berpikir, tempat kerjaku ke kanan atau ke kiri? Terpikir untuk menghentikan angkot atau naik ojol. Namun, sebelum aku menghentikan angkot atau order ojol, aku mendadak ingat sesuatu: kenapa nggak telpon temanku saja?

Penolong Datang! 

Tuhan mengirimkan temanku di tempat aku kebingungan sekaligus udah mau nangis gara-gara dikit lagi terlambat. Pertolongan Tuhan dan pertolongan temanku datang di saat yang sungguh tepat. Tak terbayang nasibku di hari pertama kerja. Aku tidak mau membuat catatan buruk sejak hari pertama kerja.
 
Temanku memboncengkan aku menuju tempat kerjaku. Sepanjang jalan, otakku berbagi tugas: komat-kamit baca doa jangan sampai terlambat dan menghapal jalan supaya kejadian serupa tidak terulang.
 
Rupanya saat itu aku sudah setengah jalan. Tapi, kalau jalan kaki pun bakalan terlambat, karena harus memutar lewat perumahan. Gerbang terdekat, tak jauh dari sekolahan, masih tertutup rapat, karena sekolah masih online. Kata temanku, biasanya pagar (baca: gerbang)nya dibuka.
 
Sampai di tempat kerja, aku bertemu dengan seorang staf laki-laki. Atasan memberi mandat kepadanya untuk mendampingi aku di hari pertama masuk kerja. Pertama, aku diberi orientasi singkat mengenai tempat kerjaku. Kedua, aku diajak keliling lingkungan kerja, dikenalkan ke semua karyawan. Ketiga, dia mengantarku ke unit kerja penempatan.
 
Menandai 4 tahun hari pertamaku di "sana", kuberucap, "Terima kasih semesta, untuk semua orang baik yang kujumpai, para penolong yang tiada pamrih, segala hal baik yang boleh jadi pengalaman bernilai serta memori baik yang membawaku mendewasa..."[]
 
 

Selasa, 18 November 2025

13 November, 4 Tahun yang Lalu


 
13 November 2021 jadi tanggal penting dalam seluruh hidupku. Mungkin Tuhan, berkolaborasi dengan semesta, telah merencanakan tanggal 13 November 2021 dalam sejarah hidupku. Akan tetapi, aku baru tahu ketika tanggal itu ada di tahun 2021.
 
13 November
 
Aku sudah selesai berkemas meskipun koper-satu-satunya koper-belum kukunci. Harusnya barang yang dibawa melebihi yang ada di depan mataku. Namun, keterbatasan ruang, sarana, tenaga juga biaya pindahan memaksa aku mengerem keinginanku membawa barang-barang pribadiku. 
 
Aku bisa mengambil barang-barang yang masih tertinggal ketika aku mudik. Ya, aku berencana akan mudik beberapa waktu setelah aku kerja di Jakarta. Apalagi bulan depan, kan, Natal dan Tahun Baru. Aku sudah gajian sehingga aku bisa beli tiket kereta, mudik, jajan bareng keluarga, ngasih uang saku buat keluarga. 

Jalan hidup rupanya membolak-balik rencana yang disusun oleh manusia. Sebuah peristiwa membuat aku berpikir bahwa rumah tak lagi sama. Rencana mentraktir keluarga dengan gaji pertama tidak pernah terjadi. Mudik? 
 
Tak lupa aku mengangkut buku-buku pribadiku. Inginku, aku tetap rajin menulis meskipun sudah aktif bekerja dari hari Senin hingga Jumat. Pikirku lagi, aku bakalan bisa menulis usai jam kerja dan week-end ketika kantor libur. Ternyata, pulang kerja aku malah ngider keliling Jakarta bersama temanku. Week-end pun sama, ngider Jakarta menemui hal baru. Nulis kalau benar-bentar punya intensi khusus atau lagi mood.
 
Aku berangkat ke Jakarta pakai kereta api eksekutif paling lama. Kereta tambahan. Bukan karena banyak duit (malah modalku tipis banget), tapi karena bawaanku banyak, koperku gede. Kalau naik kereta kelas premium, aku khawatir koperku nggak muat diletakkan di bagasi atas. 

Andaikata muat diletakkan di bagasi atas, kasian porter yang angkat ke atas karena berat banget. Pun, aku sengaja pilih kursi single biar gak usah naro koper ke atas. Barang bawaan bisa ditaro di depan kursiku persis. Pas turun, aku bisa tektokan sama porter.
 
Jelang berangkat, terjadi drama. Aku kesulitan mendapat taksi. Sampai-sampai, aku jalan ke muka gang demi nyetop taksi langsung. Kalau ketinggalan kereta, bisa-bisa aku keluar duit lagi. Gaji belum di tangan masa udah boncos duluan? Rasanya panik, takut ketinggalan kereta.

Dekat rumahku ada hotel bintang 4. Biasanya di depan hotel ada taksi nongkrong atau abis ngedrop tamu. Bermenit-menit menunggu, aku tak kunjung berhasil mendapatkan transportasi ke stasiun. Di sisi lain, jam terus bergerak menuju waktu keberangkatan yakni jam 11-an malam.
  
Hingga akhirnya...
 
Pamit sama wowo. Saat itu Wowo udah sakit-sakitan. Aku bilang sama Wowo ntar gajiku bisa buat keluarga, bisa buat jajanin Wowo. Wowo bilang gak usah pikirin gaji buat keluarga atau buat jajanin keluarga. Yang penting aku bisa kerja. Kurang lebih Wowo bilang begitu. 

Sedihnya, hanya 2 minggu berselang setelah aku berangkat ke Jakarta, Wowo meninggal. KFC Percetakan Negara jadi saksi air mataku tumpah, galau membuncah antara pengen pulang atau stay di Jakarta. Campur aduk perasaanku saat itu. Bersyukur aku ditemani seseorang malam itu. 
 
Ada unsur denial ketika aku memilih untuk tidak pulang. Tapi selama jam kerja, pikiranku kebagi dengan rumah. Cek grup yang mengabarkan situasi Wowo sudah dibawa pulang ke rumah, Wowo disemayamkan di teras karena petinya nggak muat masuk pintu utama, dan foto-foto pemakaman Wowo. Melihat foto Wowo pas di IGD dengan kondisi seperti "itu" bikin aku nangis. 
 
Di tahun-tahun akhir hidup Wowo, aku kerap berseberangan sama Wowo. Mungkin aku stres juga sehingga kebawa ke perilaku. Namun, ada omonganku yang konsisten mengatakan gimana-gimana Wowo punya peran besar dalam hidupku. Wowo yang jaga aku di rumah selama orang tuaku kerja. Wowo yang jemput aku sekolah. 

Wowo, ketika belum musim read aloud, udah read aloud duluan buat aku sehingga aku tidak menemui kesulitan membaca teks dan suka baca buku. Bersama Wowo, kami belanja bulanan dan jajan pempek Ny. Kamto di samping Ramai Mall. Wowo adalah guru kebersihan. Wowo juga koki terdebest yang mampu menghasilkan masakan rumah enak dibanding ibuku; yang akhirnya bikin aku susah adaptasi lidah sama menu rumahan di Jakarta. Banyaklah yang udah Wowo lakukan buat keluarga...
 
Malam itu Yogyakarta bagian Kota rintik hujan. Tanah basah. Kampungku sepi di saat aku mau berangkat ke Jakarta. Orang-orang memilih di dalam rumah. Akhirnya aku nemu becak. Pak Becak kugiring ke rumah, kunaikkan barang-barangku ke becak. Sedangkan aku diantar adikku naik motor.
 


Porter Membantuku Membawa Bawaan Merantau
 

Perjalanan dari rumah menuju stasiun terasa lama. Aku nggak bisa mendeskripsikan perasaanku. Langkahku perlahan tapi pasti menjauh dari rumah. Di satu sisi, inilah saat yang kutunggu, tapi saat yang kutolak sekaligus. Aku senang berada di rumah dengan apa adanya diriku, hidupku. Namun, aku juga menginginkan hidupku berubah. Aku menolak segala bentuk kegagalan dan kesia-siaan.  
 
Hanya ada Wowo di rumah. Sendiri. Ibu sudah tidak ada. Aku cuma bisa pamit dalam hati. Semoga Ibu memberiku restu. Aku ingin sebuah kebaikan. Aku menginginkan kemerdekaan. Aku mengharap pencapaian setidaknya buat diriku sendiri.[]
 

Sabtu, 08 November 2025

Nggak Ngajak Ngobrol

 

 
"Pak, patokannya Burger King, ya..."
 
Jangan sampai terlewat. Memang, jika terlewat pun sebetulnya masih ada jalan tembus menuju Salemba Tengah. Tapi jauh lebih baik jika tidak perlu terlewat, bukan?
 
Tiba-tiba sopir taksi minta maaf padaku.
 
Lho? 
 
Aku, yang melamun sembari melihat pemandangan di balik kaca mobil, tergagap. Kata-kata yang diucapkan sopir taksi tiada satu pun tercerna. Kelewat semuanya. Hanya suara yang kutangkap. 
 
Orang lagi melamun, kok, diajak ngobrol. Bukan salah sopirnya, sih, he-he-he.
 
"Apa?" tanyaku kemudian.
 
Sopir mengatakan kalau dia minta maaf, karena mendiamkan aku sepanjang jalan. Ketika dia mengucap kalimat maaf, laju kendaraan sudah sampai di sekitar Kenari; tak lama lagi sampai di tujuan. Lanjutnya, dia bilang bahwa tidak terbiasa mengajak ngobrol penumpang.
 
Tidak masalah bagiku. Malah, aku merasa tidak nyaman kalau sopir bawel, brisik, apalagi ngobrolin hal yang menurutku nggak penting. Lebih enak kalau masing-masing saja. Sopir dengan tugas dan tanggung jawab mengantar penumpang dan saya dengan hidup dan urusan saya dari titik jemput hingga lokasi antar. Kalau ada yang perlu disampaikan, pasti akan saya sampaikan. Toh, misalkan jalannya tidak sesuai rute dan tanpa persetujuan dari saya, pasti saya bakalan ngomong.
 
Permintaan maaf sopir membawa pada suatu pengakuan, bahwa dia adalah mantan sopir ambulans Puskesmas sebelum menjadi sopir taksi online
 
Hmmm... Selama jadi pengguna taksi online di Jakarta, baru kali ini disopiri mantan sopir ambulans. Tak disangka. Sepanjang jalan, sopir membawa kendaraan biasa aja; tidak menampakkan tanda bahwa dia pernah menjadi sopir ambulans. Smooth aja nyetirnya. Nggak ngebut layaknya sopir ambulans yang kulihat di jalanan.

 
Nikmatnya Melamun di dalam Taksi di Tengah Hujan Kayak Begini 

 
Telanjur terjadi pembicaraan, sekalianlah aku pengen tahu soal etika mobil ambulans. Aji mumpung juga karena pertanyaannya ditujukan kepada orang yang tepat. Jadilah pertanyaan perdana meluncur dari mulutku, yakni aturan menyalakan sirene dan lampu rotator.
 
Ketika aku menjadi pengguna jalan (dan Anda tentunya), pasti punya pengalaman berbagi jalan dengan ambulans. Otomatis, kalau kita berada satu jalur dengan ambulans, kita akan membukakan jalan, mempersilakan ambulans jalan mendahului. Ternyata, mobil ambulans tidak harus selalu menyalakan dan membunyikan rotator sekaligus.
 
Pengetahuan soal menyalakan sirene dan membunyikan rotator sekaligus aku peroleh waktu nonton sebuah tayangan horor di Youtube. Narasumber tayangan horor tersebut adalah seorang sopir ambulans. Dan sesuai genre channel Youtube tersebut, materi wawancaranya seputar pengalaman horor yang langsung dialami oleh si sopir.
 
Si sopir, dalam petikan wawancaranya, mengatakan kalau penggunaan sirene dan rotator ada aturannya. Sirene dan rotator menyala kalau membawa pasien gawat darurat sedangkan kalau membawa jenazah, sirene tidak perlu dinyalakan, karena sifatnya sudah tidak mendesak. 
 
Sambungnya, kalau mau pakai rotator, cukup lampunya saja tanpa suara sirene. Penjelasan sopir ambulans cocok sama pengetahuan yang dibagikan oleh ibuku. Ibu pernah bilang, kalau hanya menyalakan lampu tanpa bunyi sirene, ambulans tersebut membawa jenazah.
 
Beralih ke penggunaan rotator dan sirene menurut versi sopir taksi online-ku. Sopir taksi tersebut mengatakan kalau bawa jenazah tapi ambulan mengaktifkan sirene dan rotator, semata karena mengikuti kebiasaan. 

Supir taksi online tak hanya membagikan pengetahuan tentang etika pemakaian rotator dan sirene, tetapi juga pengetahuan bahwa sopir ambulans dibekali skill Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk membantu pasien selama berada di dalam ambulans yang dikemudikannya. Tak hanya skill BHD, aku juga diberitahu kalau proses transfer pasien ke rumah sakit rujukan tidak bisa asal pindah. 

Misalnya ada seorang pasien di Puskesmas butuh dirujuk ke rumah sakit. Puskesmas akan menghubungi beberapa rumah sakit sekaligus. Rumah sakit pertama yang merespons kontak dari Puskesmas itulah yang akan jadi rumah sakit rujukan. Setelah memperoleh rumah sakit rujukan pun, masih ada proses demi proses hingga akhirnya pasien pindah ke rumah sakit rujukan lalu memperoleh tindakan. 
 
Pengalaman berkesan tak luput dibagikan. Supir taksi pernah membantu proses persalinan seorang ibu dan menjadi saksi pasien yang tidak tertolong. Bisa jadi cerita terus berlanjut kalau perjalanan masih sekian kilometer lagi. Sayangnya, cerita terpaksa terhenti karena aku sudah sampai di tujuan. Sebuah malam yang bermakna di mata seorang perantau di Jakarta...[]

Kamis, 19 Juni 2025

Krisis Es Batu



Lazimnya berkunjung ke suatu daerah, jelajah kuliner khas pantang dilewatkan. Berada di Semarang, Juni 2025, aku ingin menikmati makanan yang masuk "comfort-food"ku. Jelajah kuliner pertama dilakukan usai mengikuti sebuah acara di Jumat malam. Kangen menikmati gudeg koyor, aku meluncur ke daerah bernama Peterongan. Ah, tiba di lokasi, ternyata gudeg koyor tutup. Ada spanduk bertulis "LIBUR" dipasang di emper lapak.

Haluan berubah ke warung bakmi godhog langganan. Dibilang langganan, karena aku telah berkali datang ke warung tersebut dan warung tersebut sejauh ini merupakan "final destination" setelah ngider ke beberapa lokasi bakmi godhog di seputaran Kota Semarang. Di Semarang, bakmi godhog gampang dicari setelah nasi goreng babad. Bakmi godhog ala Semarang punya cita rasa khas; sedikit berbeda dengan bakmi godhog di Yogyakarta. Cobalah...
 
Beruntung warung bakmi godhog masih buka. Masih ada pembeli yang ngiras (makan di tempat atau dine in 😁), meskipun tidak serame saat jam makan malam. Pun masih ada pengamen yang nyanyi lagu-lagu random. Seperti biasa, aku langsung pesan bakmi godhog-pedasnya cukupan-ekstra telur ceplok-minumnya es jeruk. Tak lupa aku ambil sate yang dihangatkan dengan tambahan kecap manis. 
 
Penjual yang khusus melayani orderan mengatakan kalau es batunya habis! Jadi kalau mau pesen es jeruk, minuman akan tersaji tanpa es batu. Duh! Kurang nikmat kalau cuma minum air jeruk. Orderanku berubah, es jeruk dicoret. Eh, tapi, kalau nggak minum seret juga. Ending-nya, tetap pesan minuman jeruk tanpa es. Kurang marem sebetulnya. Bisa jadi semesta mengirim pertanda bahwa aku akan kembali lagi menikmati bakmi godhog semarangan plus minuman jeruk yang benar-benar pakai es batu. 
 
Makanan kedua yang masuk list untuk dinikmati selama di Semarang ialah es kacang merah. Es kacang merah ini menu salah satu tenant di mal. Aku sudah membayangkan sedapnya semangkok es kacang merah. Kacang merahnya terasa empuk, manis es-nya pun pas. Pokoknya cocok di lidahku. Itulah sebabnya ketika berkesempatan kembali ke Semarang, aku ingin menikmati es kacang merah.
 
Keberuntungan rupanya belum berpihak kepadaku. Aku gagal menikmati es kacang merah. Apa sebab? Es batu-nya habis! Staf penjualan tidak bisa memastikan ketersediaan es batu di restoran untuk penjualan hari itu. Aku masih berharap, aku bisa menikmati es kacang merah sebelum balik Jakarta barang semangkok saja.
 
Sore, aku balik lagi ke restoran tersebut. Ternyata es batu-nya belum diantar juga. Fatal, sih, menurutku. Kok bisa kehabisan es dan nggak tahu bakal diantar kapan? Aku bertanya-tanya bagaimana inventory management restoran berjalan sehingga tidak terjadi kekosongan stok terlebih di akhir pekan? Apakah tidak dilakukan stock opname secara berkala? Sebagai konsumen yang berkali-kali jajan ke restoran tersebut saban ke Semarang, pengalaman kali itu cukup mengecewakan.
 
Kehabisan stok es batu lumrah terjadi di dalam bisnis makanan dan minuman. Perbedaannya, krisis es batu pada level warung kaki lima tampaknya lebih dimaklumi oleh konsumen dibanding krisis es batu di level restoran. Semacam dosa besar jika kehabisan es batu terjadi pada bisnis makanan dan minuman yang sudah bermerk, punya cabang di berbagai tempat, brand-nya sudah sangat dikenal khalayak, buka cabang di mal, dan punya tata kelola yang diyakini lebih baik ketimbang kaki lima. 

Apa yang terjadi di balik dapur restoran? Kenapa bisa terjadi kehabisan es batu dan staf tidak tahu kapan es batu akan diantar ke restoran dan tersedia untuk memenuhi pesanan konsumen? Berpegang pada data penjualan, pengelola restoran cabang mal seharusnya mampu mengantisipasi demand di akhir pekan dengan ketersediaan bahan makanan dan minuman yang ditawarkan di menu.
 
Es batu bukan menu utama, tapi kalau ada es-batu sebagai bagian dari menu restoran macam es jeruk atau es kacang merah maka stok es batu adalah item wajib jadi perhatian. Semoga krisis es batu jangan sampai terulang, di warung kaki lima maupun restoran.[]

Selasa, 10 Juni 2025

Sepanci Sop Daging



Selasa | 18 Juni 2024

12:46

Ibu Kost baru membalas pesan yang kukirim Senin. Sebuah pesan berisi pemberitahuan bahwa aku sudah transfer ke rekening pribadinya uang bayar kost bulan Juni. Sekalian aku mengucapkan, "Selamat Iduladha". Balasannya sudah beda hari. Kumaklumi, Ibu Kost, yang usianya seumuran adikku, bukanlah Ibu Kost biasa. 
 
Tak cukup berpenghasilan dari jalur kerja kantoran, Ibu Kost punya usaha sampingan yang dijalankan di rumah. Kesibukannya masih ditambah dengan kewajiban sebagai istri, ibu dua anak perempuan yang masih kecil-kecil juga menantu. Kebayanglah kegiatan dia seabrek-abrek. 

Pesanku dibalas dengan ucapan terima kasih. Kubalas lagi ucapan terima kasihnya, sebagai tanda aku merespons pesannya. Respons dari seorang manusia, yang tidak sekadar nge-read atau ngasih emoticon, tapi ada kalimat meskipun tidak panjang juga lebar.

Pesan balasan Ibu Kost tidak selesai dengan ucapan terima kasih. Ibu Kost menanyakan keberadaanku, apakah aku mudik atau ada di kost-an? Kujawab, aku nggak mudik (saat ini sedang moment Iduladha dan cuti bersama Iduladha). Ibu Kost menyambung pesannya kemudian dengan bertanya kapan aku ada di kost-an? Segera kujawab kalau di saat dia mengetik pesan itu, aku ada di kost-an, tepatnya ada di dalam kamar.

Jujur, saat Ibu Kost-nya nanya "aku mudik atau nggak?" bikin alarm insekyurku otomatis meraung-raung. Aku jadi ingin kejelasan sesegera mungkin. Ada rasa khawatir yang sulit dijelaskan. Ternyata Ibu Kost mau ngasih sop. Hatiku tenang. Dengan hati tenang, feeling-ku mulai "bekerja". Feeling-ku mengatakan sop-nya jangan-jangan sop daging kurban. Siapa tahu ibunya tahun ini kurban sapi atau dapat jatah daging kurban yang banyak. Jadinya dia mau berbagi dengan anak-anak kost-nya.
 
Masih lewat chat WA, Ibu Kost bilang kalau ntar sop-nya dibawain ke atas (area kost-an maksudnya) sama Mbak Menuk. Mbak Menuk adalah asisten rumah tangga Ibu Kost. Mbak Menuk pula yang sehari-hari bantuin bersih-bersih area kost-an termasuk partner nggrundhel-ku berkeluh kesal soal kelakuan Si Epin yang ampun-ampunan.
 
Aku nggak tahu kapan tepatnya Mbak Menuk antar sopnya ke area kost-an. Tahu-tahu, pas aku keluar kamar, di pantry kost-an udah ada panci nangkring di atas tungku kompor. Aku samperin trus buka tutupnya. Benar, ini sop yang dibilang Ibu Kost. Keyakinanku bulat, karena pancinya bukan panci yang biasa dipakai masak sama anak kost. 
 
Mumpung sop masih hangat, aku bergegas balik kamar lalu ambil mangkok dan sendok pribadiku. Zuzur, sejak jadi anak kost, aku sudah lama nggak makan masakan rumahan sop daging. Menu sop kudapat dari beli sop di warteg. Selain sop warteg, aku makan sop daging di sebuah warung makan di Semarang.
 
Begitu tutup panci dibuka, hmmmm... aroma kaldu dan aneka rempah menguar liar seketika; menggelitik hidung membangkitkan nafsu makan. Terbayang sudah kelezatan sop daging ala rumahan. Isian sopnya daging sapi yang tebal, kacang merah, kentang, daun bawang diiris agak tebal, dan wortel. Sopnya tipikal sop daging kacang merah yang nggak kebanyakan "penduduk". 
 
Kuciduk sop perlahan. Secukupnya lebih dulu, karena masih ada tiga orang tetangga kost yang belum ambil jatah masing-masing. Kemudian, kubawa sop di mangkok ke dalam kamar. Betapa baiknya ibu kost-ku. Tahu aja kalo anak kost-nya jarang makan sop daging terutama sop bikinan rumah.
 
Saking endulnya, aku sampai nambah. Aku berani nambah, karena Ibu Kost ngasih sepanci penuh. Andaikan seluruh penghuni kost-an pada doyan trus sop-nya dihabisin, masing-masing bakalan bisa nambah, kok. Mau dimakan bareng nasi atau digado, bisa banget nambah. Kan anak kost-nya cuman empat biji.  
 
Lantaran asyik di dalam kamar, aku nggak memperhatikan apakah tetangga kost sudah ambil sop atau belum. Sebelum tidur, aku menyempatkan diri nengok si sop yang masih stand-by di atas kompor. Aku panasin sopnya biar keesokan pagi bisa jadi sarapan atau bekal berangkat kerja anak-anak kost. Pikirku seperti itu. 
 
Kost-an sudah sepi ketika kenop kompor kumatikan. Sop sudah kembali hangat. Isinya terlihat berkurang, tapi tidak banyak. Sebelum meninggalkan sop, aku pastikan tutupnya sudah rapat. 
 
Keesokan pagi, aku mendapati panci sop hilang. Aneh, batinku. Apakah ada yang bawa masuk kamar? Masak sih, sepanci sop segitu banyak dinikmati sendirian; nggak bagi-bagi sama temannya? Pertanyaan demi pertanyaan timbul, termasuk pikiran jelek ikut campur. Aku nggak enak hati mau nanya ke masing-masing penghuni kost-an.  
 
Ke mana sop lengkap dengan pancinya itu? Kapan pindah tempat? Enak banget ambil sop setelah dipanasin... Aku penasaran banget pengin tahu ke mana perginya sepanci sop daging itu? Nggak mungkin, kan, pancinya jalan sendiri. 
 
Sore, 19 Juni 2024, aku turun (kamar kost-ku ada di lantai 2) ambil makanan di Kang Ojol. Sambil menjemput makanan, aku cari tahu ke mana perginya panci sop. Aku berpikir, siapa tahu panci sopnya dimasukkan ke kulkas sama Ibu Kost barengan dia matiin lampu di pagi hari. 
 
Iseng-lah aku ngintip daleman kulkas (kulkas-nya masih yang lama. Beberapa bulan kemudian, Ibu Kost mengganti kulkas dengan yang baru gress dari toko, karena kulkas lama berkali-kali rusak).
 
NGGAK ADA! 
 
Kulkas hanya dihuni harta karunnya Si Epin, tetangga kost yang punya kebiasaan menimbun rupa-rupa makanan di dalam kulkas.
 
Wah, jangan-jangan diambil balik sama ibu kost-nya. Disangkanya sop-nya kebanyakan trus daripada basi percuma, dibawa ke rumah ibu kostnya. Ya, sebetulnya nggak pa-pa, sih. Lebih baik habis dimakan daripada terbuang sia-sia. 
 
Hingga hari berganti berhari-hari, aku nggak kunjung menemukan jawaban pertanyaanku. Grup WA kost-an pun sepi, nggak ada bahasan soal sop.
 
Tapi asli sih, hingga tulisan ini rampung dibuat, sop-nya masih berstatus "dalam pencarian" 🤣. Statusnya belum dicabut hingga ada kejelasan. Beneran deh, aku diliputi rasa penasaran, ke mana perginya si sop, ya? Kapan ngambilnya? Terlebih, siapa yang ngambil? 
 

Senin, 09 Juni 2025

Aku Akan Berusaha...



Sehari setelah Iduladha 10 Dzulhijjah 1446 H
 
7 Juni 2025

Kawasan Cempaka Putih Barat sudah kebagian hujan hari ini. Hujannya deras untuk karakter hujan di wilayah Jakarta Pusat. Aku keluar kost-an untuk beli makan sekalian belanja kebutuhan pribadi. Sengaja aku ke Jalan Cempaka Putih Raya, karena sekali "jalan", aku bisa beli makan, angkut jajanan juga nyetok aneka keperluan pribadi. 
 
Area Cempaka Putih Raya, masih masuk Jakarta Pusat, merupakan kawasan one stop living dengan adanya kompleks perumahan, gedung apartemen, restoran, toko roti, toko kue, pedagang kaki lima, minimarket, warung makan, SPBU, tempat cuci kendaraan, sekolahan, tempat les, barbershop, kampus, lapak penjual tanaman hidup, tempat olah raga, tempat gym serta fasilitas kesehatan. Beragam fasilitas hidup terintegrasi di sini. Angkutan umum juga ada yang lewat.
 
Sekitar jam 20.00 aku selesai beli makan di Warung Sambal Bakar. Order nasi-ayam geprek-sambal bawang plus oseng kangkung lengkap berada di tentengan. Rupanya urusan belum selesai. Aku pengin mampir Holland Bakery, yang berseberangan sama Warung Sambal Bakar, beli roti buat konsumsi sepanjang hari Minggu.
 
Pas nunggu jalanan bisa diseberangi, nggak sengaja aku lihat Neta boncengan pakai sepeda motor (kalau nggak salah sepeda motornya jenis matic). Neta pernah menjadi rekan kerjaku. Kami beda unit kerja, tapi ada bagian dari job desk-ku bersinggungan dengan job desk-nya Neta. Untuk memastikan yang kulihat adalah Neta, mataku mengikuti laju motor matic itu.

Dugaanku mendekati valid, karena selain ciri-ciri fisik Neta yang masih kuhafal, Neta, yang mengenakan pakaian sport itu, pakai sepeda motor berplat nomor area DIY. Makin kuatlah dugaanku sebab Neta berasal dari daerah yang jadi bagian dari DIY. Sayangnya aku nggak liat sosok yang boncengin Neta.
 
Ada hal yang lebih penting ketimbang cari tahu siapa yang boncengin Neta atau pertanyaan keduanya abis ngapain atau keduanya abis dari mana? Hal yang lebih penting untuk ditanyakan adalah
 
Siapkah aku jika suatu saat bertemu lagi dengan mantan rekan kerjaku?
 
FYI, di hari terakhir aku bekerja, kebetulan Neta nggak masuk kantor. Dari kabar yang beredar, kakeknya meninggal. Jadi, waktu aku pamit sama orang-orang di unit kerjanya Neta, aku cuma ketemu sama Pak Johan, Lauren, dan Masta.
 
Pengennya sih nggak perlu-lah. Buat apa toh? Belum ada alasan buat ketemuan. Dan aku boleh-boleh aja menolak, kan? Tapi, kalau semesta sudah berkehendak, mau mlipir menghindar masuk ke jalan tikus lorong semut pun pasti bakalan ketemu di waktu yang telah ditetapkan.
 
Tapi, aku yakin banget, Neta nggak bakalan liat aku. Kalau pun dia melihatku, kemungkinan berikutnya, dia nggak ngeh kalo orang yang dilihat adalah aku, karena aku pakai pakaian yang tertutup: celana panjang hitam (bukan jeans) dan jaket parka. Bahkan, penutup kepala jaket parkanya aku pasang sejak masih di Warung Sambal Bakar. Makin komplet aku pakai masker. Yakin mengenaliku? Hmm... 
 
Aku nggak tahu ke depannya bakalan kayak apa. Aku nggak punya vision apakah aku sama sekali putus relasi sama orang-orang kantor atau masih bakalan ketemu sama mereka kapan aja, di mana aja. Setahunan meninggalkan kantor lama, baru kali ini liat mantan rekan kerja. 
 
Aku mengira, mungkin inilah satu cara semesta melatihku merawat luka batin yang kualami sejak Mei 2024. Luka batin yang berjejak di diriku. Latihan level 1 dulu: liat dari jauh, biar pas ketemu muka, aku mampu menguasai diri dan mampu merespons situasi sebaik-baiknya diriku. Kalau bisa melalui level 1, aku naik level selanjutnya dan seterusnya.
 
Balik ke kamar kost-an, aku coba mengingat ulang peristiwa yang kualami. Aku tanya kepada diriku: apa yang kurasakan? Diriku menjawab, pertemuan itu masih jadi trigger sakit hatiku ke tempat kerjaku. Sakit hati, kecewa, marah datang kurasakan meskipun tipis. Lalu, kubilang pada diriku, "Nggak apa-apa...".
 
Aku akan berusaha pastinya. Hanya saja, kita harus memahami karakteristik dasar luka batin: tidak ada luka batin yang benar-benar sembuh. Apalagi aku sendiri yang mengalaminya. Apalagi luka batin itu terjadi di tempat aku berusaha bekerja sebaik mungkin, seprofesional mungkin (tetep aja ada yang punya niat nggak baik); ketika aku bekerja pake hati.
 
Belum lama, aku pernah curhat sama Bets, my super bestie. Aku bilang sama dia, nggak apa-apa kalau suatu saat aku balik ke xxx (nama tempat kerjaku), tapi aku nggak mau balik sebagai karyawan. Aku balik ke "sana" sebagai seorang professional expert; yang diundang atau di-hire sebagai konsultan atau tenaga ahli. Aku pengen jadi orang baik. Kejadian kemarin jelas nggak bakalan terlupa. Justru dengan kembali sebagai orang yang jauh lebih baik, bakalan memperlihatkan kualitasku yang mereka tolak. 
 
Beberapa detik sebelum aku mengetik kalimat ini, aku nemu istilah "crossing the path". Istilah "crossing the path" aku dapat ketika scrolling Instagram. Crossing the path dipakai oleh seseorang yang komentar bahwa sebaiknya kita tidak benar-benar melupakan tempat kita pernah kerja. Hubungan baik sebaiknya tetap terjalin. Siapa tahu, suatu saat kita perlu berjejaring dengan orang di kantor lama atau kita-nya yang bakal crossing the path
 
Ada benernya kok kita sebaiknya tetap hubungan baik dengan mantan rekan kerja. Bentuk hubungan baiknya di antaranya tetap saling follow di medsos atau sesekali berkabar. Segitu aja sudah cukup. Jangan "bersih-bersih" mentang-mentang udah gak satu bahtera. Kalau pernah punya hubungan kurang harmonis, kita sebagai manusia kepala 3 atau lebih, taulah bagaimana harus bersikap. Siapa tahu, suatu saat kita terkoneksi lagi, terlebih kalau kita seprofesi; jadi bagian dari satu organisasi profesi atau punya technical skill yang sama.[]
 

Jumat, 30 Mei 2025

Informasi Penting! Cara Perpanjang SIM C di Layanan SIM Keliling Jakarta Pusat Tahun 2025

Sebelum membaca pengalaman saya, mohon memperhatikan penafian (disclaimer) lebih dulu, ya. Terima kasih


Jakarta tidak hanya memberi pengalaman kerja bagi saya. Jakarta pun menawarkan pengalaman mengurus perpanjangan SIM C. Sebelum merantau ke Jakarta, saya mengurus perpanjangan SIM C di daerah asal saya. Sekadar informasi, SIM C saya sebetulnya habis masa berlakunya pada 16 Juni 2025. Lantaran nggak mau mepet-mepet bikinnya ditambah ingin menghadiahi diri saya yang ulang tahun 26 Mei, tergeraklah hati ingin mengurus perpanjangan SIM pas tanggal 26 Mei. Kebetulan, SIM Keliling buka layanan pada tanggal 26 Mei. 

Sebelumnya, saya dihadapkan pada dua pilihan: mengurus SIM secara langsung di SIM Keliling atau mengajukan perpanjangan SIM secara online lewat aplikasi Digital Korlantas POLRI. Setelah menimbang-nimbang, saya memilih untuk mengurus perpanjangan SIM di SIM Keliling.

Setahu saya, tidak ada sistem kuota dalam pengajuan SIM di layanan SIM Keliling. Saya cukup menyesuaikan jadwal layanan SIM Keliling dengan aktivitas saya. Sehari sebelumnya, saya menyiapkan dokumen yang diperlukan, yakni
1. KTP asli 
2. Fototkopi KTP > saya menyiapkan 5 lembar fotokopi KTP.
3. SIM C asli
4. Fotokopi SIM C > saya menyiapkan 5 lembar fotokopi SIM C
 
Tambahan:
1. Alat tulis pulpen
2. Papan tulis jalan untuk alas menulis
 
Saya menyiapkan lembar fotokopi KTP dan SIM C dari rumah untuk menghindari tidak tersedianya layanan fotokopi di sekitar lokasi layanan, menghindari antrean yang bikin saya harus menambah waktu untuk mengurus SIM bahkan antisipasi perubahan cuaca (dan benar, cuaca Jakarta di hari saya mendatangi SIM Keliling nggak bersahabat~hujan turun dalam perjalanan menuju lokasi SIM Keliling).
 
Bagi yang benar-benar pertama kali, mobil SIM Keliling ada di area halaman Kantor Pos Pusat di Lapangan Banteng (lihat peta). Buat yang belum ngeh, Kantor Pos Lapangan Banteng ada di mana, Kantor Pos Lapangan Banteng ada di seberang Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Nggak tahu Lapangan Banteng? Lapangan Banteng dekat sekolah Santa Ursula dan Gereja Katedral Jakarta.

Persisnya, mobil SIM Keliling-nya ada di belakang Indomaret. Jadi, kita tetap masuk ke area Kantor Pos Lapangan Banteng. Setelah melewati portal parkir, di sisi kiri, ada Indomaret. Nah, mobil SIM-nya ada di belakang bangunan Indomaret. Bagi yang membawa mobil, parkir di halaman kantor pos sedangkan jika naik motor, area parkir ada di sekitar mobil SIM (ada jalan menurun untuk motor).

Peta Lokasi SIM Keliling di Lapangan Banteng

 
Alur perpanjang SIM C di layanan SIM Keliling Lapangan Banteng sebagai berikut.


Saya jelaskan per tahapnya, ya. 
1. Tahap Pertama
Pemohon diarahkan untuk tes psikologi lebih dulu. Sesampai di  lokasi SIM Keliling, datengin dulu tenda Tes Psikologi. Petugas akan minta pemohon menyiapkan 3 lembar fotokopi KTP, tapi fotokopi KTP baru akan diminta di loket berikutnya. Psikotest menggunakan aplikasi. Tinggal arahkan smartphone ke QR code.

Agar bisa mengerjakan tes psikologi dengan lancar, siapkan smartphone. Nggak cuma menyiapkan smartphone, siapkan juga baterai dan kuota internet yang cukup. Kalau baterai smartphone gampang ngedrop, ada baiknya bawa powerbank.

Bentuk tes-nya seperti soal psikotest pada umumnya, tapi nggak sekompleks dan sebanyak psikotest untuk melamar kerja atau asesmen untuk kepentingan pendidikan. Bobot soal masuk kategori mudah.
 
Pemohon SIM bisa mengerjakan psikotest di tempat duduk yang telah tersedia. Ada tenda yang menaungi sehingga pemohon tidak kepanasan atau kehujanan. Kalau pun kehujanan seperti saya waktu mengurus SIM, basah pun gak sampai bikin kuyup. Saran aja, kalau mengurus SIM pas musim hujan, jangan lupa bawa payung. Kita bakalan butuh payung untuk jalan dari tenda ke tenda dan tenda menuju mobil SIM.
 
Selesai mengerjakan tes psikologi, hasil tes muncul dalam bentuk QR code. Kalau pemohon dinyatakan lulus tes, perlihatkan hasil tes ke petugas dan petugas akan memotret hasil tes atau tampilan di layar smartphone pemohon. Pemohon boleh mengunduh hasil tes dan menyimpannya di HP. Kalau nggak mau mengunduh dan menyimpan hasil tes pun nggak masalah.
 
Sebelum ke tahap selanjutnya, pemohon membayar biaya administrasi sebesar Rp60.000,00. Pengalaman saya, bayarnya tunai. Saya nggak terlalu memperhatikan sekitar apakah bisa pakai QRIS atau sistem pembayaran non tunai. Daripada mengandalkan QRIS atau transfer rekening bank, saya menganjurkan pemohon untuk bawa uang tunai saja. 

Petugas akan mengarahkan ke tahap selanjutnya yakni 1) mengisi data diri dan 2) pemeriksaan kesehatan. Tempatnya di mana? Tempatnya berada di tenda yang berada di seberang tenda tes psikologi.

2. Tahap Kedua
Ada dua meja di dalam tenda. Meja pertama adalah meja penyerahan berkas. Meja kedua adalah meja untuk melakukan tes kesehatan. Petugasnya orang yang berbeda. Petugas akan menyerahkan form untuk diisi sendiri oleh pemohon. Kalau pemohon bingung, tersedia contoh pengisian yang ditempel di meja.
 
Di meja pertama, pemohon mengisi data diri seperti NIK, nama lengkap, alamat (saya menuliskan alamat sesuai alamat pada KTP, bukan alamat kos di Jakarta), golongan darah. Jangan lupa bubuhkan tanda tangan dan nama terang di akhir pengisian formulir. Pastikan data diri sudah benar semua.

Data diri sudah terisi semua? Sebelum mengembali form data diri, siapkan SIM asli dan fotokopi KTP sebanyak 3 lembar. SIM yang lama akan ditarik.
 
Kemudian, pemohon geser ke meja tes kesehatan. Petugas akan menanyakan data diri seperti nama, tinggi badan, berat badan. Kalau lupa Tinggi dan Berat Badan ya kira-kira aja berapa angka yang mendekati. Setelah itu, petugas melakukan tes buta warna. Pemohon membayar biaya tes kesehatan sebesar Rp35.000,00. Lagi-lagi, saya bayarnya tunai.
 
Berikutnya, petugas memberikan sobekan kertas berisi nomor urut. Pemohon dipanggil menggunakan nomor urut, bukan nama. Petugas yang manggil ada di dalam mobil SIM. 

3. Tahap Ketiga
Kalau sudah menyelesaikan tahap kedua, jangan pergi jauh-jauh dari lokasi SIM Keliling.
 
Ketika nomor pemohon disebut, pemohon menuju mobil SIM. Di dalam mobil SIM, petugas akan konfirmasi data diri lebih dulu, berikut golongan SIM yang diminta. Kalau nggak ada koreksi atau semacamnya, petugas mempersilakan pemohon foto diri.
 
Oh iya, di dalam mobil SIM ada cermin lho. Pemohon bisa mematut diri atau sekadar sisir-sisir supaya terlihat rapi di foto.
 
Cerita sedikit, kan pas ngurus SIM, saya kehujanan. Kemeja, mulai dari kerah sampai dada bagian atas, basah. Bagian badan aman, karena saya pakai jaket waterproof dan windbreaker. Saya baru menyadari ketika bersiap diri untuk ambil foto. Untunglah, ketika SIM sudah jadi, bagian yang basah nggak kentara.
 

Pemohon nggak perlu keluar dari mobil SIM untuk menunggu SIM jadi. Tunggu aja di dalam mobil. Pengalaman saya, ketika jatah saya belum kelar, petugas tidak memanggil antrean berikutnya. Jadi, duduk manis di tempat duduk yang tersedia di dalam bis aja. 
 
SIM C saya sudah JADI!

Tapi, saya nggak mau buru-buru keluar dari mobil SIM walau sebetulnya badan udah dingin dan mulai merasa lapar. 
 
Ada apa? 
 
Cek data yang tercetak di dalam SIM lebih dulu. Cek satu per satu. Mau cek di dalam mobil dibolehkan, mau di luar mobil nggak pa-pa. Yang penting, masih di sekitar mobil SIM. Saya mikirnya simple sih: daripada buru-buru pulang taunya ada data yang salah tik. Kalau ada bagian data yang salah tik, saya harus meluangkan waktu untuk revisi data. Mindhon gaweni, bahasa Jawanya.
 
Jika data pada SIM sudah benar semua, pemohon dapat meninggalkan lokasi layanan SIM Keliling. 

Tetap tertib berkendara dan utamakan keselamatan.[]