Jumat, 22 Mei 2015

Berburu Pakaian Big Size di Shopious.com

Tampil menarik dan terlihat cantik di berbagai kesempatan menjadi keinginan setiap perempuan. Demi tampil cantik dan menarik, perempuan terdorong berburu pakaian yang sesuai dengan suasana, karakter, selera berpakaian, serta ukuran tubuhnya. Masalah timbul bila perempuan memiliki ukuran tubuh big size. Alhasil, tiap kali harus membeli pakaian bagaikan bertemu dengan masalah besar nan rumit. Terlanjur patah arang, biasanya beli kain meteran, lalu dibawa ke tukang jahit. Adakah yang pernah mengalami kejadian seperti ini? 

Apa yang Anda alami tidak akan terjadi kalau sudah ketemu dengan Shopious.com. Anda tidak perlu buang waktu dan tenaga ngider mall atau jauh-jauh pergi ke Jakarta, Bandung atau Batam untuk beberapa potong pakaian ready to wear pilihan. Pun, Anda nggak tidak perlu mengeluarkan dana berlebih. Cukup berbekal gadget yang teraliri jaringan internet, perburuan akan pakaian big size tidak akan berakhir sia-sia apalagi melelahkan. Tengok Shopious.com, yuk, Kakak. :) :)


 
Video Pinjam dari Sini

Didirikan pada 27 Mei 2013, Shopious.com merupakan direktori toko online yang berperan sebagai ruang temu bagi toko-toko online,  yang biasa ngelapak di Instagram (IG) dengan masyarakat yang ingin belanja online, tetapi tidak memiliki akun IG. Hal ini tentunya menguntungkan bagi pemilik online shop dan masyarakat. Bergabung dengan Shopious.com, online shop dapat menjangkau calon buyer lebih luas lagi. Sedangkan bagi masyarakat, dengan mengakses Shopious.com, mereka dapat berbelanja tanpa harus membuat akun IG dan dipusingkan dengan hashtag (tagar). Karena berbentuk direktori belanja online, di Shopious.com tidak akan ditemukan shopping cart (trolley) seperti pada situs belanja online umumnya.

Sebagai media iklan toko online, Shopious.com menomorsatukan kenyamanan dalam berbelanja. Memasuki laman Shopious.com, calon buyer langsung disuguhi website bergaya minimalis modern. Logo "Shopious" beserta tagline-nya tidak dirancang gagah perkasa, karena lebih mengutamakan konten. Laman muka langsung dipenuhi aneka menu guna memudahkan calon buyer mengeksplorasi isi website yang menawarkan fashion untuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak; aksesori gadget; kosmetik; pernak-pernik rumah tangga; dan barang fancy. Tinggal klak-klik atau menggerakkan telunjuk, Anda akan diantar sampai menemukan barang yang dibutuhkan. Mudah sekali!


Laman Shopious.com
Gambar: Pinjam dari Sini



Laman Shopious.com Versi Piranti Mobile
Gambar: Screenshot dari Sini

Bagaimana dengan transaksinya?

Shopious.com menyerahkan sepenuhnya proses transaksi dari awal sampai pengiriman barang kepada pengelola online shop dan buyer. Soal tanya-jawab produk, harga, ongkos kirim (ongkir), metode pembayaran, ekspedisi, dan tetek-bengek lainnya menjadi otoritas seller dan buyer. Itulah sebabnya, Shopious.com mencantumkan nama penjual, lokasi toko, berikut info kontak (BBM, LINE, WA, SMS).


Gambar: Pinjam dari Sini

Trusted seller nggak, tuh?

Tenang saja, Shopious.com tidak sembarang menjaring online shop. Online shop yang bereputasi buruk tentunya nggak akan lolos seleksi ketat tim Shopious.com. Lagipula, sebelum owner online shop bermitra dengan Shopious.com, mereka harus memenuhi sejumlah syarat dan ketentuan yang diberlakukan oleh tim Shopious.com, seperti review, interview, dan wajib membayar biaya membership. Sampai artikel ini ditulis, Shopious.com telah mewadahi seribu lebih toko online yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia (daftar toko) dan siap melayani buyer di berbagai daerah di Indonesia pula. Trusted seller, belanjanya pasti bener. :)

Setelah mengenal Shopious.com, nggak ada lagi cerita bingung berburu pakaian big size ya. Di Shopius.com, Anda akan menemukan produk yang bervariasi dengan kualitas yang tak perlu diragukan lagi. Pakaian big size seperti dress, long pencil skirt, long layer skirt, jumpsuit, overall jumpsuit, peplum dress, blouse, cardigan, celana panjang, atasan spandek, celana jeans, beigy pants, sampai piyama tersedia. Kumpulan online shop yang menyediakan koleksi pakaian big size bisa ditemukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Buka laman Shopious.com

2. Klik menu KOLEKSI


3. Cari "Baju Ukuran Besar"


3. Klik  "Baju Ukuran Besar" atau tulisan "shop"

4. Temukan pakaian yang dicari



Manfaatkan fitur FILTER yang tersedia untuk memperoleh informasi produk terkini, terpopuler, range harga, kontak, ketersediaan barang, dan lokasi toko. Agar selalu mendapat info terbaru dan rekomendasi produk dari Shopious.com, daftarkan diri Anda sebagai user dan rajin nge-rate (nge-like) pada logo hati yang ada di setiap foto (lihat gambar nomor 4).



5. Mau beli? Caranya cek di sini. 

Ketika pilihan atas pakaian big size di toko offline daerah tempat tinggal Anda relatif terbatas, online shop menjadi pilihan tepat. Bagaimanapun, Anda, pemilik tubuh big size tetap berhak tampil anggun, cantik, lagi menarik dalam balutan busana yang pas di badan. Dan berbelanja di tempat yang tepercaya akan menjadikan saat belanja Anda terasa aman, nyaman, juga menyenangkan. Happy shopping! []

Info lebih lengkap, hubungi:


***
Referensi:
http://www.shopious.com/
http://www.shopious.com/cara-beli. 22 Mei 2015. 15:30
http://www.shopious.com/cara-bergabung. 22 Mei 2015. 15:32 
http://www.shopious.com/cara-bergabung. 22 Mei 2015. 15:33 
http://www.shopious.com/#. 22 Mei 2015. 15:35
http://www.shopious.com/. 22 Mei 2015. 15:36
http://www.shopious.com/faq. 22 Mei 2015. 15:38

Senin, 18 Mei 2015

Kado Ulang Tahun NOVA

Tuhan senang menghibur anak baik lagi penurut, yang habis sakit dan nggak bisa ke mana-mana selama liburan Paskah kemarin, dengan cara mengirimkan kado cantik. Diantar seorang bapak kurir yang ramah, Senin, 6 April 2015, kado cantik itu kuterima dengan kedua tanganku sendiri. Kado yang telah kutunggu sejak saya resmi diumumkan sebagai salah satu pemenang giveaway yang diadakan di blog pribadi Mbak Anazkia dalam rangka ulang tahun Tabloid NOVA ke-27.

Flashback, saya sama sekali tidak menyangka bakal jadi salah seorang pemenangnya. Ada, sih, secuplik harapan untuk menang, gara-gara mupeng sama bantal cantik yang dijanjikan sebagai hadiah. Namun, melihat antusiasme para blogger kompetitor berikut isi postingan mereka, sempat bikin saya keder. Pengalaman mereka bersama tabloid mingguan yang berada di bawah bendera Kompas Gramedia lebih "nonjok" dan berkesan ketimbang pengalamanku yang biasa-biasa saja. "Pasaran" karena pengalaman serupa tentunya banyak dialami pembaca NOVA lainnya. Prinsip "yo ben"-lah yang akhirnya mengantar keikutsertaanku di ajang giveaway itu. Itung-itung, sembari berbagi cerita (baca: pamer sama semua orang kalau sudah jadi pembaca setia NOVA for so many years even since I was a lil' girl hehehe) sekalian nambah kenalan. Nggak terlalu ngarep, level ekspektasiku pun diset nggak menjulang setinggi pohon kelapa. Once, sing penting melu rame-rame... Buat seru-seruan... That's all. :)

Cover NOVA Edisi Ulang Tahun ke-27
Gambar: Pinjam dari Sini
Tidak seperti giveaway pada umumnya, giveaway kali ini hanya berlangsung singkat, 25-28 Februari 2015 saja. Flash giveaway istilah kerennya. Dimulai pada tanggal 25 Februari 2015, Mbak Anaz posting info giveaway di dalam artikel berjudul Nostalgia Nova 27 Tahun. Lalu, 1 Maret 2015, diumumkan peserta giveaway yang seluruhnya berjumlah 19 orang blogger (artikel baca di sini). Setelah melalui proses penjurian yang dilakukan sepenuhnya oleh pihak NOVA, diumumkanlah tiga peserta yang beruntung mendapat bingkisan melalui postingan bertanggal 10 Maret 2015 (baca di sini).

Giliran pengumuman, saya telat mengetahuinya. Niat mau dolan ke rumah maya Mbak Anaz tertunda terus. Ada saja halangannya, termasuk lappy musti diservis. Hingga satu ketika, kesempatan menyambangi blog Mbak Anaz datang juga. Hal pertama yang saya lakukan ketika menclok di rumah maya salah satu Perempuan Inspiratif NOVA 2014  itu tentu saja menengok pengumuman pemenang. Wah! Betapa terkejutnya ketika mendapati nama saya ada di urutan ketiga pemenang giveaway, tepat di bawah nama Mbak Eva. Harapan memiliki bantal cantik NOVA pun setengah jalan terwujud. Tak ingin menyia-nyiakan rezeki, tanggal 19 Maret 2015, saya bersigera kirim e-mail ke Mbak Anaz untuk klaim hadiah. Waktu kirim e-mail saya deg-degan, duh, jangan-jangan hadiahnya sudah nggak berlaku lagi buat saya. Kelamaan, sih. Pengumuman tanggal 10 Maret 2015, eh, kirim e-mail-nya baru tanggal 19 Maret 2015.

Dikemas di dalam sebuah amplop jumbo polos warna coklat dan dikirim memakai jasa ekspedisi Nia Express (PT Nirmala Kotasonjaya Express), paket giveaway sampai di rumah sekitar jam 9 pagi. FYI, Nia Express sepertinya perusahaan ekspedisi langganan NOVA. Segitu yakinnya saya, ya. Tapi beneran, saya nggak asal ngomong. Ada buktinya, kok. Waktu saya menang undian ulang tahun NOVA ke-25 lalu, voucher hadiah dikirimkan melalui perusahaan yang berfokus pada domestic & international air cargo service ini. Dan untuk kedua kalinya, paket hadiah dikirim pakai jasa perusahaan ekspedisi yang sama.

 Open House Tabloid NOVA dalam Rangka Ultah ke-27
Video: Pinjam dari Sini

Terdapat beberapa benda di dalam bungkusan. Benda yang paling mencolok tentu saja si bantal dakron berbentuk persegi. Bantal persegi tersebut tidak sendirian. Ada teman-temannya berupa voucher MAP, apron, tas tenteng, dan dompet. Saya review satu per satu ya.

Bantal dakron berukuran 31 cm x 30 cm, bergambar kembang mawar dengan warna latar putih. Di bagian tengah, di antara tebaran kembang mawar terdapat tulisan warna hitam yang diambil dari quote seorang pujangga (poet) berkebangsaan Perancis Alphonse de Lamartine
There is a Woman at the Beginning of All Great Things!
Adapun pada sisi sebaliknya hanya warna pink polos saja. Cantik dan eksklusif! Bikin iri yang nggak kebagian hehehe... 

Foto: Dokumentasi Pribadi Ratri Puspita

Foto: Dokumentasi Pribadi Ratri Puspita

Benda kedua adalah selembar voucher MAP (Mitra Adi Perkasa) senilai 100 ribu rupiah yang dimasukkan ke dalam amplop surat warna coklat polos persegi panjang. Supaya tidak tercecer, NOVA menempelkan amplop berisi voucher tersebut pada plastik yang membungkus bantal pakai double tape. Terdapat pesan singkat pakai tulisan tangan di bagian body amplop agar penerima hati-hati membuka amplop tersebut agar voucher di dalamnya tidak sobek.

Foto: Dokumentasi Pribadi Ratri Puspita

Beruntung sekali mendapatkan voucher MAP yang dikenal tidak berbatas waktu dan dapat dibelanjakan di berbagai merchant yang menjual aneka jenis barang, mulai dari alas kaki, fashion items, food & beverages (F&B), sampai buku bacaan. Lokasi merchants pun tidak hanya di area Jakarta saja, tetapi telah tersebar di berbagai pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia (cek lokasi di sini). Selama fisik voucher tidak rusak, lembar pengganti uang tunai itu bisa dibelanjakan kapan dan di mana saja. Cashless. Enak, kan? Beda dengan voucher yang pernah saya terima sebelumnya, yang mencantumkan tanggal kedaluwarsa. Bikin gedubrakan saja, padahal belum pengin memakainya hehehe.

Ummm... Bantal sudah... Voucher MAP sudah... ada apa lagi ya?

Tadaaaa! Saya nemu tas tenteng warna krem dan shocking pink. Warna krem untuk badan tas dan shocking pink untuk handle dan bagian sisi kanan-kiri tas. Terbuat dari bahan yang tebal, tas berukuran 26,5 x 6,5 x 35,5 cm itu bakal awet, bisa buat wadah apa aja, dan bisa dipakai ke mana-mana. Asyeeeekkk! Kejutan banget dapat tas tenteng segala. Padahal, di dalam postingannya, Mbak Anaz tidak menyebutkan dapat hadiah tas tenteng. 

Foto: Dokumentasi Pribadi Ratri Puspita
Benda kejutan kedua adalah apron atau yang lazim disebut dengan celemek. Pas ngecek daleman tas tenteng nemu dompet dan... celemek! Aih! Kejutan beruntun ini namanya. Emang NOVA juara kalau urusan ngasih kejutan. Hmmm... oke juga, nih, kalau celemek warna ungu-shocking pink dipakai buat masak atau ikut demo masak NOVA. Bakal tampil beda pastinya. :)

Foto: Dokumentasi Pribadi Ratri Puspita

Benda terakhir yang akan diomongin sudah saya sebut sepintas kilas di atas, yakni dompet multifungsi. Disebut multifungsi karena dompet warna merah maroon-coklat ini bisa dipakai untuk wadah uang kertas, uang koin, aneka kartu, handphone, aksesoris, maupun kosmetik. Lumayan, nggak usah beli dompet lagi. :D

Foto: Dokumentasi Pribadi Ratri Puspita
Overall, saya suka banget sama semua hadiahnya. Semuanya, nggak pakai pilih-pilih. Saya jadikan sebagai kenang-kenangan dari NOVA, supaya selalu ingat dan tetap jadi pembaca setia NOVA sampai kapan pun. Mudah-mudahan, NOVA tetap eksis sampai saya punya anak perempuan agar saya dapat mewariskan kebiasaan baik membaca NOVA. Kebiasaan baik? Ya, iyalah. Kan, baca NOVA lebih banyak manfaatnya ketimbang ruginya. Betul tidak? Kalau belum percaya, silakan beli NOVA.   

Terima kasih NOVA atas kiriman hadiahnya. Sukses selalu untuk NOVA!

Salam!
***

Kampung Halaman yang Harus Kutinggalkan (Hari Ketiga)

Bukanlah suatu hal menyenangkan bercerita tentang perpisahan. Namun, mau tidak mau, kembali saya harus melakukannya. Tantangan cukup berat ini harus bisa ditaklukkan. Kalau tidak, saya bakal paranoid selamanya.

Minggu, 3 Mei 2015, adalah hari terakhir Emuk liburan pendek di Yogyakarta, kampung halaman tercintah (tolong, ya, "H"nya ikutan dibaca hahaha). Malam sebelumnya, mulai, deh, childishku kumat. 
Ya... Emuk besok balik. Ya... Emuk besok balik.
Begitu gumamanku. Habis, berat, sih, berpisah (lagi) sama adik kesayangan. Dia yang suka boncengin saya ke mana-mana. Dia yang mau ngajak kakaknya ini belanja kebutuhan dagang yogurt maupun membeli kebutuhan pribadinya. Dia, yang nggak malu bawa kakaknya, yang kadang suka malu-maluin ini, delivery yogurt ke pelanggannya di kawasan Yogyakarta utara dan selatan terus pulangnya nyempatin jajan. Dia, soulmate-ku urusan makanan. Hehehe. 

Pagi itu, Emuk sudah mandi, sudah wangi, almost ready berangkat ke bandara untuk penerbangan sekitar jam 12. Namun, sebelumnya, Emuk mau belanja oleh-oleh yang belum sempat dibeli (baca postingan hari kedua). Mulanya Emuk ngajak saya, tapi karena harus kontrol luka di rumah sakit, dengan amat sangat terpaksa, kutolak ajakan Emuk. Kusarankan dia ngajak Tsube aja. Sebelum berangkat beli oleh-oleh, Emuk sama saya diminta ibu belikan bubur dulu di penjual gudheg dekat Pasar Kranggan. Berdua, naik sepeda motor Speedito, saya dan Emuk beli bubur buat ibu.

Gambar: Pinjam dari Sini
Keberuntungan belum berpihak kepada ibu. Buburnya sudah habis saat kami tiba di warung gudheg yang ramai pembeli sampai-sampai penjualnya nggak kelihatan. Saya pun keluar dari antrean dan menemui Emuk yang menunggu di atas jok motor. Kuminta ia menelepon ibu (saya nggak bawa handphone), memberi tahu kalau kehabisan bubur sekaligus menanyakan alternatif makanan buat sarapan.

Suara ibu di balik speaker handphone mengatakan kalau beli gudheg-lauk saja. Ah, leganya hati ini, tidak perlu keliling untuk mewujudkan rekues orang tua. Habis, dengan kondisi jempol masih dalam masa penyembuhan, bagiku riskan bila harus cari (baca: beli) bubur di dalam Pasar Kranggan. Jamak terjadi, pasar ramai banget pas Minggu pagi. Saya tidak ingin jempolku kenapa-kenapa. 

Dengan hati-hati, saya pun kembali memasuki antrean pembeli gudheg. Kali itu, saya menjadi seorang pembeli gudheg paling sopan sedunia. Antre belakang sendiri, nggak menyelinap biar didahulukan, dan nggak ngalang-ngalangin jalan. Hehehe, daripada jempolku keinjek orang lah, ya. Apalagi saat itu, di depanku, berdiri seorang perempuan memakai sandal wegdes cukup tinggi. Hiii.... *bergidik ngeri*

Sampai pada giliranku, saya pun rekues gudheg komplet dengan lauk dua buah telur pindang berwarna coklat nyaris kehitaman dan tiga buah tahu. Kreceknya (jenis krecek kering) dibanyakin dan minta yang ukurannya gede. Total habis 20 ribu untuk gudheg yang dikemas kardus. Bisa buat sarapan sekeluarga. Sarapan Emuk sebelum meninggalkan Yogyakarta.

Usai sarapan, kami pun "berpencar". Saya kontrol luka dan ganti perban di rumah sakit bersama ibu, sementara Emuk beli oleh-oleh sama Tsube. Saya dan ibu berangkat agak pagian, biar jam sepuluh sudah tiba di rumah dan sempat farewell-an with Emuk.

Proses kontrol dan ganti perban tidak makan waktu lama. Puji Tuhan, tidak ada masalah berarti, sehingga hanya dilakukan perawatan standar. Sebelum pulang, saya dan ibu mampir dulu beli jajanan buat ngemil di rumah.

Emuk dan Tsube sampai di rumah duluan. Cepet amat belanja oleh-olehnya. Mendekati jam keberangkatan ke bandara, Emuk pun segera packing. Oleh-oleh sebagian dijejalkan ke dalam ransel, sebagian masuk ke dalam tas koper, berdesakan dengan bantal. Rampung packing, Emuk ngumpul sama kami di ruang tamu. Jajanan yang dibeli di rumah sakit dibongkar lalu dimaem bareng-bareng.  Inilah kebiasaan keluarga saya. Kalau makan atau ngemil, pasti keroyokan, bisa di ruang makan, depan televisi atau di ruang tamu. 

Jam sepuluh-an, Emuk harus berangkat ke bandara. Sedih harus melepas Emuk kembali ke tanah rantau. Emuk pun cipika cipiki sama ibu dan bibi. Kalau sama saya, Emuk cuma salaman. Hiksss...
Love is missing someone when you’re apart, but somehow feeling warm inside because you’re close in the heart. —Kay Knudsen
Sampai ketemu lagi Emuk. Baik-baik di tanah rantau, ya. Semoga Tuhan senantiasa melindungimu; memberimu kesehatan, keselamatan, serta kesuksesan. Sampai ketemu lagi di akhir tahun nanti. Luv you! []

Emuk Pulang Kampung (Hari Kedua)

Ketemu lagi di postingan kedua, yang masih bercerita soal Emuk yang pulang kampung pertama kali sejak dia keterima kerja di luar Jawa, awal Mei kemarin. Pada bagian pertama, saya sudah cerita agenda Emuk habis mendarat di Yogyakarta. Kali ini, di bagian kedua, saya akan cerita agenda hari kedua Emuk selama di Yogya. Semoga catatan ini bisa menjadi pengingat yang manis teruntuk Emuk suatu saat nanti. :)
***
Hari kedua, 2 Mei 2015, hari kelahiran Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Pagi hari, Yogya basah oleh hujan. Hujan sepagian di hari Sabtu ini bikin saya mangkel banget. Gimana nggak mangkel kalau hujan sukses bikin acara saya gagal total. Merasa diri ini nggak profesional banget. Sudah siap-siap mau berangkat, eh, hujannya turun. Makin lama makin deras. Sedikit reda, eh, menderas lagi. Awan di langit terlihat berwarna abu-abu rata, penanda bila hujannya bakal awet. Sebetulnya, saya, sih, nggak keberatan tetap berangkat sambil berhujan-hujan, wong tempatnya juga termasuk dekat. Cuma di utara rumah arahnya.

Yang bikin saya "berat" untuk berangkat dalam kondisi hujan adalah jempol kaki kanan saya yang masih dibalut perban. Oleh perawat, diusahakan jangan sampai basah. Kalau basah, harus kontrol untuk dilakukan penggantian perban baru. Meratapi kenapa harus ada kejadian jempol kejatuhan kayu dipan segala, sih. Kan jadi repot. Bikin geraknya nggak bebas, apalagi kalau tiba-tiba hujan turun. Dengan berat hati, saya lalu menghubungi contact person dan menyatakan diri batal hadir.

Nyeseeelll banget. Udah dikasih kesempatan, gara-gara hujan nggak kunjung berhenti, membuat saya batal hadir. Saya pasrah aja dipandang tidak profesional. Makanya, saya rawat betul jempol kaki kanan saya sembari mendaraskan doa agar lekas sembuh. Biar bisa berkegiatan normal seperti sedia kala. Kangen sama kehidupan saya sebelum ada kejadian ini. Kangen ke mana-mana jalan kaki dan lompat dari bis ke bis.

Eh, ini cerita kudunya soal Emuk ya? Kok malah curcol. Ya, ampun! Kebablasan. Maaf... Maaf... Kembali ke soal Emuk lagi, deh. *nyengir kuda poni*

Sami mawon, setali tiga uang dengan saya, Emuk yang kemarin berencana mau ke sini mau ke sana pun akhirnya malah tak bisa ke mana-mana. Jadwal yang udah diset sedemikian rupa jadi nggak jelas. Sembari menunggu hujan reda, Emuk hanya menghabiskan waktu glundhang-glundhung di kasur depan televisi sambil mainan hape. Buat Emuk, hujan bisa jadi blessing in disguise. Dia bisa mager sesantai-santainya. Kalau hari-hari di luar libur seperti kemarin, mungkin jadi barang mahal kali, ya? *sotoy*

Gambar: Pinjam di Sini

Sore harinya, barulah Emuk bisa keluar rumah. Dia ketemuan sama Arby, sobat karibnya, zaman masih lontang-lantung mencari kejelasan hidup dan masa depan. Emuk hanya sebentar ketemu sama Arby lantaran harus bagi waktu buat hunting dan beli oleh-oleh. Bakpia, gudeg kaleng, gethuk, yangko adalah nama oleh-oleh yang rencananya bakal dibawain buat teman-teman di kantor. Habis ketemuan sama Arby, Emuk pergi sama ibu buat cari oleh-oleh. Namun, bukannya ke sentra oleh-oleh, keduanya malah terdampar di rumah sakit gegara mriksain ibu yang maagnya nggak kunjung sembuh. Pulangnya, mereka berdua beli bantal. Absurd, ya? Heran.

Malamnya, giliran saya nganter emuk cari oleh-oleh sekalian beli makan malam. Puji Tuhan, alam semesta begitu bersahabat sehingga saya bisa mengantar Emuk berburu oleh-oleh tanpa khawatir kehujanan. Saat itu jam 19.15. Enaknya mau ke mana dulu, nih? Diputuskanlah nyari gudheg kaleng dulu ke Wijilan.

Sebelum tancap gas ke Wijilan, Emuk tarik duit dulu di ATM di daerah Cik Ditiro. Aih, rasanya kembali ke dulu lagi. Jam-jam segitu, dulu, saya sama Emuk suka boncengan nyari jajanan yang bisa dicemil-cemil. Martabak MM UGM, roti bakar atau bakso tusuk bakar di kawasan alun-alun selatan. Seneng banget bisa dibonceng Emuk lagi. I felt just like the luckiest sista ever.

Masuk Kleringan, gerbang menuju kawasan Malioboro, macetnya bikin pusing. Dari kejauhan aja udah kelihatan antrean kendaraan yang mau masuk Malioboro. Ya, begini ini suasana Yogya tiap liburan. Macet. Kalau bawa mobil macetnya lebih terasa ketimbang yang boncengan motor kayak kami berdua ini. Siyat... siyuttt... setelah melalui Jalan Mataram yang ramai lancar, macet kembali kerasa di Jalan Mayor Suryotomo.
 
Perlu kesabaran ekstra biar bisa nyampe tempat tujuan sesuai rencana. Dan, melihat kondisi lalu lintas saat itu nggak mungkin bisa ke Wijilan, kemudian ke Pasar Pathuk untuk membeli bakpia, lalu sekalian beli gethuk sama yangko. Impisibill! Diputuskan, malam itu cukup beli gudheg kaleng saja. Soal bakpia, gethuk, sama yangkonya dibeli besok pagi sebelum cus ke bandara.

Kami pun sampai di Wijilan, sentra gudheg yang terkenal itu. Situasi Wijilan emang rame, tapi ramenya masuk kategori biasa, nggak peak-peak amat. Emuk beli gudheg kaleng 3 biji dan krecek kaleng 1 biji. Awetnya setahun. Harganya? Jelas lebih mahal dibanding gudheg basah maupun kering yang fresh, yang biasa dikemas dalam kotak atau besek. Mau gimana lagi, walau pulangnya nanti naik pesawat, tapi gudhegnya nggak langsung dimakan. Emuk pun belum punya kulkas di kostan.

Habis beli gudheg, Emuk berinisiatif pengin beli bakso tusul di alun-alun kidul (alkid). Kembali kami menyusuri jalanan penuh kenangan hingga kami memasuki area alkid yang hore banget. Mobil, motor, nyampur sama mobil kodok full variasi yang digenjot penunggangnya. Butuh kesabaran ekstra hanya untuk mencapai pojokan, tempat penjual bakso tusuk langganan kami biasa mangkal.

Sayang, begitu sampai, jualannya udah habis. Etalasenya udah kosong cling. Nggak ada lagi bakso tusuk di dalamnya. Kami pun mencari penjual lainnya dan menemukan di pojokan, tepat di belokan. Emuk pun menepikan motor lalu saya turun. Pesan 20 tusuk (1 tusuk dihargai seribu rupiah) (!), kami harus menunggu sebentar karena bakso harus dicelup bumbu, dikasih kecap, dan dibakar di atas bakaran sate.

Perjalanan kami selanjutnya adalah cari makan malam. Bingung juga mau makan apa. Kalau saya,  sih, saat itu pengin makan masakannya Pak Dono, penjual mie-nasgor-capcay kaki lima yang jualan di Jalan Herman Yohanes, Sagan, dekat POM Bensin Sagan. Saya kasih tahu yah, Pak Dono ini kasih porsinya porsi kuli. Harganya kurang lebih sama dengan penjual mie-nasgor-capcay kaki lima kebanyakan, tapi yang satu ini ekstra. Kalau ada pembaca artikel ini sedang berkunjung ke Yogyakarta atau malah tinggal di Yogyakarta dan ingin mencicipi masakan Pak Dono, pastikan dulu porsi makan Anda seberapa. Tawar menawar dululah sama perut. Kalau makannya sedikit aja udah kenyang, nggak usah iseng pesan atau beli seporsi buat sendirian. Dijamin nggak habis.

Sayangnya, keinginan saya belum keturutan. Emuk prefer beli bakso Pak Brewok. Dan kami pun kembali menembus keramaian malam ala Yogyakarta untuk menemui Pak Brewok. Setiba di warung Pak Brewok, saya turun dari boncengan dan pesan lima porsi bakso komplit. Special request, kuahnya dibanyakin. Tukang baksonya begitu cekatan melayani. Tahu-tahu, tas kresek warna hitam diangsurkan ke saya. Tandanya ada dua: baksonya udah jadi dan saya harus segera bayar. Kami pulang kemudian. [] 

Mudik Pertama Emuk (Hari Pertama)

Welcome Mei!

Akhirnya sampai juga di bulan kelima tahun 2015. Cepet amat yak! Tahu-tahu udah Mei aja. Awal bulan ini dihiasi dengan kepulangan Emuk ke kampung halaman. Senang rasanya bisa ketemu lagi sama laki-laki jangkung berkacamata itu. Yang biasanya hanya ngobrol by phone, selama kurleb 3 hari 2 malam bisa ngobrol langsung. Selain kangen-kangen juga. Hihihi. Emuk emang mudiknya singkat. Memanfaatkan long weekend aja. Tadinya berencana pulkam 13 Mei 2015,  tapi Jumatnya nggak libur. Kesempatan terdekat ya, 1-3 Mei 2015 ini. Ya wislah, sing penting mulih. Udah dikangeni soalnya.

Emuk sampai di rumah tanggal 1 Mei 2015 siang. Di atas jam 12. Dia dijemput si bungsu di bandara. Belum lama masuk rumah, Emuk, yang bawa oleh-oleh "keringan"-biskuit sama susu coklat kemasan-ini udah jajan es dung-dung keliling yang dulu sesekali dibelinya. Nostalgia rupanya sama jajanan kampung zaman masih di Yogya. Dengan lembaran uang bernilai sepuluh ribu rupiah, Emuk beli dalam porsi cangkir, masing-masing lima ribuan. Secangkir buat bibi.

Sehabis ngaso, tidur tepatnya, sore harinya Emuk and me dolan ke rumah sepupu di daerah Wirobrajan. Di rumah Wirobrajan, kami meet n greet sama keluarga pakdhe, terlebih say hello sama si kecil Gecy, ponakan yang sukses mencuri hati kami sekeluarga. Tuh bocah lucunya maxi banget. Tingkahnya, kemampuanya di usianya yang belum ada setahun bikin saya takjub. Emejingg! sepotong kata untuk mengekspresikan rasa takjubku yang berlebih itu.

Sewaktu dolan ke rumah saudara, kami bawa buah tangan, yakni oleh-oleh yang dibawa Emuk dari rantau dan buah yang dibeli di supermarket langganan di bilangan Jalan Jendral Sudirman. Supermarket ini dulunya sering didatangi Emuk buat belanja susu cair untuk keperluan jualan yogurt. Hmmm... aroma kenangan nikmat terasa. Sedap disesap. Bedanya, kemarin kami sama sekali nggak beli susu merk biasanya. Cuma beli susu low fat buat saya doang. Itu pun kemasan kecil sekali minum. Heheheh.

Gambar: Pinjam dari Sini
Perjalanan ke rumah saudara lumayan lancar. Ya, standar kondisi lalu lintas Kota Yogyakarta-lah. Rute ke rumah Wirobrajan membuat kami sempat melewati kedai nongkrong anak muda yang dulu sempat jadi langganan yogurtnya Emuk. Ah, lagi-lagi, kenangan menyelinap tanpa permisi. Tatkala melempar pandang, jadi ingat masa-masa kami boncengan motor ngantar yogurt pesanan. Demi rezeki.

Akhirnya nyampai juga ke rumah saudara. Ketemu Gecy yang ternyata masih imut. Beda sama di foto yang keliatannya udah gede gitu. Hahaha. Dasar fotonya menipu, padahal nggak pakai diutak-atik lho. Habis jepret, langsung disend sama Mami Gecy. Gecy masih jual mahal ih! Belum mau digendong. Lengket sama Maminya. Ditinggal ke "belakang" aja mewek. Tapi, dia udah mau kok diajak "cilukbanan" dan ngajak ngobrol dengan bahasa bayiknya yang butuh kesaktian untuk bisa menerjemahkan artinya. Tak lama berselang, Daddy-nya Gecy datang. Makin rame-lah suasana. Sayangnya, meet n greet kemarin kurang lengkap karena nggak bisa ketemu sama pengantin baru. Keduanya lagi honey moon ke timur ceritanya.

Jelang malam, Daddy sama Mami Gecy ngajak nyari makan, sementara Oma Gecy mau rosario di rumah tetangga. Kami pun jalan nyari makan naik mobil. Duh, Gecy riang benar. Di dalam mobil, dia yang duduk di jok depan, dipangku Maminya, ngajakin becanda mulu (cilukba) sama saya dan Emuk yang duduk di kursi tengah. Ditambah kalau diputerin musik kepala dia goyang-goyang gitu. Lucu banget bayik satu itu. Kejedot kaca pun nggak nangis. Hahahaha.

Perjalanan mencari makan ternyata nggak begitu mulus. Nyari mie jawa aja sampe muter-muter ke beberapa tempat. Tempat pertama, katanya Oma Gecy, tempatnya nggak begitu higinis. Pindahlah kami ke tempat kedua, seberang lapangan apa gitu, nggak begitu kenal daerahnya. Eh, sampai di tempat, diberitahu penjualnya kalau kami dapat nomor tunggu 30-an (!), padahal orang-orang yang ada di dalam warung itu nggak nyampek 30. Separuhnya aja kagak ada. Itu nomor urut dari mana dan yang pesen siapa aja, ya? Penasaran. Begitu mendengar angka 30, kami pun mundur teratur. Urusan perut, kami bukan tipikal orang yang bisa bersabar. Hahaha. Mau nunggu sampai jam berapa coba? Bawa bayi pula. Daddy-nya Gecy yang turun terakhir lantaran cari parkir kudu balik badan lagi habis liat kami berempat kluyar-kluyur mirip pendekar kalah perang. Wakakaka. Nyari lagi yok!

Menyusuri jalanan selatan Kota Yogya, tujuan kami emang bener-bener niat cari makan. Gagal dapat mie jawa, yang katanya lebih enak daripada tempat pertama, kami pun melanjutkan perburuan menuju tempat jualan mie langgananya Mami-Daddy Gecy. Mendekati tempat jualan, lagi-lagi kami dibuat kecewa. Tutup! Hadoh! Mau ke mana lagi, nih? Muter-muter lagi aja, deh, siapa tahu dapat wangsit di tengah jalan.

Suasana jalanan makin ramai aja. Finally, tahu nggak ke mana kami akhirnya berhenti? Di tempat pertama! Yang katanya warung kurang higinis tadi. Ngakak deh! Mau gimana lagi. Setelah menepikan mobil di sisi kanan jalan, kami pun turun dan pesan makanan kepada penjual laki-laki yang sudah berumur itu: mie kuning godhog nggak pedes 1, mie kuning godhog pedes 1, bihun godhog 1, bihun goreng 1, sama nasgor 1. Total 5 pesanan. Sambil menunggu dibuatin, kami duduk-duduk di bangku panjang. Capek duduk, Daddy Gecy, Mami Gecy, Gecy, plus saya mampir ke minimarket sebelah warung. Keluarga Gecy belanja kebutuhan harian sekalian nyari kaus buat Gecy (tapi batal karna gak ada ukurannya), sedangkan saya beli ikat rambut biru yang mau dipakai ke acara Sabtu keesokan harinya. Keluar dari minimarket, pesanan belum jadi juga. Keluarga Gecy pun ngobrol sama pemilik persewaan komik yang bertetangga dengan warung mie. Kalau saya, sih, kembali duduk aja. Emuk beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke minimarket. Keluar dari minimarket, Emuk udah nenteng kresek isi Yakult.

Pesanan kami jadi juga. Perjuangan banget nunggu dimasakin pakai arang. Nggak hanya soal kesabaran, urusan makan juga diwarnai dengan insiden salah bikin. Pesanan nasi goreng buat Daddy Gecy berubah jadi mie goreng. Wah, bapaknya penjual mie piye, sih? Kok sama orderan kita aja salah. Nggak dicatet, sih! Lain kali dicatet ya, Pak. Alhasil, mie salah bikin pun tetap dibawa pulang. Daripada rame dan makannya makin lama. Perut udah minta diisi soalnya. Kami pulang ke rumah Wirobrajan lagi buat makan bareng pesanan masing-masing.

Malam kian larut. Baby Gecy kayaknya udah mulai ngantuk, tapi karena masih banyak temannya yang "on", dianya ikutan bertahan. Oma Gecy sudah masuk kamar buat istirahat. Puas mainan sama Baby Gecy, saya dan Emuk pamit pulang. See you soon semua! Dalam perjalanan pulang, mampir dulu di apotek buat beli kain kasa sama plester buat si jempol kaki yang lagi terluka. Habis itu kembali kami boncengan naik speedito. Perjalanan selanjutnya adalah.... ke pizzi hitty!

Emuk pengin traktir pizzi hitty, sebutan kami sekeluarga buat makanan khas Italia bernama pizza. Makanan yang satu ini terasa cukup mahal bagi kami, sehingga makannya pun hanya di saat-saat tertentu saja, seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru atau kalau ada anggota keluarga yang ulang tahun. Berhubung Emuk udah bisa belikan pizzi hitty, habis meet n greet with Gecy, kami pun mampir di pondok pizza yang lokasinya dekat rumah. Duet hemat seharga dua ratus ribu pun dipesan untuk take away, dimaem rame-rame di rumah. Mamacii, Muk!

Agenda first day di kampung halaman tuntas sudah. Emuk pun menikmati malam di rumah saja, ngumpul untel-untelan di kasur depan televisi sama adik-adiknya. And me? Saya ngantuk berat. Dan tidur duluan. Agenda Emuk hari kedua di postingan berikutnya ya. []