Dare to be You? Menjadi Pribadi yang Berani

Juli 19, 2020
 


I want one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
...

Sumber: dari sini

Demikian penggalan lirik lagu yang pernah dibawakan oleh penyanyi legendaris Whitney Houston untuk menandai Olimpiade Musim Panas 1988 di Seoul, Korea Selatan. Lagu yang hampir selalu membuat saya berlinang air mata tatkala menyanyikannya. Padahal saya lagi nggak sedih-sedihna, tetapi entah kenapa kok lirik lagu tersebut seperti menggambarkan diri saya dalam satu fase kehidupan. Bagi saya pribadi, lirik lagunya menggambarkan kekuatan, perjuangan, putus asa, keinginan untuk bangkit, rasa percaya diri serta semangat.


Dalam video clip yang diupload ke Youtube, tampak para atlet berkompetisi di berbagai cabang olahraga. Masing-masing berusaha melakukan yang terbaik, berani berjuang, percaya diri. Cerita akhirnya bagaimana? Ada kemenangan yang  diraih, ada prestasi yang bisa dicapai. Dan satu hal yang tak kalah penting adalah berani menjadi diri sendiri. I'm more than I thought I could be. Dare to be You(rself)!


Bicara soal Dare to be You, ada hal yang ingin saya ceritakan. Saya bukan tipe orang yang berani sedari lahir. Tampaknya karakter pemberani tidak ikut di dalam DNA ketika saya terbentuk jadi manusia. Mau didorong-dorong kayak apa, kalau saya bilang nggak berani, ya sudah. Langkah saya akan terhenti. Butuh effort lebih untuk mengubah saya yang kurang percaya diri menjadi seorang berani berlaku lebih.


Begini ceritanya. Sudah sejak lama ibu saya mengharapkan anaknya ini mengajar di sebuah sekolah. Tawaran datang dari teman lama ibu. Kesempatan belajar menjadi guru pun sudah diberikan atas kemurahan hati seseorang. Namun, saya tidak berani mengambil kesempatan baik yang telah diberikan. Beliau yakin saya mampu. Dicoba dulu-lah. Namun, setengah mati saya menolak. Dasar penolakan saya cuma satu: Takut. Lebih dominan ke rasa takut.

Saya takut tidak bisa mengajar

Saya takut karena merasa tidak kompeten

Saya takut gagal

Takut muridnya malah kabur kalau saya jadi gurunya (serius!)


Tiap kali ibu membujuk saya supaya mau mengajar, saya selalu berusaha untuk mencari jalan atau kata-kata penolakan. Berkali saya keras menolak, berkali pula ibu gigih menyuarakan harapannya.


Hingga datanglah tahun 2016. Sekitar bulan Oktober, saya menjadi volunteer kegiatan bersama anak-anak. Anak-anak yang saya dampingi banyak dan datang dari beragam latar belakang keluarga. Jujur, selama berkegiatan dengan anak-anak, bernyanyi, tertawa, bergembira, saya merasakan suka cita teramat dalam. Inilah titik awal saya bersentuhan dengan kegiatan belajar mengajar. Perlahan tapi pasti, saya belajar, saya ditempa menjadi pengajar.


Masa-masa awal nyemplung secara langsung mengajar anak-anak, ada rasa malu, tidak percaya diri, dan takut salah. Saya merasakan itu semua. Malu karena sepanjang mengajar, ada teman-teman yang jauh lebih kompeten dari segi pendidikan dan jam terbang. Tidak percaya diri lantaran bekal saya hanya bahan ajar yang tidak seberapa sedangkan teknik mengajar belum dikuasai secara mendalam. Adapun rasa takut timbul karena takut mengalami kegagalan: anak-anak yang tidak mau memperhatikan, alur yang membosankan. Pokoknya takut. Titik.


Di sinilah keberanian saya diuji. Apakah saya mampu melampaui rasa takut yang menguasai seluruh diri saya. Hingga pada satu waktu, saya diajak berpikir oleh diri saya sendiri:

kalau terus menerus takut, saya tidak akan berkembang. Kualitas saya ya bakalan segitu-gitu aja. Nggak nambah.


Untuk menutupi jutaan rasa takut yang memenuhi seluruh diri saya, saya berusaha untuk memberikan yang terbaik ketika jatah mengajar tiba. Berbekal ASUS P453M, saya searching kerajinan tangan, supaya kami bisa bikin kerajinan tangan yang menarik dan mudah dibuat. Pun, dengan notebook berwarna hitam berHD 500 GB dan memory sebesar 2 GB tersebut, saya menyusun rencana ajar sebagai pegangan mengajar. Rencana ajar tersebut saya kenali layaknya saya pengin mengenali tambatan hati. Mungkin, melalui kegiatan volunteering tersebut, Tuhan tengah menjawab harapan ibu saya.


Lepas dari kegiatan volunteering bersama anak-anak tadi, saya kembali terlibat dengan aktivitas volunteering. Volunteering dan ngajar anak-anak itu bikin nagih! Dulu aja nggak mau ngajar, tapi pas udah ngerasa nyaman, ketagihan jadinya. Kesempatan berikutnya volunteering untuk bimbingan belajar tingkat sekolah dasar. Pengalaman dan jam terbang di kegiatan volunteering sebelumnya menumbuhkan rasa percaya diri ketika menghadapi peserta bimbingan belajar yang datang dari kalangan keluarga sederhana.


Rasa takut perlahan menguap lantaran sudah kenal medan. Semangat saya super membuncah manakala ingat akan jadwal mendampingi anak-anak bimbingan belajar. Beberapa hari jelang kegiatan bimbingan belajar, saya mulai mengunduh buku-buku paket, menyusun soal-soal latihan atau untuk kuis seru-seruan, sampai bikin form untuk data pribadi yang kelak dibutuhkan untuk melihat perkembangan belajar anak-anak bimbingan belajar yang berada di bawah asuhan saya. Ini gila! One moment in time, I'm more than I thought I could be. Saya tidak dibayar sepeser pun selama jadi volunteer bimbingan belajar, tapi jiwa saya on fire. Dan segala yang telah dialami dan rasakan, lalu mengingatkan saya pada perkataan Pedro Arrupe, yakni

Fall in love, stay in love, and it will decide everything


Berproses untuk keluar dari rasa takut yang nggak jelas ini rupanya tidak hanya sampai di bimbingan belajar. Oleh semesta, saya diberi tantangan lain dan tampaknya menjadi perjalanan menuju klimaks. Suatu ketika, seorang teman menawari kesempatan menjadi pendamping kelas art di sebuah sekolah taman kanak-kanak. Saya dibawa ke persimpangan. Di satu sisi, saya tertarik. Di sisi lain, hantu takut menampakkan diri. Setelah menimbang-nimbang, saya pun menerima tawaran tersebut.


Saya tidak sendirian dalam menghandle kelas. Selain saya, ada dua orang lagi. Kami bertiga menemani anak-anak usia 4-6 tahun belajar art. Secara bergantian, kami bertiga memberi materi. Untung saja, saya sudah mengantongi pengalaman selama jadi volunteer sehingga tidak mengalami kesulitan berarti. Palingan kelas rame atau anak-anak mudah bosan lalu memilih bermain di luar aktivitas utama kelas.


Karena landasannya adalah fall in love, yang membuat jadi decide everything, saya suka hati melakukan segala kewajiban sebagai pendamping kelas art. Kali ini, saya ditemani notebook yang sudah jauh lebih baik lagi ketimbang Asus P453M. Sejak 3 Juli 2019, saya resmi memiliki ASUS VivoBook S14 S430UN dengan prosesor Intel Core i7.



Dibeli dengan harga 14 jutaan, seperti memiliki ultrabook yang bisa diajakin ngapa-ngapain: cepet banget turn on-nya, nggak berisik, batre tahan lama,  fast charging, sound Sonic Masternya bisa kenceng, kameranya clear untuk ukuran notebook, graphicnya ok, bisa dipake buat bikin video. Dan... dan... daaann, notebooknya ringan dan nggak makan tempat. Keren banget, kan! Dengan segala plus-plusnya ASUS VIVOBOOK S14 S430UN, mantap rasanya keluar duit banyak tapi sepadan-lah sama yang didapat.


ASUS VIVOBOOK S14 S430UN udah support hidup saya mulai dari urusan bikin rencana ajar, nulis buat media, ikutan kelas-kelas online, mendengarkan musik, bahkan tambah semangat ngeblog karena notebooknya udah support buat recehan sampai kerja berat.


Baru-baru ini ASUS VIVOBOOK S14 S430UN punya adik yang speknya tambah oke dibanding kakaknya. Adalah VivoBook S14 S433 yang udah release di pasaran sejak 8 Mei 2020 mengisi notebook kelas premium yang punya fitur-fitus unggul seperti

  • Intel Core 10th Gen Processor
  • Lebih hemat baterai
  • Teknologi Nano Edge Display
  • Layar mampu mereproduksi warna pada color space sRGB hingga 100%
  • Sudut pandang layar lebar hingga 178 derajat
  • Fingerprint yang telah terintegrasi dengan fitur Windows Hello pada Windows 10: memudahkan pengguna untuk login dan memasang foto pribadi untuk ikon login
  • Backlit keyboard
  • Audio Harman Kardon: seri sebelumnya menggunakan audio SonicMaster
  • Memiliki negative space alias ruang kosong di balik layarnya biar bisa nempel-nempelin stiker yang oh-so-you.



Nih, kalau pengen kenalan, pemanasan dulu menonton video berikut.







Mantaap kaaan? FYI, ketika VivoBook S14 S433 mulai dikenalkan di pasar Indonesia, saya sempat bercanda sama teman saya bahwa saya akan menjual notebook S430UN ku terus mau beli yang S433 hahaha. Selain speknya yang menggoda, pilihan warnanya pun menarik mata. Ada empat pilihan warna yang bisa dipilih sesuai kepribadian penggunanya, yakni



Lengkapnya, ini dia fitur canggih ASUS VIVOBOOK S14 S433





ASUS bener-bener serius ngajak pengguna VivoBook untuk Dare to be You melalui tindakan-tindakan praktis seperti

  1. Berani berinovasi
  2. Berani bermain dengan teknologi
  3. Berani berkompetisi karena yakin dengan kemampuan dan daya saing diri
  4. Berani mengeluarkan notebook dalam tempo yang rapat-rapat demi memenuhi kebutuhan konsumen
  5. Berani mengambil peluang

Tindakan-tindakan praktis yang dilakukan oleh ASUS membuat saya berefleksi bahwa saya tidak perlu takut dengan kesempatan dan tantangan hidup. Apa jadinya kalau saya terkurung dalam ketakutan? Tidak akan berkembang, tidak akan maju. Apalagi, saya sudah punya bekal berupa notebook ASUS yang sudah dimiliki sejak lama. Padahal, notebook ASUS saya ya sudah diperbarui. Yang tadinya pakai tipe P sekarang sudah ganti pakai Vivobook tipe S. Dan kelak, jika berjodoh dengan S433 ini, bukannya tidak mungkin partner bekerja dan berkarya bakalan diperbarui. Dan saya bisa milih varian yang sesuai dengan kepribadian dan passion saya.


So, dare to be you? Kalau masih takut, lihat tuh, yang dilakukan oleh ASUS. Lawan takutmu. Dare to be you!***

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.