Kurang lebih seminggu menuju Lebaran tahun 2026, aku kepengin makan nasi ayam langgananku. Nasi ayamnya, sekalipun harganya mahal, terlebih kalau order online, masih saja bikin nagih. Aku suka karakter bumbu pada ayamnya dannn... SAMBEL-nya!
Susunan menu ditetapkan: nasi, ayam original, sambal, lalapan, tempe tambah gembus goreng.
Sedikit cerita, selama tinggal di Jakarta, seingatku aku belum pernah ketemu masakan atau makanan yang pakai gembus, misalnya oseng-oseng gembus atau yang paling sederhana gembus digoreng pakai tepung seperti yang dibuat oleh tetanggaku.
Teringat waktu masih di Yogya, gorengan gembus (ada yang menyebut tempe gembus) jadi lauk sarapanku. Ibuku membelikan sarapan berupa nasi, telur kuning, sambal goreng krecek, bihun goreng serta gembus goreng. Lengkap! Mantap!
Cek di map aplikasi, driver sudah jalan untuk mengantar makanan. Kulihat rute antarnya, lha kok lewat jalan kampung. Aku arahkan saja lewat jalan raya saja trus masuk gang. Lebih mudah nemu rumahnya dan yang jelas gak usah belok-belok.
Makanan akan sampai tiga menit lagi menurut aplikasi. Aku salin baju yang proper lalu turun bersiap menyambut Driver. Pintu pagar kugeser tapi aku tetap berdiri di dekat pagar; tepatnya di antara pagar bukaan dan pagar geser.
Terlihat ada sepeda motor mendekat ke arah rumah kost. Aku berupaya menjangkau tiga huruf paling akhir plat nomor, tapi gagal. Jarak motor rupanya masih jauh untuk dibaca oleh mataku yang menua.
Makin dekat motornya, akhirnya platnya kelihatan. Plat nomor yang sama seperti yang terekam pada aplikasi; plat nomor yang menandakan motor itu terdaftar di wilayah administratif Jakarta Pusat.
Kulambaikan tangan, biar Driver melihat keberadaanku. Kuarahkan Driver agar mendekat kepadaku biar dia nggak perlu turun dari motornya. Ulurkan saja makanannya. Selesai. Driver menyebut namaku. "*****" ~sensor 😁
"Iya..."
"Maaf ya Kak, rame banget... Maaf..."
Kata maaf diulangnya... Kepalanya ikut menggeleng tanda tak habis pikir dengan keramaian di restoran tempat aku pesan makanan.
"Nggak apa-apa, Pak."
Driver melepas kresek berisi dus makananku dari setang motor sebelah kiri. Kresek, dengan isi tampak enteng itu, beralih ke tanganku.
"Makasih ya, Pak..."
Pelan, Driver memutar sepeda motornya ke kanan lalu pergi. Sambil menutup pintu pagar yang agak berat, kulirik motor yang digunakan Driver. Motor lama dengan beberapa bagian tak lagi sempurna.
Tidak perlu minta maaf lah, Pak. Di tengah isu sulitnya cari driver pengantar makanan di Jakarta, Bapak sudah sangat membantu. Waktu antarnya lumayan cepet; nggak nyampe 30 menit. Aku maklum banget kalau lama, karena masih jam buka puasa. Resto bakalan mengalami lonjakan order. Banyak yang pengin buka puasa dengan menu nasi-ayam-sambal sepertiku.
Meski tak lagi sempurna, kendaraan telah digunakan untuk membawa kebaikan malam itu. Semoga kesediaan dan keikhlasan Driver dibalas rezeki yang melimpah, demikian rapal doaku dalam langkah masuk dan menutup rapat pintu aluminium warna gelap itu.[]


0 comments:
Posting Komentar