Sabtu, 21 Maret 2026

Tua di Dapur



Pulang kerja, seperti biasa aku jalan kaki. Rute jalan kakiku melewati perkampungan padat penduduk khas Kota Jakarta; antarrumah berhimpitan, rumah berdiri di atas lahan minimalis, pintu utama langsung bertemu dengan jalan umum, rumah yang bersiasat dengan keterbatasan lahan dibuat bertingkat, hewan piaraan burung di dalam sangkar di muka rumah, mesin cuci ditaruh di luar rumah, dsb. 
 
Baru juga memasuki area perkampungan, mataku menangkap pemandangan seorang ibu tengah membuat kembang goyang. Kembang goyang menandakan hari sudah dekat dengan Lebaran. Dan kembang goyang lagi-lagi jadi identitas Kota Jakarta. Aku belum meneliti, apakah tradisi membuat kembang goyang ditemukan di daerah lain selain Jakarta.
 
Komen, dong, kalau ada yang tahu tradisi membuat kembang goyang. 
 
Ibu tersebut bikin kembang goyang di dalam rumahnya, tepatnya di area ruang tamu, yang berjarak sejengkal dari pintu utama rumahnya. Begitu serius dia dengan proyek kembang goyangnya sampai-sampai si ibu cuek dengan orang yang lewat di depan rumahnya. Entah, kembang goyang itu untuk konsumsi pribadi, dijual atau keduanya.
 
Lantas aku teringat dengan salah satu Mbah-ku. Mbah Tik namanya. Mbah Tik adalah sepupu Mbah-ku dari pihak ibu. Ada masanya, di rumahku tinggal mbah-mbah selain mbah kandungku. Hingga pada akhirnya satu per satu dari mereka "pergi", kembali kepada Sang Pencipta. Kemudian rumahku pun sepi...
 
Sebetulnya Mbah Tik tinggal di Jakarta bersama suaminya yang berasal dari satu tempat di Kebumen, Jawa Tengah. Daya tarik rumah di Yogya dan berkumpulnya keluarga besar jadi alasan Mbah Tik rajin mudik ke rumah Yogya. Kalau Mbah Tik ada di rumah, jaminan serumah kenyang oleh penganan yang dibuatnya. Buah karya Mbah Tik salah satunya adalah kembang goyang. 
 
Mbah Tik berkarya di dapur rumahku dengan peralatan seadanya. Peralatan seadaanya tak jadi soal bagi seorang yang pintar bebikinan seperti Mbah Tik. Satu hal yang dikeluhkan Mbah Tik kalau bikin kembang goyang ialah bikin, "Tua di Dapur," ujarnya. 
 
Bikin kembang goyang harus tahan berlama-lama di depan kompor: mencelup cetakan ke adonan, nyemplungin adonan yang sudah nempel di cetakan ke dalam wajan berisi minyak goreng panas, dan menunggu adonan kembang goyang matang sempurna hingga bisa diangkat dan ditiriskan.
 
Lupa-lupa-ingat, kayaknya waktu itu, Mbak Tik bikinnya sambil duduk di kursi kecil terbuat dari kayu. Yang jelas, kompornya pakai kompor minyak. Aku membayangkan Mbah Tik yang sudah berusia lanjut merasa pegal tangan, pinggang encok, kaki kesemutan menekuk terlalu lama. 
 
Itulah sebabnya, tiap kali melihat kembang goyang atau menjumpai orang bikin kembang goyang, aku langsung teringat ucapan Mbah Tik "tua di dapur". Kalau zaman segitu (sekitar tahun 90-an) sudah dikenal istilah "passion" maka passion-lah yang memasok energi ketika harus "tua di dapur". 
 
Mbah Tik, udah Lebaran, nih! Bikin kembang goyang di surga?[]

0 comments:

Posting Komentar